BerandaHits
Jumat, 6 Jan 2022 11:00

Kisah Tembakau dan Lantai Kayu di Ruang Tamu Rumah Jawa

Tembakau, hasil panen primadona bagi warga Demak di musim kemarau. (koran.tempo.co)

Ruang tamu di rumah-rumah tradisional Jawa biasanya luas. Namun, di Demak, khususnya di Karangawen dan Guntur, biasanya memakai lantai kayu dan punya kaitan erat dengan tembakau. Seperti apa ya kisahnya?

Inibaru.id – Rumah-rumah tradisional Jawa masih bisa kamu temukan di Kecamatan Karangawen dan Guntur di Kabupaten Demak. Rumah-rumah ini punya ciri khas; atapnya berbentuk kampung srotongan, turunan dari joglo dengan bumbungan atap yang lebih lebar. Selain itu, ada keunikan lain, yakni masih dipakainya lantai kayu di ruang tamu rumah Jawa tersebut.

Jangan kira rumah-rumah ini berukuran minimalis. Kebanyakan rumah ini berukuran sangat luas. Luas ruang tamunya bahkan bisa berukuran satu rumah berukuran kecil di kota-kota. Belum lagi dengan dapur alias senthong di belakang yang nggak kalah luas. Pokoknya, semua serba lega.

Sebenarnya, keberadaan atap kampung srotongan yang tinggi ini agak aneh jika memperhatikan kondisi cuaca di sana. Di Karangawen atau Guntur, setiap kali musim hujan, pasti ada saja kejadian hujan angin lebat yang bisa saja membuat genteng beterbangan.

Bentuk atap yang membumbung tinggi membuatnya mudah untuk dihantam angin yang berembus kencang, dan memaksa warga bertahan di teras rumah alih-alih di dalam rumah karena bersiaga agar bisa segera kabur andai terjadi hal-hal yang nggak diinginkan.

Balik lagi ke lantai kayu di ruang tamu rumah-rumah tradisional Jawa yang unik itu. Bentuknya mirip dengan rumah panggung, tapi dengan kolong di antara lantai dan tanah yang jauh lebih rendah dari rumah panggung yang bisa kamu temukan di Sumatera atau Kalimantan. Praktis, kolong itu nggak bisa kamu gunakan sebagai tempat penyimpanan apapun dan dibiarkan begitu saja.

Rumah tradisional khas Demak dengan atap tinggi dan banyak yang masih memakai lantai kayu dengan ruang tamu yang sangat luas. (Tambahpinter/pinterest)

Andai kamu menginjakkan kaki di lantai kayu itu, dipastikan terdengar derap langkah dengan suara kayu yang khas. Dijamin kamu sulit untuk mengendap-endap di sana. Ditambah lagi, kebanyakan warga setempat memasukkan sepeda motor di ruang tamu tersebut. Suara gemeretak kayu pun bakal berpadu dengan suara mesin yang menderu.

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, luas ruang tamu di rumah-rumah tradisional ini sangat luas. Saking luasnya, banyak anak yang belajar naik sepeda di dalam ruang tamu tersebut. Meski begitu, bukan itu tujuan utama dari pembuatan ruang tamu yang sangat luas ini. Semua disebabkan oleh hasil panen andalan di Karangawen dan Guntur; tembakau.

Berkarung-karung gabah yang jadi bahan makanan pokok nggak begitu banyak memakan tempat. Palawija juga biasanya lebih cepat terjual. Namun, khusus untuk tembakau, perlakuannya berbeda. Begitu dipanen, warga setempat harus mengolahnya menjadi tembakau kering yang sudah dirajang, dipotong kecil-kecil, dan ditempatkan dalam keranjang khusus sebelum dijual ke tengkulak yang membawanya ke pabrik-pabrik rokok di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Setiap kali musim panen tembakau tiba, di saat itulah fungsi ruang tamu dengan lantai kayu yang luas itu begitu terasa. Ada yang merajang tembakau hingga larut malam dengan alat yang hampir mirip guillotine. Ada yang bertugas menempatkannya di wadah bernama widik dari bambu yang datar dan berbentuk persegi panjang. Di wadah inilah, tembakau dengan aroma khas ini bakal dijemur keesokan harinya.

Jika tembakau sudah kering, maka bakal ditempatkan di sebuah keranjang besar yang terbuat dari kombinasi bambu dan pelepah pisang kering. Tembakau inilah yang kemudian bisa dijual dan ditempatkan di dalam truk-truk berukuran besar.

Alat rajang tembakau yang khas dan mirip guillotine. (infopublik.id)

Sayangnya, tembakau yang dulu jadi primadona karena harga jualnya yang sangat tinggi semakin menurun harganya. Menurut Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI), kondisi ini sudah dirasakan sejak 2015.

Di pergantian milenium, harga tembakau bisa saja mencapai lebih dari Rp 100 ribu per kilogram. Kini, rata-rata harganya di musim panen hanya Rp 40 ribu per kg. Bahkan, pada Senin (20/9/2021) lalu, tercatat hanya Rp 23 ribu per kg saja.

Kenaikan harga cukai rokok, larangan rokok ilegal, naiknya biaya tenaga kerja yang membantu panen dan pengolahan tembakau, hingga pandemi memang semakin memberatkan usaha para petani tembakau di Karangawen, Guntur, dan wilayah sekitarnya. Namun, mereka bakal kembali menanamnya, dan berharap pada musim kemarau selanjutnya, lantai kayu di ruang tamu yang sangat luas di rumah-rumah tradisional itu kembali harum dengan aroma tembakau seperti tahun-tahun sebelumnya.

Eh, kamu sudah pernah lihat rumah khas Demak ini secara langsung belum, Millens?(Bis/IB09/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Kelapa Kopyor Mahal Bukan Tanpa Alasan, Ini Fakta Menariknya

31 Jul 2026

Jemparingan, Seni Panahan Khas Mataram yang Mengajarkan Fokus dan Keteguhan Hati

1 Agu 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: