BerandaHits
Sabtu, 2 Jun 2023 15:56

Kerikil Tajam di Balik Izin Ekspor Pasir Laut

Membuka ekspor pasir laut tanpa pertimbangan matang hanya akan mendatangkan masalah baru. (via Kumparan)

Sebuah laporan memuat berbagai dampak serius yang diakibatkan penambangan pasir laut dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

Inibaru.id - Pemerintah berdalih membuka keran ekspor pasir laut untuk mengendalikan sedimentasi laut. Tapi apakah sudah siap menanggung dampak lingkungan yang diakibatkannya?

Inilah yang coba disuarakan Environmental Reporting Collective (ERC), Millens.

FYI, ERC adalah jaringan global jurnalis yang mendedikasikan kerjanya untuk menyelidiki kejahatan lingkungan. Mereka meluncurkan kolaborasi terbarunya berjudul "Beneath the Sands", sebuah laporan investigasi tentang dampak penambangan pasir pada lingkungan dan komunitas, terutama perempuan dan anak di seluruh dunia.

Sebagaimana kita tahu, isu penambangan pasir ini kembali mengemuka setelah Presiden Joko Widodo menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2023 tentang Pengelolaan Hasil Sedimentasi Laut pada akhir Mei lalu. Dengan adanya regulasi ini, pemerintah membuka kembali keran ekspor pasir laut yang sebelumnya dilarang sejak era Presiden Megawati Soekarnoputri.

Jadi, laporan ERC yang digarap selama setahun terakhir mengungkap dampak negatif penambangan pasir di 12 negara; dari Indonesia, Singapura, Kamboja, Vietnam, Thailand, Filipina, Tiongkok, Taiwan, India, Nepal, Sri Lanka, hingga Kenya.

Hal yang bisa diduga, dampak dari pengerukan pasir laut ini sangat serius. Penambangan pasir yang masif telah menyebabkan pulau-pulau kecil di Indonesia hilang dan merusak daerah penangkapan ikan di Taiwan, Filipina, dan Tiongkok.

Pengerukan pasir laut menyebabkan abrasi. (iStock)

Majalah Tempo juga menemukan bagaimana penambangan pasir laut oleh PT Logo Mas Utama di perairan utama Pulau Rupat dan Pulau Babi, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, memperparah kerusakan ekosistem pesisir serta abrasi. Duh!

Di Taiwan, aktivitas ilegal kapal pengeruk pasir laut asal Tiongkok disebut bertanggung jawab atas rusaknya daerah penangkapan ikan di Pulau Penghu. Akibatnya, tangkapan ikan nelayan setempat menurun drastis hingga hampir 90 persen.

Menurut keterangan Biro Pertanian dan Perikanan wilayah Penghu, tangkapan ikan di sana turun dari 346 metrik ton di 2018 menjadi hanya 160 metrik ton di 2021.

Dampak mengerikan juga menimpa Tiongkok. Kebijakan pemerintah yang melarang nelayan beroperasi di Danau Poyang demi mengambil ikan hanya bisa gigit jari lantaran alih tambang pasir di sana, daerah penangkapan ikan mereka rusak.

Di Filipina, aktivitas ilegal penambang pasir laut telah merusak pesisir di Ilocos Sur. Selain itu, nasib nelayan di sana juga nelangsa karena tangkapan ikan turun.

Melibatkan Mafia

ERC menyebut bisnis ekspor pasir laut ini melibatkan mafia global. (Shutterstock)

Tahukah kamu bahwa bisnis penambangan pasir di seluruh dunia melibatkan jaringan mafia? Tim ERC menemukan bahwa pengelolaannya bernilai miliaran dolar.

Parahnya, para mafia tambang pasir ini diduga terlibat dalam aktivitas yang mengancam keselamatan jurnalis, pegiat lingkungan, dan masyarakat sipil. Mereka nggak segan memenjarakan bahkan menghilangkan nyawa orang-orang yang vokal pada isu ini.

"Kami menemukan banyak kasus kriminal yang terkait aktor penambang pasir ini di Nepal, Filipina, Sri Lanka, Vietnam, sampai India," begitu bunyi tulisan pada artikel yang dimuat ERC.

Di Bihar, India, misalnya, mafia tambang pasir umumnya berasal dari kasta yang lebih tinggi. Mereka dengan paksa merampas tanah pertanian dari kasta yang lebih rendah. Aksi mereka terkadang melibatkan kontak senjata antara kelompok mafia yang berbeda.

Dampak Tambang Pasir pada Perempuan

Tim ERC juga menginvestigasi bagaimana penambangan pasir berdampak pada kelompok rentan, seperti kaum perempuan. Mereka mewawancarai perempuan-perempuan dari Kenya, Indonesia, Kamboja, dan India. Menurut mereka, penambangan pasir bukan hanya merusak rumah mereka, tapi juga lahan pertanian mereka dan mengancam ketahanan pangan.

"Di Indonesia, kami mewawancarai sekelompok ibu yang melawan perusahaan penambangan pasir di Pasar Seluma, Provinsi Bengkulu, dengan protes damai dan simbolik. Di sana, penambangan pasir laut oleh PT Flaminglevto Baktiabadi dituding mengancam ekosistem remis-kerang laut yang merupakan sumber pendapatan dan protein bagi masyarakat adat Serawai," lanjut ERC.

Nah, dari semua hasil investigasi itu, ada indikasi kuat bahwa penambangan pasir berdampak buruk pada lingkungan dan komunitas. Apalagi belum ada aturan atau badan global yang memonitor eksploitasi pasir, yang merupakan sumber daya kedua terbanyak yang digunakan setelah air.

ERC berharap temuan ini bisa menjadi rujukan bagi pembuat kebijakan di tingkat regional, nasional, dan global untuk membuat peraturan yang melindungi lingkungan dan kelompok rentan dari penambangan pasir yang merusak.

Pemerintah harus benar-benar pikir panjang sebelum kerusakan lingkungan bertambah parah gara-gara penambangan pasir laut ini. Setuju, Millens? (Siti Zumrokhatun/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: