BerandaHits
Rabu, 15 Agu 2023 19:26

Bagaimana Nasib Laksamana Maeda Setelah Indonesia Merdeka?

Rumah Laksamana Maeda dipakai sebagai tempat perumusan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia. (letgoddecidethejust.blogspot.jp)

Nama Laksamana Maeda selalu tertulis dalam buku sejarah karena rumahnya dipakai sebagai tempat perumusan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Mengingat dia adalah orang Jepang yang saat itu berstatus penjajah, bagaimana nasibnya ya setelah Indonesia merdeka?

Inibaru.id – Di semua buku sejarah Bahasa Indonesia yang menceritakan tentang hari-hari sebelum proklamasi kemerdekaan dikumandangkan, nama Laksamana Maeda pasti disebut. Maklum, di rumahnya yang ada di Jalan Meiji Dori (sekarang adalah Jalan Imam Bonjol Nomor 1), Soekarno, Hatta, dan sejumlah tokoh-tokoh lainnya mengadakan pertemuan yang berujung pada proklamasi kemerdekaan tersebut.

Dari namanya saja, kita sudah tahu kalau Laksamana Maeda adalah orang Jepang. Nama lengkapnya adalah Tadashi Maeda. Dia lahir pada 3 Maret 1898 di Kajiki, Kagoshima. Setelah masuk ke Akademi Angkatan Laut Jepang saat usianya baru 18 tahun, Maeda meniti karier di Angkatan Laut Jepang dengan cepat. Pada 1930, dia bahkan sudah mendapatkan pangkat letnan satu.

Pada periode 1932 sampai 1940-an, Maeda mendapatkan tugas khusus sebagai staf khusus untuk mendatangi negara-negara Eropa, termasuk Jerman, Britania Raya, hingga Belanda. Barulah pada Oktober 1940, Maeda ditugaskan ke Hindia Belanda untuk melakukan negosiasi perjanjian dagang dengan bangsa penjajah sekaligus membangun jaringan mata-mata di sini.

Sempat pulang ke Jepang pada 1941, Maeda kembali ke Nusantara, tepatnya Batavia pada Agustus 1942. Saat itu, Jepang memang sudah menguasai Indonesia. Pada Oktober 1944, Perdana Menteri Jepang kala itu, Kuniaki Koiso menjanjikan kemerdekaan bagi Indonesia. Maeda pun ditugaskan pemerintah Jepang untuk mendukung hal tersebut.

Salah satu cara yang dilakukan Maeda untuk melaksanakan tugas tersebut adalah membentuk Asrama Indonesia Merdeka pada Oktober 1944. Asrama ini diharapkan mampu melahirkan pemimpin-pemimpin yang bisa diandalkan untuk mengurus Indonesia setelah merdeka nantinya.

Dari sini, sudah mengerti kan mengapa seorang Jepang dengan pangkat tinggi kok bisa-bisanya malah mendukung kemerdekaan Indonesia yang saat itu dijajah Jepang, Millens? Yap, Maeda benar-benar melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya.

Tatkala Jepang luluh lantak oleh bom atom pada 6 dan 9 Agustus 1945, Panglima Tertinggi Jepang di Kawasan Asia Tenggara Marsekal Terauchi Masatake memanggil Soekarno, Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat untuk menemuinya di Dalat (kini Ho Chi Minh), Vietnam. Dalam pertemuan itu, Terauchi menjanjikan Indonesia akan merdeka pada 24 Agustus 1945.

Laksamana Maeda saat bertugas di Indonesia. (Promediateknologi)

Tapi, pada 15 Agustus 1945, kabar Jepang menyerah menyebar dengan cepat. Golongan pejuang muda seperti Sukarni serta Chaerul Saleh kemudian mengamankan Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok untuk mendorong mereka segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia sebelum tanggal yang dijanjikan Jepang. Keduanya kemudian setuju untuk melakukannya.

Sayangnya, pada hari yang sama, tepatnya pukul 22.00 WIB, saat Soekarno, Hatta, dan para pejuang lainnya kembali ke Jakarta untuk merencanakan proklamasi kemerdekaan di Hotel Des Indes, tempat tersebut sudah tutup. Untungnya, Laksamana Maeda mau menyediakan rumahnya sekaligus menjamin keamanan para pejuang ini untuk merumuskan naskah dan merencanakan seperti apa pembacaan proklamasi nantinya.

Sayangnya, setelah Indonesia merdeka, pasukan sekutu yang pengin Belanda kembali menjajah Indonesia melakukan sejumlah agresi militer. Laksamana Maeda sempat jadi korban aksi ini sampai dipenjara di Gang Tengah (Glodok). Dia baru dibebaskan pada 1947.

Setelah itu, Maeda memilih untuk pulang ke negaranya dan melepaskan jabatannya di Angkatan Laut Jepang. Meski sempat diadili oleh Pengadilan Militer Jepang karena dianggap membiarkan Indonesia merdeka sesuai dengan yang dijanjikan Jepang, dia diputus nggak bersalah.

Pada 1958, saat Sukarno berkunjung ke Jepang, dia kembali bertemu dengan Maeda. Keduanya dikabarkan tetap menjalin hubungan dekat meski jarang bertemu.

Selanjutnya pada 1973, karena dianggap berjasa besar dalam perencanaan proklamasi kemerdekaan, Maeda mendapatkan penghargaan Bintang Jasa Naraya dari pemerintah Indonesia. Rumahnya di Indonesia pun dijadikan Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Enam tahun kemudian, tepatnya pada usia 79 tahun, Laksamana Maeda meninggal dunia. Dia dikenang sebagai warga Jepang yang sangat berjasa dalam kemerdekaan Indonesia. Namanya pun tertulis dalam buku sejarah Indonesia, selamanya. (Arie Widodo/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Menjaga Napas Rawa Gambut yang Kian Rentan Terbakar

29 Okt 2026

Poke Wayang, Ketika Pikachu dan Wayang Kulit Bertemu dalam Satu Panggung

30 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

8 Tokoh Penting Kongres Pemuda II yang Lahirkan Sumpah Pemuda

28 Okt 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: