BerandaFoto Esai
Senin, 15 Jun 2025 09:40

Transformasi Lawang Sewu Semarang: Dulu Seram, Kini Ramah Event Keagamaan

Selain sebagai tempat wisata, Lawang Sewu Semarang kini juga acap digunakan sebagai venue untuk sejumlah event keagamaan.

Lawang Sewu Semarang kini telah melakukan transformasi besar. Jika sebelumnya terkenal dengan image seram, lokawisata sejarah ini sekarang kian justru akrab dengan pelbagai event keagamaan.

Inibaru.id - Perayaan Idulfitri lalu terasa spesial bagi Angling Adhitya Purbaya. Sebagai seorang jurnalis, melakoni Salat Id bersama keluarga adalah hal istimewa, mengingat lelaki 35 tahun itu biasanya justru harus meninggalkan keluarganya untuk meliput perhelatan itu di berbagai masjid besar di sekitar Semarang.

Namun, tahun ini Angling merasa beruntung karena Lawang Sewu mengadakan salad id berjemaah. Pagi-pagi betul, dia sudah mengajak istri dan anaknya untuk merasakan sensasi melaksanakan salat di lokawisata sejarah yang dulu sangat identik sebagai lokasi terseram di Kota Lunpia ini.

Seperti Angling, istri dan kedua anaknya merasa riang bukan kepalang. Pukul 05.30 WIB mereka telah tiba di Lawang Sewu untuk mengikuti salat. Selama di situ, sementara Angling sibuk reportase dan mengabadikan momen, istri dan anaknya bisa "berwisata" sejenak untuk mengelilingi gedung bersejarah di pusat kota ini.

"Ya, beginilah. Kerja dan ibadah harus beriringan," kelakar Angling sembari matanya nggak lepas dari lensa kamera.

Terlepas hari itu dia bertugas meliput atau tidak, Angling mengaku akan tetap mengajak keluarganya untuk salat id berjemaah di Lawang Sewu, karena menurutnya momen ini sangatlah bersejarah. Dia ingin menikmati pengalaman perdana itu bersama keluarganya.

"Biar bisa langsung bewisata juga. Lumayan buat hiburan istri dan anak-anak," ucap Angling. Sejurus kemudian, dia menyodorkan kamera kepada Inibaru.id untuk mengabadikan kebersamaannya bersama keluarga dengan latar Lawang Sewu.

Gebrakan Baru Lawang Sewu

KAI Wisata selaku pengelola Lawang Sewu sengaja membuat gebrakan baru tahun ini, yakni dengan menjadikan bangunan bersejarah itu sebagai venue untuk pelbagai event, termasuk kegiatan keagamaan. Ini merupakan bagian dari upaya pengelola untuk mengubah image seram pada bangunan kolonial itu.

Setelah banyak bersolek dan menjadi salah satu tempat wisata paling ikonik di Semarang, Lawang Sewu memang banyak membuat gebrakan. Sesudah membuat angkringan di teras Lawang Sewu, mereka kini menggelar berbagai event keagamaan, mulai dari peringatan Idulfitri, Kenaikan Yesus Kristus, hingga Iduladha.

Otnial Eko Pamiarso selaku Heritage Buliding Manager KAI Wisata menuturkan, KAI Wisata sebagai pengelola Lawang Sewu ingin ikut andil dalam misi Kota Semarang sebagai kota toleransi. Maka, dari situlah diputuskan, bangunan ini bakal sering-sering dijadikan sebagai venue untuk event keagamaan.

"Selain Idulfitri, pada 29 Mei 2025 lalu Lawang Sewu kembali menggelar event keagamaan, yakni peringatan Kenaikan Yesus Kristus untuk umat Kristiani. Ini dilakukan setelah kami sukses menggelar Salat Idulfitri berjemaah juga," kata dia, belum lama ini

Nggak hanya warga lokal, sejumlah event keagamaan di Lawang Sewu juga diikuti oleh masyarakat dari luar kota yang sengaja datang ke tempat tersebut. Selain beribadah, mereka datang sekaligus untuk berwisata bersama keluarganya.

"Idulfitri sukses. Ada 4.500 orang. Terus, untuk Kenaikan Yesus Kristus kami mengundang total 2.000 orang. Memang lebih sedikit dibanding Salat Ied karena ini pakai seat. Iduladha juga kami support," ujarnya.

Tahu karena Media Sosial

Maria Mintasih adalah salah seorang peserta yang mengikuti perayaan Kenaikan Yesus Kristus pada akhir Mei lalu. Dia mengaku mengikuti kegiatan itu sejak pagi hingga pujian terakhir sekitar pukul 08.00 WIB. Menututnya, Ibadah kali ini cukup berkesan.

"Tidak ada altar atau mimbar untuk pendeta berkhotbah, kami menghadap panggung berlatar bangunan Lawang Sewu, tapi ini tidak meluluhkan keteguhankami dalam mengantar Yesus Kristus naik ke surga.," ungkapnya seusai kegiatan tersebut.

Semua umat tampak khidmat mendengarkan khotbah dari Pendeta Yohanes S Praptowarso PhD. Tema yang diusung dalam ibadah Kenaikan Yesus Kristus tersebut adalah “Terhubung Erat dengan Sorga”, yang diambil dari Kisah Para Rasul 1:9–11.

Di tengah-tengah khotbah itu, para penari tamborin ikut mengiringi puji-pujian. Maria mengaku bersyukur bisa ikut serta dalam perayaan itu, karena baru kali ini dia beribadah di luar gereja, apalagi di Lawang Sewu. Sewaktu mendengar informasi dari anaknya tentang event ini, tanpa pikir panjang dia mengaku langsung setuju.

"Saya tahu dari media sosial. 'Ayo mah, kita besok di situ saja,' kata anak saya. Awalnya saya terkejut dengan agenda ini, tapi langsung mengiyakan untuk ke sini," lontarnya diikuti tawa renyah.

Usai melakukan ibadah, Maria menyempatkan diri berwisata di Lawang Sewu. Dia memasuki lorong demi lorong untuk membaca foto-foto dokumentasi dan berbagai literatur yang disediakan.

Menjadikan bangunan wisata sebagai venue untuk menggelar berbagai event keagamaan adalah ide yang menarik sekaligus menjadi pesan untuk dunia bahwa kita berhak melaksanakan kegiatan keagamaan di mana saja, asalkan nggak menyalahi aturan.

Kejelian pengelola Lawang Sewu untuk memfasilitasi berbagai kegiatan ibadah adalah langkah positif yang patut diapresiasi. Oya, selain event keagamaan, kemarin sempat digelar acara nonton bareng laga Timnas versus Tiongkok dan Jepang juga, lo.

Menurutmu, adakah event keagamaan atau momentum lain yang bisa digelar di Lawang Sewu Semarang ini, Millens? (Murjangkung/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Temuan Prasasti di Klaten Bukan yang Pertama, Diduga Terhubung dengan Dua Prasasti Era Kolonial

18 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: