Inibaru.id - Masjid Agung Sang Cipta Rasa di area Keraton Kasepuhan Kota Cirebon bukan sekadar bangunan untuk beribadah. Di balik dinding dan ornamen masjid molek itu, tersimpan kisah panjang tentang cinta, akulturasi budaya, dan filosofi kesetaraan yang menandai perjalanan Islam di pesisir utara Jawa.
Oya, sebelum diberi nama "Sang Cipta Rasa", masjid berdinding merah ini semula lebih dikenal sebagai Masjid Pakungwati; merujuk pada sosok perempuan yang memegang peran penting dalam sejarah Cirebon.
"Pakungwati adalah nama istri Sunan Gunung Jati dan juga anak dari Pangeran Walangsungsang," ucap Subhan Nur, pegiat sejarah dari Cirebon History dalam sebuah walking tour Jejak Masjid Kuno yang digelar Senin (23/3/2026).
Bukti tersebut, dia melanjutkan, masih bisa ditemukan di sisi kiri bangunan masjid berupa inskripsi kayu beraksara Arab Pegon yang bertuliskan "Masjid Pakungwati". Inskripsi itu juga memuat keterangan bulan pendirian.
"Penamaan ini menjadi bukti cinta Sunan Gunung Jati terhadap sang istri," terangnya.
Seiring berjalannya waktu, nama masjid berganti menjadi Sang Cipta Rasa, yang secara filosofis menggambarkan perpaduan cipta, rasa, dan karsa, sebagai jalan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Dalam inskripsi, Subhan mengatakan, nggak ada angka tahun yang tertera, sehingga muncul beberapa versi. Ada yang menyebut 1480, 1490, dan 1500.
"(Perbedaan versi) penyebutan angka tahun pendirian itu sama-sama menunjukkan pembangunan masjid, karena sejarah bersifat dinamis dan setiap sumber punya rujukan berbeda," tutur lelaki yang sehari-hari bekerja sebagai dosen di UIN Syekh Nurjati itu.
Akulturasi Berbagai Budaya
Masjid Sang Cipta Rasa nggak menonjolkan arsitektur khas Timur Tengah sebagaimana sebagian masjid besar di Jawa. Subhan menyebut, bangunan tersebut justru menampilkan akulturasi budaya Buddha, Hindu, Tionghoa, dan Sunda.
"Arsitektur akulturatif tersebut adalah gagasan Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga, dan seorang arsitek dari Majapahit bernama Raden Sepat," paparnya.
Titik paling kentara dari akulturasi budaya itu paling jelas terlihat di Ruang Imam, yang memadukan bunga teratai khas Buddha, medalion Tionghoa, dan relief matahari yang bercorak Majapahit-Hindu.
Nggak hanya itu, banyak pula medalion seri pedang dan oyot mimang menghiasi sudut-sudut tembok bangunan utama. Menurut Subhan, ornamen itu memiliki makna, bukan sekadar dekorasi.
"Medalion-medalion seni Tionghoa itu sebenarnya untuk tolak bala," tambah Subhan.
Kemudian, nggak jauh dari inskripsi Masjid Pakungwati, berdiri saka tatal atau tiang utama yang konon dirakit Sunan Kalijaga dari potongan-potongan kayu kecil menjadi satu struktur kokoh.
"Tiang ini sangat menarik. Sayang, keberatannya seringkali luput dari perhatian masyarakat," paparnya.
Kesetaraan Umat Muslim
Keunikan lainnya di Masjid Agung Sang Cipta Rasa ialah adanya sembilan pintu yang dibuat rendah menuju ruang utama, sehingga semua orang yang akan melewati pintu terebut harus menunduk, menegaskan prinsip kesetaraan bagi seluruh umat yang hendak beribadah.
"Pintu masuk yang dibuat pendek itu filosofinya agar kita tawadu, rendah hati, menanggalkan keegoan dan kesombongan di luar. Ketika menghadap Gusti Allah (salat) kita harus rendah hati," jelas Subhan.
Selain makna spiritual, pintu rendah ini juga memiliki fungsi praktis. Dahulu, desainnya menjadi bagian dari sistem keamanan untuk menghambat serangan, mengingat keluarga Keraton Kasepuhan dan Kanoman kerap menunaikan ibadah salat di masjid ini.
Di ruang utama Masjid Agung Sang Cipta Rasa juga terdapat ruang maksura yang dulunya khusus untuk dua keluarga keraton. Sekarang ruang tersebut bisa diakses masyarakat umum, menandai perubahan fungsi masjid menjadi lebih inklusif.
"Pada awal pembangunan sebelum ada karpet, di lantai masjid terdapat tiga keramik yang melambangkan Iman, Islam, dan Ihsan," tutup Subhan saat membeberkan sejarah panjang Masjid Agung Sang Cipta.
Begitulah sekelumit cerita tentang Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon yang bukan sekadar tempat ibadah. Karena setiap sudutnya menyimpan cerita, filosofi, dan akulturasi budaya yang membentuk identitasnya, Gez! (Sundara/E10)
