BerandaTradisinesia
Sabtu, 10 Jul 2020 20:30

Apa yang Membuat Mereka Kepincut pada Ajaran Teosofi?

Para anggota pelajar Teosofi di Sanggar Wijaya Kusuma. (Inibaru.id/ Audrian F)

Sepanjang ikut perkumpulan Teosofi Semarang, aku heran kenapa para jemaat begitu giat menjadi anggota. Aku ingin tahu bagaimana mereka bisa menjadi anggota Teosofi dan sumbangsih apa yang sudah diberikan Teosofi terhadap kehidupan mereka?<br>

Inibaru.id - Saat mengikuti perkumpulan Teosofi Semarang, dibanding informasi tentang Teosofi, hal yang bikin aku penasaran adalah alasan kenapa semua anggotanya menekuni khazanah ilmu ini. Sumbangsih apa yang telah Teosofi berikan ke dalam hidup mereka dan bagaimana awalnya mereka bisa menjadi anggota?

Selama perkumpulan, para jemaat senantiasa bersikap terbuka. Aku ngobrol banyak hal dengan mereka. Satu demi satu rasa penasaranku terjawab.

Aku harus berterima kasih pada Adi Suswoyo. Dia salah seorang jemaat yang saya ajak berbincang hari itu. Mau aku gambarkan seperti apa orang ini saat mengikuti perkumpulan? Dia berpeci hitam dan berpakaian rapi. Mirip seperti orang mau ke Masjid. Laki-laki 64 tahun ini punya kebiasaan berbicara dengan nada tinggi. Namun sebenarnya, apa yang disampaikannya lembut.

“Awalnya diajak teman. Setelah belajar saya jadi paham, bahwa kita tidak hidup sendiri. Atau bisa dibilang hanya bagian kecil dari alam semesta,” ujarnya pada Jumat (3/7/2020) di Sanggar Wijayakusuma.

Sanggar Wijaya Kusuma tempat berkumpulnya para pelajar Teosofi. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>

Saat pembahasan materi, Suswoyo sedikit berkomentar dengan argumen yang penuh logika. Sepengalamanku, biasanya bapak-bapak usia seperti ini sering melantunkan pemahaman tentang agama yang hanya berbasis percaya, tapi Suswoyo nggak.

Kemudian Yohanna Theresia Ina, kalau dia juga malah sekaligus sekretaris Persatuan Warga Theosopy Semarang (Perwatin). Ina sebagai penghubung saat aku hendak ikut perkumpulan. Dia juga bercerita tentang bagaimana dia bisa ikut Teosofi.

“Awalnya saya itu orang yang temperamen. Saya itu ikut Teosofi sudah sejak dari usia 20-an,” jelas Ina.

Ajaran Teosofi, lanjut Ina, bukan pemahaman yang tiba-tiba turun dari langit begitu saja. Tapi secara terstruktur dan logis. Itulah kenapa di usia muda dia terus tertarik bergabung ke Teosofi.

Bahkan, Ina sampai menjadi vegetarian. Oh, iya, satu yang unik, biasanya para pengikut Teosofi adalah vegetarian. Alasannya yaitu kalau manusia juga harus bersahabat dengan semua mahluk. Termasuk mineral, tanaman, dan binatang.

Yohana Theresia Ina sudah sejak muda ikut Theosofi. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>

Binatang merasakan kasih saat disayangi dan merasa sangat sakit ketika terluka. Maka dari itu, bagi yang sudah terketuk, hasilnya adalah menjadi vegetarian. Tapi sekali lagi, ini bukan keharusan.

Kemudian juga Muhammad Zazuli, dia juga menulis buku tentang sejarah agama, ketuhanan, dan astrologi. Teosofi merupakan salah satu lahan belajarnya. Saat kali pertama datang dia mengaku sering silang pendapat dengan jemaat lain.

“Awalnya kan khazanah saya belum luas. Saya sering beda pendapat. Tapi lambat laun jadi paham,” ujarnya.

Dengan profesi yang dia geluti, aku kira pantas saja kalau Zazuli betah mengikuti perkumpulan Teosofi. Sepanjang kumpul, Zazuli bahkan banyak menerangkan apa-apa saja tentang Teosofi.

Hadi Wiranu menjelaskan Teosofi dengan bijak. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>

“Teosofi memang tidak dikenalkan tapi merupakan panggilan dalam nurani masing-masing,” kali ini kata Hadi Wiranu seakan menengahi semua pembicaraan. Dia nggak banyak bicara dalam sesi kali ini, namun sekalinya bicara dia tampak tahu mana yang harus dijelaskan kepadaku yang awam ini.

Hadi kemudian menjabarkan maksud perkataannya. Artinya, kebanyakan orang yang ingin ikut Teosofi itu sebetulnya sedang tahap mencari. Mereka belum selesai terhadap keyakinannya, meskipun nggak pernah ada yang benar-benar selesai.

Tapi memang katanya begitulah Teosofi. Kamu nggak harus percaya. Kalaupun percaya keyakinan itu disahkan untuk pemikiran masing-masing, Millens. (Audrian F/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Kali Odo Semarang, Sungai yang Justru Deras saat Kemarau

7 Sep 2026

Hipdut, Perpaduan Hip-Hop dan Dangdut yang Dekat dengan Gen Z

8 Sep 2026

20 Kisah Perjuangan Bakal Diangkat Kemenbud ke Layar Lebar

9 Sep 2026

Jalan Pantura, Jalur Bersejarah yang Menjadi Urat Nadi Pulau Jawa

10 Sep 2026

Masuk Usia 17 Tahun, Warga Bakal Punya Rekening Berisi Rp50 Ribu

11 Sep 2026

First Look Film Animasi Timun Mas Dirilis, Bawa Dongeng Jawa ke Animasi Modern

12 Sep 2026

Mengulik Asal-usul Nama Pekalongan, dari Joko Bau hingga Naskah Sunda Kuno

14 Sep 2026

Purbaya Dicopot, Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru

15 Sep 2026

25.000 Tahun Lalu, Manusia Purba Sulawesi Redakan Sakit Gigi dengan Pinang

16 Sep 2026

Film Empat Musim Pertiwi Jadi Wakil Indonesia di Oscar 2027

17 Sep 2026

Giuseppe Garibaldi, Kapal Induk Pertama Indonesia Tiba di Tanjung Priok

18 Sep 2026

Gatot, Jajanan Gunungkidul yang Konon Berasal dari Gaplek “Gagal Total”

19 Sep 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: