Kata Sains Soal 'Kupu-kupu di Perut' Ketika Jatuh Cinta pada Ayang

Kata Sains Soal 'Kupu-kupu di Perut' Ketika Jatuh Cinta pada Ayang
Ketika jatuh cinta, orang cenderung merasakan sensasi kupu-kupu di perut. (via Grid)

Sangat wajar ketika jatuh cinta ada sensasi kupu-kupu di dalam perut. Yuk, simak penjelasan ilmiahnya kenapa ada "kupu-kupu" di dalam perutmu. 

Inibaru.id – Kamu setuju nggak kalau ketika sedang jatuh cinta, ada sensasi unik di perut? Sensasi itu biasa dikenal dengan istilah 'kupu-kupu di perut'.

Ya sudah pasti hal itu cuma sensasi. Faktanya, nggak ada kupu-kupu di dalam perut. Sensasi ini timbul karena adanya komponen kimia tubuh.

Kata Helen Fisher, antropolog biologi sekaligus pakar hubungan romantis, sensasi kupu-kupu di perut dapat disebabkan oleh peningkatan kadar zat norepinefrin pada seluruh sistem saraf pusat.

Norepinefrin berfungsi baik sebagai hormon maupun neurotransmitter (molekul penghantar pesan antar sel saraf). Zat ini dilepaskan sebagai respons terhadap stres dan ketertarikan. Karena itu, sensasi kupu-kupu di perut ini juga muncul saat merasa cemas, takut, atau merasakan adanya bahaya. Jadi, nggak melulu ketika kamu jatuh cinta.

Saat norepinefrin ini aktif, bakal timbul sensasi fisik lain seperti deg-degan, merasa lebih waspada, energik, hingga kehilangan nafsu makan.

Di samping itu, jangan lupakan peran dopamin yang merupakan “kawan” norepinefrin. Dopamin bikin kamu merasa bahagia dan termotivasi.

Zat norepinefrin yang aktif bikin kamu deg-degan. (Unsplash/ Katy Anne via Suara) 
Zat norepinefrin yang aktif bikin kamu deg-degan. (Unsplash/ Katy Anne via Suara) 

Hormon ini dilepaskan ketika kamu melakukan aktivitas yang menyenangkan, seperti menghabiskan waktu dengan pasangan.

"[Secara umum kedua zat ini] menghasilkan banyak reaksi fisik, di antaranya 'kupu-kupu', mulut kering, lutut lemah, gagap, dan respons lainnya," jelas Fisher, seperti dikutip dari Shape.

Eits, hal yang hampir sama juga disampaikan oleh para ahli dari Loyola University Health System, lo. Mereka menyebut, jatuh cinta mampu melibatkan tiga jenis zat kimia di dalam tubuh, yakni dopamin, adrenalin, dan norepinefrin.

Dopamin menciptakan rasa euforia, sementara adrenalin dan norepinefrin bertanggung jawab pada peningkatan degup jantung, kegelisahan, dan keseluruhan sensasi pengalaman cinta.

O ya, dari hasil pemindaian MRI, cinta mampu menerangi pusat kesenangan di otak. Saat jatuh cinta, aliran darah meningkat di area pusat kesenangan. Area ini merupakan area yang sama dengan bagian otak untuk perilaku obsesif-kompulsif.

"Ini mungkin menjelaskan mengapa kita berkonsentrasi lebih banyak pada pasangan daripada hal lain di selama tahap awal hubungan," kata Mary Lynn, salah satu direktur Loyola Sexual Wellness Clinic, dikutip dari Science Daily.

Apa kamu juga pernah merasakan sensasi kupu-kupu terperangkap di perut, Millens? (CNN/IB21/E07)