Soto Garing, Soto Tanpa Kuah yang Nggak Kalah Lezat

Soto Garing, Soto Tanpa Kuah yang Nggak Kalah Lezat
Soto garing khas Klaten. (jatengprov.go.id)

Namanya soto, pasti biasanya berkuah ya? Tapi, di Delanggu, Klaten, yang populer justru soto garing alias soto tanpa kuah. Hm, bikin penasaran ya dengan rasanya!

Inibaru.id – Soto sudah kadung dikenal sebagai hidangan berkuah. Apapun jenisnya di daerah-daerah di Indonesia, kuahnya bahkan dianggap sebagai kekuatan terbaik dari soto ini. Tapi, di Klaten, Jawa Tengah, ada soto garing alias soto tanpa kuah. Seperti apa sih soto yang sangat melawan arus ini?

Kalau kamu pengin mencicipi soto garing ini, coba deh mampir ke Kecamatan Delanggu. Salah satu pionir soto garing adalah Warung Soto Bu Yati. Kamu bisa menemukan warung ini di dekat Pasar Tradisional Delanggu, tepatnya di Dusun Jogosatron, Desa Sabrang. Sebagaimana namanya, ‘garing’ yang berarti kering dalam Bahasa Jawa, soto ini memang disajikan tanpa kuah. Isiannya, sama kok dengan soto pada umumnya.

Sang pemilik warung, Sudiman, mengaku sudah menjual soto garing sejak 1973. Saking legendarisnya soto ini, pelanggannya nggak hanya dari wilayah Klaten, melainkan dari luar kota seperti Yogyakarta, Jakarta, hingga Surabaya.

Menariknya, laki-laki berusia 72 tahun ini sebenarnya juga menyediakan soto lengkap dengan kuah yang disajikan terpisah di atas piring. Tapi, tetap saja karena tempat makannya sudah kadung populer berkat soto garing, yang paling laris tentu adalah menu ini.

Lantas, seperti apa ya rasa soto garing ini? Bahannya berupa nasi yang diberi tambahan topping tauge, seledri, dan suwiran ayam jawa. Menariknya, meski namanya ‘garing’, sebenarnya nasi dan lauk itu basah karena disiram kecap asin dan sedikit kuah kaldu kekuningan yang dibuat dari daging ayam dan daging sapi.

Soto garing populer di Delanggu, Klaten. (resepsotong.web.app)
Soto garing populer di Delanggu, Klaten. (resepsotong.web.app)

“Kecap asin dan kuah kaldu sebenarnya juga bagian dari bumbu soto garing ini. Saya gunakan kecap asin tertentu, sempat saya ganti justru diprotes pelanggan. Jadi kecap asin dan kuah kaldu ini menjadi kuncinya,” cerita Sudiman, (11/2/2022).

Dia pun menceritakan bagaimana awal mula soto garing miliknya jadi populer. Jadi, pada 1980-an, banyak pekerja pabrik karung di Delanggu yang sarapan di tempatnya. Kala itu, dia mampu menghabiskan nasi 100 kg dan babat 25 kg dalam sehari. Kini, pelanggannya mulai bergeser jadi masyarakat biasa dan wisatawan.

“Kalau saat ini, 100 porsi (habis) dalam sehari,” jelas Sudiman.

O ya, kalau kamu pengin makan di sana, pastikan datang di waktu yang pas karena warungnya baru buka pukul 05.00 sampai 14.00 WIB. Satu porsi soto garing harganya sangat murah, yaitu Rp 6 ribu. Kalau pengin nambah lauk seperti jeroan sapi, tinggal bayar Rp 4.500. Sementara itu, harga gorengannya bervariasi dari Rp 500 sampai Rp. 1000.

Duh, jadi makin penasaran mencicipi nikmatnya soto garing, ya? (Rad/IB09/E05)