Juru Selamat dari Rusia Vasili Arkhipov, Tanpanya Mungkin Kita Sudah Tiada 

Juru Selamat dari Rusia Vasili Arkhipov, Tanpanya Mungkin Kita Sudah Tiada 
Vasili Arkhipov, pencegah Perang Dunia III yang berpotensi memicu kiamat. (thevintagenews)

Namanya mungkin sudah dilupakan banyak orang. Namun, Vasili Arkhipov adalah pahlawan yang menyelamatkan milyaran orang. Keputusannya mencegah perang nuklir yang bisa saja memicu kiamat.

Inibaru.id – Sebuah kiamat seharusnya terjadi pada 27 Oktober 1962, yang kemungkinan bakal meluluhlantakkan manusia dan peradabannya. Namun, bencana mahadasyat tersebut batal terjadi berkat seorang "juru selamat" asal Rusia. Namanya Vasili Arkhipov.

Tanda-tanda “kiamat” sejatinya telah muncul di tengah perang dingin antara Blok Barat atau Dunia Kapitalis yang dipimpin AS dan NATO dengan Blok Timur atau Dunia Komunis yang disponsori Uni Soviet dan Pakta Warsawa. Ketegangan politik dan militer itu telah berlangsung sejak 1947.

Perang Dingin mencapai puncaknya pada 1962 dengan munculnya Krisis Rudal Kuba. Krisis ini dipicu oleh serangan ke Teluk Babi yang masuk wilayah Kuba, sebuah negara komunis. Kendati gagal, serangan yang disponsori AS itu segera memicu kemarahan Soviet dan Kuba.

Kepada Presiden AS John F Kennedy, Perdana Menteri Soviet Nikita Khruschev pada September 1962 bahkan menyatakan, serangan berikutnya kepada Kuba bakal dinilai sebagai tindakan perang. Soviet juga menempatkan rudal-rudal berukuran sedang yang dilengkapi dengan hulu ledak nuklir di Kuba.

Pada 22 Oktober, AS menuntut Soviet untuk menarik rudal-rudalnya atau AS akan menyerang Kuba. Maka, saat itulah Krisis Rudal Kuba dimulai. Negosiasi berjalan alot. Kapal perang AS mengepung Kuba, sedangkan pesawat pengebom sudah bersiap di Florida. Satu saja kesalahan, Perang Dunia berulang.

Sang Juru Selamat

Kapal Selam Soviet B-59. (Matamatapolitik)
Kapal Selam Soviet B-59. (Matamatapolitik)

Di tengah ketegangan Krisis Rudal Kuba, empat kapal selam Soviet diam-diam sudah memasuki wilayah Kuba. Dekat sekali dengan AS. Salah satu kapal selam itu adalah B-59 yang dinaiki Vasili Arkhipov.

Nahas, AS mengetahui informasi terkait kapal selam tersebut dan berusaha mencarinya dengan mengerahkan armada mereka. Agar nggak ketahuan, ke-4 kapal selam yang seharusnya muncul di permukaan secara berkala pun terpaksa tetap berada di bawah air.

Sepekan di dalam air, kadar oksigen di kapal selam pun kian menipis, sedangkan suhu di dalam kapal mencapai 60 derajat Celsius. Sementara, granat-granat peringatan dari AS telah dijatuhkan ke perairan. Para kru yang terdesak harus bertahan, salah satunya dengan hanya boleh minum segelas air sehari.

Merasa diserang dan terdesak, Kapten Kapal B-59 Valentin Savitsky pun meminta para krunya untuk menyiapkan torpedo nuklirnya. Andai perintah ini dituruti, hampir dipastikan Perang Dunia ke-3 bakal pecah dan sebuah kiamat tercipta.

Namun, umat manusia beruntung karena memiliki Vasili Arkhipov, komandan armada "flotilla" kapal selam tersebut. Dia menolak permintaan Savitsky untuk menekan tombol peluncuran torpedo. Tanpa persetujuannya, yang merupakan satu dari tiga petinggi di flotilla itu, serangan nggak bisa dilakukan.

Dianggap Pecundang

Vasili Arkhipov muda. (Wikimedia)
Vasili Arkhipov muda. (Wikimedia)

Hingga kini Perang Dunia ke-3 nggak pernah terjadi. Kapal-kapal Soviet nggak pernah meluncurkan torpedonya, bahkan bisa pulang kandang dengan selamat. Pada 28 Oktober, Khruschev bersedia memindahkan nuklirnya asalkan AS berjanji nggak menyerbu Kuba. 

Bagi umat manusia, Vasili Arkhipov adalah sang juru selamat. Namun, pemerintah dan militer Soviet justru menganggap peristiwa yang terjadi pada 27 Oktober itu sebagai langkah pengecut dan mereka dianggap pecundang.

Pasca-keberhasilan-yang-dianggap-gagal itu, para kru kapal selam B-59, B-4, B-36, dan B-130 pun mendapatkan perlakuan yang cukup buruk. Sang istri, Olga Arkhipova, bahkan enggan menceritakan peristiwa dramatis tersebut. Namun, dia mengaku bangga.

“Orang-orang Kuba menyebut Vasili Arkhipov sebagai pencegah perang nuklir. Saya bangga!” tegas Olga dalam sebuah wawancara.

Vasili Arkiphov meninggal pada 19 Agustus 1998. Radiasi akibat kecelakaan kapal selam K-19 yang menimpanya pada Juli 1961 ditengarai berkontribusi terhadap kanker ginjal yang menyebabkan kematiannya pada usia 72 tahun.

Kita tentu tahu seberapa besar bahaya yang bisa tercipta dari perang nuklir yang nyaris pecah di Kuba. Jika ini terjadi dan andai Vasili Arkiphov saat itu mengiyakan peluncuran torpedo, mungkin bumi yang kita injak sekarang nggak akan seindah ini. (Kom/IB09/E03)