Derita Anak Nyai, Darah Campuran yang Jadi Orang Buangan

Derita Anak Nyai, Darah Campuran yang Jadi Orang Buangan
Foto Roebiam dan kedua anaknya pada 1920. (Sejarah Jakarta)

Meskipun lahir dari ayah seorang berkebangsaan Eropa dan ibu yang berasal dari pribumi, bukan berarti nasib anak pada zaman kolonial tersebut istimewa. Nyatanya, nasib mereka justru malang. Mereka mengalami diskriminasi dan nggak diterima masyarakat.

Inibaru.id - Pada saat VOC berkuasa di Tanah Air, praktik pergundikan tumbuh subur. Betewe, kalau kamu masih nggak tahu dengan definisi pergundikan, artinya adalah praktik perkawinan nggak sah yang terjadi antara perempuan pribumi dengan orang Eropa, khususnya Belanda.

Meskipun nggak sah, para gundik itu bukanlah pelacur karena mereka tidak menjual diri demi uang kepada setiap laki-laki yang menginginkannya. Mereka sebenarnya menjalankan kehidupan rumah tangga dengan suaminya sebagaimana orang-orang yang menikah pada umumnya.

Banyak istilah untuk menyebut para gundik pada masa itu. Yang paling populer adalah 'nyai'. Istilah nyai atau nyahi berasal dari Bahasa Bali yang artinya adik perempuan atau perempuan muda. Sebutan nyai juga digunakan dalam wilayah Sunda yang berarti perempuan dewasa.

Pada masa Hindia Belanda, tepatnya saat praktik pergundikan cukup sering terjadi, istilah nyai pun punya konotasi yang cukup luas dari gundik, selir, atau wanita simpanan para pejabat dan serdadu Belanda.

Sebagaimana istri pada umumnya, para gundik ini memberikan keturunan bagi suami kulit putih mereka. Anak-anak yang dilahirkan dari hubungan pergundikan disebut sebagai voorkinderen. Jika pada masa sekarang anak dari ras campuran ini dianggap istimewa, pada masa itu, mereka justru masuk dalam orang-orang yang didiskriminasi dan nggak diterima baik itu dari kalangan Belanda ataupun pribumi.

Potret keluarga Van der Velden bersama Nyai dan putrinya. (Nationalgeographic)
Potret keluarga Van der Velden bersama Nyai dan putrinya. (Nationalgeographic)

Bagi orang-orang Belanda, anak-anak hasil pergundikan ini dianggap menurunkan prestise orang kulit putih. Apalagi, saat itu, orang kulit putih merasa orang-orang pribumi ada di kelas yang lebih rendah dari mereka.

Keberadaan mereka bahkan sampai membuat VOC mengeluarkan aturan pada 1715. Dalam aturan tersebut, tercantum larangan mengangkat keturunan campuran menjadi pegawai VOC. Apalagi bila masih tersedia orang kulit putih yang berpotensi. Dalam pengumumannya, VOC menekankan bahwa orang Eropa tulen harus diterima bekerja dengan berbagai cara dan lebih diutamakan dibanding anak-anak Indo-Eropa.

Diskriminasi pada anak-anak Indo-Eropa terus berlanjut ketika kekuasaan dipegang langsung pemerintah Belanda. Mereka nggak bakal dengan mudah mendapatkan pekerjaan yang setara dengan orang-orang kulit putih tulen.

Bahkan, catatan pada 1839 mengungkap bahwa anak-anak yang lahir dari hubungan lelaki Eropa dan perempuan pribumi dipastikan kehilangan hak istimewa untuk mengenyam pendidikan Eropa, khususnya di Royal Academy Delft, Belanda. Padahal, pemerintah Belanda hanya mengangkat orang-orang lulusan Royal Academy untuk menjadi pejabat eselon.

Departemen dalam negeri Hindia-Belanda di Jawa dan Madura juga tidak menerima anak-anak ini. Pemerintah nggak pengin penduduk negeri jajahan berhadapan dengan anak-anak yang lahir dari hubungan ilegal, apalagi duduk di pemerintahan. Menurut pemerintah kolonial, kehadiran mereka dalam tubuh pemerintahan hanya mencoreng citra Belanda sebagai negara beradab.

Pada akhirnya, kebanyakan anak-anak Indo-Eropa yang tidak beruntung ini menjadi tukang, penjahit, petugas telegra,, tukang pos, mekanik, dan petugas pengukuran kadaster.

Beda banget ya nasib anak keturunan Eropa pada zaman dahulu dan zaman sekarang, Millens(His/IB32/E07)