'Melawan' Pasar Daring, Pusat Perbelanjaan Kembali Tebar Umpan

'Melawan' Pasar Daring, Pusat Perbelanjaan Kembali Tebar Umpan
Pengelola mal akan memperhatikan pelayanan dan kenyamanan pengunjung. (Inibaru/Triawanda Tirta Aditya)

Sejak pandemi, mal dan pusat perbelanjaan sepi pengunjung. Kini pengelola mal akan meningkatkan pelayanan agar bisa menarik kembali pengunjungnya. 

Inibaru.id - Dua tahun dibekap pandemi Covid-19 menuntut kita untuk bisa beradaptasi dengan keadaan. Sempat ada anjuran untuk sebisa mungkin melakukan aktivitas di rumah saja, kita pada akhirnya menemukan cara untuk bertahan. Salah satunya adalah soal cara berbelanja.

Dahulu, berbelanja identik dengan datang ke toko, medorong troli, membayar dengan uang tunai, dan membawa tas belanjaan ke rumah. Kini, membeli barang bisa kita lakukan hanya dengan rebahan di kasur.

Sebagian orang bilang kemudahan berbelanja ini sebagai berkah pandemi. Namun, tahukah kamu, ada beberapa pihak yang merugi karena semakin banyaknya orang berbelanja via daring. Mereka adalah orang-orang yang bekerja di tempat perbelanjaan seperti mal.

Ya, meski ancaman virus corona sudah nggak semengerikan dulu dan perekonomian perlahan pulih, banyak orang malah keterusan belanja hanya dengan ponsel di tangan.

“Pandemi membuat sebagian masyarakat beralih berbelanja secara daring di marketplace. Berdasarkan catatan APPBI, diperkirakan 20 persen masyarakat Indonesia saat ini memilih tetap berbelanja daring kendati semakin banyak mal yang kapasitasnya telah dibuka 100 persen,” terang Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja pada Senin (25/7/2022).

Menurut Alphonzus, 20 persen masyarakat tersebut adalah mereka yang menganggap mal dan pusat perbelanjaan sekadar tempat membeli barang. Itulah kenapa keberadaan mal bisa digantikan dengan toko daring.

Mal Miliki Fungsi Lain

Ilustrasi: Selain untuk membeli barang, orang datang ke mal untuk berjalan-jalan. (Inibaru/Triawanda Tirta Aditya)
Ilustrasi: Selain untuk membeli barang, orang datang ke mal untuk berjalan-jalan. (Inibaru/Triawanda Tirta Aditya)

Padahal, saat orang mengunjungi mal, ada banyak hal lain yang bisa dilakukan. Coba ingat-ingat, selain membeli barang, untuk apa lagi kamu datang ke mal, Millens?

Ya, di mal kita bisa menonton bioskop, berkencan, mengajak keluarga berkumpul, bermain, atau sekadar makan. Pengalaman seperti itulah yang sejak pandemi Covid 19 hilang.

“Mal dan pusat perbelanjaan juga memiliki fungsi lain, yaitu tempat untuk mencari hiburan, rekreasi, dan sebagainya. Karena itulah tugas pengelola mal dan pusat perbelanjaan saat ini untuk berinovasi meningkatkan experience dan journey pengunjung,” ujarnya.

Agar ada pengalaman yang berkesan pada setiap pengunjung mal, sudah pasti pengelola harus memberikan pelayanan yang baik serta kenyamanan berbelanja yang nggak didapat saat berbelanja daring.

“Di mal itu pengunjung melakukan shopping, bukan sekadar buying things. Aktivitas shopping itu harus dirancang agar memberikan pengalaman yang menyenangkan,” jelas Alphonzus.

Nah, menurut kamu, mampukah mal dan pusat perbelanjaan di Indonesia kembali bangkit dan manarik kembali pengunjungnya? Kita lihat saja, ya! (Medcom/IB20/E03)