Latah 'Citayam Fashion Week' di Daerah dan Klaim Lahirnya Harajuku Indonesia

Latah 'Citayam Fashion Week' di Daerah dan Klaim Lahirnya Harajuku Indonesia
Citayam Fashion Week mulai banyak diadopsi di banyak daerah di Indonesia. (Sindonews/Yulianto)

Sejumlah daerah ikut-ikutan menggelar 'Citayam Fashion Week'-nya sendiri. Latah tren ini pun dikritik banyak pihak karena dianggap tidak akan bertahan lama. 

Inibaru.id – Tren Citayam Fashion Week muncul seperti oase menyegarkan di tengah isu-isu yang biasanya bikin warga Indonesia merasa terlahir di negara yang salah. Tren ini seperti "berhasil" menutupi masih belum beresnya harga minyak goreng, bahan makanan, dan Bahan Bakar Minyak (BBM). Keberadaan tren ini pun disambut semua kalangan, mulai kalangan ekonomi rendah, hingga mereka yang berasal dari kelas atas dan para selebritas.

Kawasan Sudirman yang dilengkapi dengan sarana transportasi umum dan area pedestrian yang nyaman memungkinkan siapa saja berkumpul dan mengekspresikan diri. Di sana, kelas sosial seperti melebur. 

Kamu bisa saja datang dengan style pakaian terbaikmu, membawa pakaian adat tradisional dari daerah yang kamu banggakan, hingga memakai kostum anime, tokoh pewayangan, superhero, atau game favoritmu. Kamu bisa memakai kostum hantu, atau membawa hewan peliharaan kesayanganmu. Kamu juga bisa datang hanya dengan membawa kamera atau sekadar ingin melihat-lihat. 

Saking serunya Citayam Fashion Week, sejumlah daerah mulai mengadopsi fashion week-nya sendiri. Di Bandung yang sejak dulu dikenal sebagai pusat fesyen Tanah Air, muncul Braga Fashion Week. Memang, acara yang digelar di Jalan Asia Afrika yang ikonik ini diinisiasi oleh jenama baju lokal. Tapi, tetap saja acara ini sukses mengundang anak muda untuk ikut-ikutan mengekspresikan diri di catwalk jalanan Bandung.

Sementara itu, pada Sabtu (23/7/2022) lalu di Yogyakarta, diadakan Hamzah Batik Fashion Street atau Malioboro Fashion Week. Beda dengan konsep Citayam Fashion Week dan Braga Fashion Week yang cenderung memamerkan busana modern, acara ini lebih menonjolkan kostum-kostum tradisional seperti kostum wayang. Wajar mengingat Yogyakarta selama ini identik dengan tradisi Jawa yang kuat.

Latah Citayam Fashion Week di daerah. Diprediksi banyak orang hanya bakal jadi tren sesaat. (Suaramerdeka/Maulana Fahmi)
Latah Citayam Fashion Week di daerah. Diprediksi banyak orang hanya bakal jadi tren sesaat. (Suaramerdeka/Maulana Fahmi)

Menawarkan Beragam Keuntungan

Sebagaimana acara-acara keramaian pada umumnya, fashion week ini tentu bisa memberikan berkah bagi para pedagang makanan dan minuman dan para tukang parkir. Mereka bisa meraup untung lebih besar dari biasanya.

Sementara itu, bagi mereka yang ikut mengekspresikan diri, keuntungan yang didapat bisa bermacam-macam. Lebih dari sekadar mempelajari tren-tren terbaru, mereka juga bisa membentuk komunitas dengan orang-orang yang punya selera sama. Bahkan, ada kabar kalau banyak pemandu bakat yang sengaja mencari calon model di tempat tersebut.

Tapi, sebagaimana tren-tren yang muncul pada umumnya di Indonesia, banyak yang memprediksi tren latah Citayam Fashion Week ini hanya berlangsung sesaat, persis seperti tren tanaman hias, batu akik, dan lain-lain. Hebohnya tren ini dianggap lebih dipengaruhi oleh banyaknya orang yang FOMO alias nggak pengin ketinggalan tren demi bisa ikut-ikutan mengunggahnya di media sosial. Setelah puas, mereka pun lambat laun meninggalkannya.

Butuh Public Space

Selain itu, di Indonesia belum banyak public space yang nyaman digunakan masyarakat untuk melakukan kegiatan komunal seperti kawasan Sudirman di Jakarta, Malioboro di Yogyakarta, atau Kota Lama di Semarang. Padahal, keberadaan public space yang memungkinkan semua lapisan masyarakat datang, berkumpul, dan mengekspresikan diri menjadi syarat mutlak bagi masyarakat untuk secara alami membuat acara fesyen jalanan.

Jadi, jika ada pertanyaan apakah tren ini hanya akan berlangsung sesaat atau bisa berkembang sebagaimana Harajuku di Jepang, jawabannya bisa ya dan tidak. Jika pemerintah pusat atau daerah bisa menyediakan public space, apalagi yang mudah diakses transportasi umum, bisa jadi tren ini bakal terus berkembang. Apalagi jika pelaku fesyen nasional, termasuk dari kalangan atas mau ikut berkontribusi pada fesyen jalanan ini.

Jika dukungan tersebut tidak ada, jangan kaget jika dalam beberapa tahun ke depan, tren ini pun akan menguap dan tergantikan dengan tren-tren lainnya. (Arie Widodo/E10)