Inibaru.id – Millens, kamu pernah dengar tradisi pernikahan Cio Tau? Yap, tradisi yang terdengar asing tersebut memang semakin jarang dilakukan sekarang ini.
Upacara pernikahan Cio Tau ini berasal dari daerah Tangerang, Banten. Tepatnya, upacara tersebut biasa dilakukan oleh suku Tionghoa Benteng yang merupakan masyarakat asli di wilayah Tangerang.
Ada banyak prosesi sakral dalam tradisi Cio Tau. Seperti ditulis BudayaJawa.id, mula-mula pasangan pengantin diharuskan untuk melakukan sembahyang di meja samkai sebagai simbol penghormatan kepada leluhur. Kemudian, orangtua dari kedua mempelai melakukan penyalaan lilin besar sebagai simbol memberi penerangan kepada anak-anaknya sebelum menikah.
Tradisi pernikahan Cio Tau. (Youtube.com)
Setelah itu, pasangan pengantin melakukan sembahyang di tempat penghormatan kepada Thien atau Tuhan, Cap Kun Kong atau dewa dapur, dan altar leluhur yang sudah meninggal.
Khusus sembahyang kepada leluhur, pegantin harus melakukannya di kursi. Hal ini ditujukan untuk melakukan penghormatan terhadap budaya.
Ada banyak perlengkapan dalam Cio Tau. Mulai dari gantang, buku tungsu, sisir, timbangan, gunting, cermin, pedang, meteran, dan juga sumpit. Semua benda tersebut punya simbol dan makna yang besar bagi kehidupan pernikahan pengantin di kemudian hari.
Selain melakukan sembahyang, pada upacara pernikahan Cio Tau ini dilakukan makan 12 mangkuk. Kegiatan makan 12 mangkuk ini diawali oleh pengantin laki-laki baru diikuti oleh pengantin perempuan. Hal ini menyimbolkan bahwa seorang istri harus menunggu suami pulang terlebih dahulu sebelum makan.
Setelah itu, orang tua dari masing-masing pengantin menyuapi pengantin dengan nasi yang dimasukkan ke dalam air gula. Hal ini untuk mengingatkan sang pengantin akan jasa orangtuanya yang merawatnya dari kecil hingga dewasa.
Selain itu, ada pula prosesi penyisiran rambut sang pengantin oleh adiknya. Prosesi ini dilakukan untuk mengingatkan pengantin bahwa setiap permasalahan pasti dapat dipecahkan bersama.
Tradisi pernikahan Cio Tau. (Youtube.com)
Setelah prosesi penyisiran rambut, semua anggota keluarga berkumpul di depan altar leluhur untuk memberikan uang pelita. Uang ini dianggap sebagai perbekalan bagi pasangan pengantin dalam mengarungi kehidupan rumah tangga.
Hal unik yang ada dalam prosesi pemberian uang pelita ini adalah uang yang diberikan nggak dimasukkan ke dalam amplop. Hal itu menyimbolkan bahwa dalam kehidupan rumah tangga antara pasangan suami istri harus ada keterbukaan soal keuangan.
Menarik banget ya, Millens. Semoga tetap lestari. (IB06/E05)