Kala Kotoran Sapi Mampu Membuat Dapur Warga Wonokerso Terus Mengepul

Kala Kotoran Sapi Mampu Membuat Dapur Warga Wonokerso Terus Mengepul
Kotoran sapi dijadikan biogas untuk bahan bakar kompor. (AyoSemarang/Dok Desa Wonokerso)

Kotoran sapi yang biasanya hanya dijadikan pupuk diolah warga Desa Wonokerso, Batang menjadi biogas, bahan bakar alternatif untuk kompor gas. Gimana cara mereka melakukannya ya?

Inibaru.id – Kotoran sapi seringkali hanya dianggap sebagai pupuk kandang untuk pertanian. Aromanya yang kuat pun membuatnya kerap ditempatkan jauh dari rumah. Tapi, bagi warga Desa Wonokerso, Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, keberadaan kotoran sapi justru bisa membantu dapur rumah mereka terus mengepul.

Warga Desa Wonokerso mengolah kotoran sapi menjadi biogas. Biogas ini kemudian dijadikan sebagai  energi gas alternatif yang disalurkan ke kompor untuk memasak. Lantas, dari mana sih ide ini berawal?

Kalau menurut cerita sang Kepala Desa Muhamidin, awalnya dia meminta bantuan ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah untuk kelompok ternak sapi di desanya. Namun, alih-alih beroleh bantuan, dia justru ditawari hal lain, yaitu program biogas.

Laki-laki berusia 51 tahun ini sempat nggak yakin tawaran dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng ini bisa diterima warga. Terlebih, kala itu sempat terjadi penolakan dari para peternak. Namun, rupanya perlahan ide ini bisa diterima masyarakat.

“Awalnya ada penolakan warga, khususnya yang mempunyai ternak sapi karena beranggapan kotoran sapi yang biasa untuk pupuk kandang diambil untuk bahan bakar biogas,” cerita Muhamidin, Minggu (26/6/2022).

Sosialisasi yang dilakukan pemerintah desa (Pemdes) ternyata berbuah manis. Warga mulai tertarik untuk memakai biogas. Apalagi, energi alternatif ini nggak hanya bisa dijadikan bahan bakar untuk memasak, tapi juga pupuk cair dan kandang yang bisa memberikan manfaat sekaligus bisa dijual.

Ilustrasi pembuatan biogas dari kotoran sapi.(Kompasiana/Venusgazer)
Ilustrasi pembuatan biogas dari kotoran sapi.(Kompasiana/Venusgazer)

Penggunaan biogas juga jadi solusi bagi sisa kotoran sapi yang sebelumnya jadi masalah kebersihan di desa tersebut. Kini, di sana nggak lagi ditemukan masalah bau, serangga, dan hal-hal lain yang sebelumnya muncul akibat menumpuknya kotoran sapi.

Program ini sebenarnya sudah diajukan sejak 2020. Namun, pandemi membuat program tersebut diundur hingga April 2022 silam. Sedikitnya ada 25 peternak sapi di Desa Wonokerso yang terlibat dalam program ini. Warga pun sudah bisa mulai beralih ke biogas sejak Lebaran kemarin.

Pembuatan biogas dari kotoran sapi di sana memakai teknologi anaerobik digester, Millens. Jadi, ada proses biologis dengan mikroorganisme yang mengurai kotoran sapi di dalam ruang kedap udara. Hasilnya adalah kombinasi gas metana (CH4) dan karbondioksida (CO2) yang bisa dipakai untuk menyalakan kompor.

“Untuk biaya pembuatan per unit biogas bervariasi tergantung ukuran yang dibuat. Untuk ukuran biogas antara 6 meter kubik sampai 100 meter kubik memerlukan biaya sebesar Rp 18 juta sampai Rp 200 juta,” cerita Muhamidin.

Betewe, kebutuhan biogas untuk satu rumah tangga biasanya sekitar 6 meter kubik sampai 8 meter kubik. Jumlah ini setara dengan kotoran dari dua ekor sapi.

Wah, inovasi biogas dari kotoran sapi ini menarik ya? Kamu tertarik nggak untuk ikut memakainya juga? (Ayo/IB09/E05)