Solo, Desa Terpencil di Tepi Bengawan yang Jadi Pusat Pemerintahan

Solo, Desa Terpencil di Tepi Bengawan yang Jadi Pusat Pemerintahan
Keraton Surakarta yang ada di Solo. (Wikipedia)

Solo dikenal sebagai salah satu pusat pemerintahan Kesultanan Mataram. Tapi, kamu tahu nggak kalau dulu awalnya Solo hanyalah sebuah desa terpencil? Kondisi ini bahkan tetap bertahan meski Kerajaan Mataram sudah cukup besar, lo.

Inibaru.id –  Mana yang lebih tepat, Solo atau Surakarta? Banyak orang bingung membedakan dua nama ini. Maklum, keduanya sama-sama merujuk pada satu wilayah yang sama.

Tapi, kalau menilik sejarah, Solo punya cerita yang lebih panjang dari Surakarta. Dulunya, Solo hanyalah sebuah desa perdikan yang terpencil. Pemimpin desa tersebut adalah Ki Gede Sala atau juga dikenal dengan Kiai Sala. Dari namanya itulah, desa tersebut dikenal dengan sebutan Sala.

Orang Belanda yang kesulitan menyebut 'Sala' kemudian menyebutnya dengan 'Solo'. Sejak saat itulah, penyebutan wilayah ini bertahan menjadi Solo hingga sekarang.

Geger Pecinan dan Sumpah Pakubuwana II

Status Solo sebenarnya tetap sebuah desa terpencil meski Mataram sudah dianggap sebagai kesultanan yang cukup disegani di Jawa, termasuk oleh penjajah Belanda. Tapi, sebuah peristiwa mengawali perubahan kondisi desa tersebut.

Semua dimulai pada 1740. Kala itu, orang-orang Tionghoa di Batavia dibantai habis-habisan oleh VOC dalam peristiwa Geger Pecinan. Banyak dari mereka yang kemudian lari ke Jawa Tengah. Sultan Mataram kala itu, Sunan Pakubuwana II bersumpah ingin mengusir VOC dari Tanah Jawa. Orang-orang Tionghoa pun punya keinginan yang sama. Keduanya kemudian memilih untuk menggabungkan kekuatan.

Ilustrasi Geger Pecinan di Surakarta. (Kompas)
Ilustrasi Geger Pecinan di Surakarta. (Kompas)

Perang terbuka kemudian berlangsung di wilayah Mataram, termasuk di pusat pemerintahan saat itu, Kartasura. Tapi, di tengah-tengah masa perang, Pakubuwana II yang khawatir dilengserkan dari jabatannya saat mengetahui banyak pasukannya kalah justru berbalik memihak Belanda.

Raden Mas Garendi yang memimpin tiga brigade pasukan Jawa dan tiga brigade pasukan Tionghoa sangat kecewa dengan keputusan sang Sultan Mataram. Dia pun menyusun kekuatan untuk menyerang Keraton Kartasura dari Grobogan. Mereka kemudian melakukan penyerangan hingga berhasil menguasai Kartasura pada 30 Juni 1742. Akibat hal ini, Pakubuwana II dan jajarannya sampai kabur ke Magetan dan Ponorogo untuk menyelamatkan diri.

Pindahnya Pusat Pemerintahan

Kekacauan Mataram baru berakhir saat Pangeran Cakraningrat dari Madura dan Raden Mas Sahid bersatu untuk memulihkan keadaan. Selain itu, dengan bantuan VOC, Pakubuwono II juga bisa kembali naik tahta.

Sayangnya, saat kembali memerintah, Keraton Kartasura sudah hancur berkeping-keping dan nggak layak lagi ditinggali. Sesuai dengan kepercayaan Jawa bahwa keraton yang hancur nggak lagi memiliki wahyu keprabon, Pakubuwono II pun memutuskan untuk memindahkan pusat pemerintahan Mataram.

Ada tiga opsi pilihan lokasi keraton yang baru yakni Desa Kadipolo (Taman Sriwedari), Desa Solo, dan Desa Sasewu (sebelah barat Kecamatan Bekonang). Setelah mempertimbangkan banyak hal, termasuk mempertimbangkan lokasinya yang ada di dekat dengan Sungai Bengawan yang merupakan pusat perdagangan Mataram kala itu, Desa Solo kemudian dipilih.

Sejak saat itu pula, Solo punya nama resmi sebagai pusat pemerintahan Mataram. Namanya adalah Surakarta Hadiningrat. Wilayah ini pun kemudian bisa disebut sebagai Solo ataupun Surakarta, hingga sekarang.

Kalau kamu, lebih suka menyebut kota ini sebagai Solo atau Surakarta, Millens? (Kom, Mer/IB31/E07)