BerandaTradisinesia
Selasa, 24 Jan 2023 14:47

Meramu Keberagaman di Festival Imlek Klenteng Hok Tik Bio Pati

Meramu Keberagaman di Festival Imlek Klenteng Hok Tik Bio Pati

Sebanyak tujuh Reog asal Ponorogo ikut memeriahkan Kirab Budaya Festival Imlek Pati. (Inibaru.id/ Rizki Arganingsih)

Festival Imlek di Klenteng Hok Tik Bio Pati mengajari saya bahwa dengan resep yang sesuai dan wadah yang tepat, keberagaman bisa diramu menjadi 'sajian' yang pas untuk masyarakat.

Inibaru.id - Ada yang berbeda dari perayaan Imlek di Klenteng Hok Tik Bio Kabupaten Pati, Jawa Tengah, tahun ini. Berbeda dengan dua tahun terakhir yang terpaksa digelar kecil-kecilan karena pandemi, pesta Tahun Baru Imlek 2574 Kongzili yang bertepatan dengan 22 Januari 2023 digelar dengan sangat meriah.

Dimulai sejak 12 Januari lalu, mereka membuat pekan Festival Imlek yang berlangsung hingga Minggu (23/1) kemarin. Pihak klenteng bahkan bekerja sama dengan sebuah event organizer untuk membuat perayaan tahun ini terasa berbeda.

Sebagai warga setempat, saya bisa merasakan kemeriahan itu. Menurut saya, tema yang mereka ambil, yakni keberagaman budaya di Indonesia, khususnya Pati, sangatlah menarik. Tema ini bukan sekadar pemanis, tapi benar-benar menjadi ruh perayaan yang dipusatkan di Pecinan Pati tersebut.

Ketua Panitia Festival Imlek Pati Agus Atha Suharto mengungkapkan, panitia memang sengaja ingin menunjukkan bahwa Bumi Mina Tani adalah surga bagi keberagaman. Salah satu bentuknya adalah dengan melibatkan para pemuka agama dari berbagai keyakinan.

Pasukan pembawa bendera Merah-Putih dalam Kirab Budaya Imlek di Pati. (Inibaru.id/ Rizki Arganingsih)
Pasukan pembawa bendera Merah-Putih dalam Kirab Budaya Imlek di Pati. (Inibaru.id/ Rizki Arganingsih)

“Kiai, pendeta, dan pastor turut andil dalam rangkaian festival ini; misalnya ada tausiah kiai di depan klenteng pas pembukaan Pasar Imlek kemarin. Doa yang dipanjatkan waktu itu juga secara islami,” ujar lelaki yang akrab disapa Atha tersebut di sela-sela kesibukannya mengatur acara.

Selain itu, dia melanjutkan, hampir seluruh kegiatan festival juga melibatkan masyarakat umum, termasuk di antaranya acara bakti sosial dengan mendirikan dapur umum untuk korban bencana banjir serta pengobatan gratis untuk masyarakat. Nggak lupa, ada juga makan gratis selama 12 hari.

“Kami menyiapkan 100-150 porsi tiap hari untuk acara makan gratis di Klenteng Hok Tik Bio yang dimulai pukul 09.00 WIB selama Festival Imlek berlangsung," terang Atha.

Terbuka untuk Umum

Baksos pengobatan gratis di Klenteng Hok Tik Bio Pati (Instagram/ @rskeluargasehat)
Baksos pengobatan gratis di Klenteng Hok Tik Bio Pati (Instagram/ @rskeluargasehat)

Perlu kamu tahu, Festival Imlek di Pati adalah kegiatan tahunan yang telah digelar sejak 2003. Festival ini merupakan rangkaian acara yang mostly diselenggarakan di Pecinan, tapi diperuntukkan bagi masyarakat umum.

Menurut Atha, selama 12 hari berlangsungnya festival, ada cukup banyak acara untuk diikuti masyarakat, mulai dari bakti sosial, pengobatan gratis, Pasar Imlek yang melibatkan puluhan UMKM, upacara perayaan Malam Imlek, serta kirab budaya yang menjadi gong dari perhelatan tersebut.

"Kami mau menunjukkan bahwa Klenteng Hok Tik Bio terbuka untuk seluruh masyarakat, bukan cuma orang-orang keturunan etnis Thionghoa," terangnya.

Dia mengimbuhi, sudah seharusnya klenteng juga terlibat sebagai bagian dari "rumah" pengenalan budaya, alih-alih sebatas tempat ibadah. Nah, salah satu bentuk transformasinya adalah dengan membuat berbagai kegiatan budaya dan sosial pada festival Imlek tahun ini.

“PR besar buat kami (menjadikan klenteng sebagai media pengenalan budaya). Maka, Imlek menjadi momen tepat untuk mengenalkan budaya Tionghoa di Indonesia dengan melakukan akulturasi dengan budaya-budaya setempat, yaitu lewat Kirab Budaya,” tukasnya.

Catwalk untuk Banyak Budaya

Para penonton bergantian nyawer ke mulut barongsai di tengah Kirab Budaya yang merupakan bagian dari Festival Imlek di Pati. (Inibaru.id/ Rizki Arganingsih)
Para penonton bergantian nyawer ke mulut barongsai di tengah Kirab Budaya yang merupakan bagian dari Festival Imlek di Pati. (Inibaru.id/ Rizki Arganingsih)

Seperti kata Atha, kirab yang dilangsungkan pada 22 Januari lalu itu memang menjadi catwalk bagi banyak budaya. Saya senang melihat kelompok barongsai yang menari bareng rombongan reog Ponorogo atau marching band yang berjalan beriringan dengan cosplay para "dewa" Tionghoa.

Hal serupa ternyata juga dirasakan Geo, warga Kecamatan Margorejo yang kebetulan menonton kirab nggak jauh dari tempat saya berdiri. Dia mengaku senang bisa melihat penampilan dari dua budaya, yakni Tionghoa dan Jawa, dari tradisional hingga modern, yang menyatu dalam satu barisan.

“Antusias banget nontonnya, meski harus desak-desakan dan cuaca panas banget begini," ulas lelaki bernama lengkap Geovany Aryaditama tersebut di antara ribuan penonton yang datang.

Menurut dia, pertunjukan yang melibatkan banyak kebudayaan seperti itu sangatlah bagus untuk mengenalkan keberagaman di Indonesia sekaligus mengangkat budaya dan tradisi yang kita miliki.

“Aku menyadari satu hal," celetuknya dengan mata berbinar. "Dari penampilan tadi, aku lihat kesenian musik Jawa dan Tionghoa ternyata sama-sama memakai gong, tapi kayaknya bunyi gong Tionghoa lebih nyaring ketimbang Jawa.”

Seperti Geo, dari kirab budaya yang berlangsung hingga sore itu saya juga melihat keberagaman itu. Menurut saya, perbedaan memang ada di sekitar kita. Namun, kalau bisa dikemas dengan baik dalam wadah yang sesuai, perbedaan bisa menjadi harmoni yang indah juga, bukan? (Rizki Arganingsih/E03)

Tags:

Inibaru Indonesia Logo

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

Sosial Media
A Group Member of:
medcom.idmetro tv newsmedia indonesialampost

Copyright © 2023 Inibaru Media - Media Group. All Right Reserved