Inibaru.id - Lebaran di Jogja memang nggak pernah lengkap tanpa hiruk-pikuk warga yang berkumpul di area alun-alun. Bukan cuma soal opor ayam atau sungkeman, tapi ada satu tradisi sakral yang selalu dinanti yaitu Grebeg Syawal.
Tradisi ini biasanya digelar setiap tanggal 1 Syawal atau tepat saat Hari Raya Idulfitri. Grebeg Syawal adalah bukti nyata indahnya akulturasi antara budaya Jawa dan nilai-nilai Islam yang sudah lestari sejak abad ke-16.
Baca Juga:
Hukum Nggak Puasa saat Mudik LebaranSejarah Grebeg Syawal
Tahu nggak sih, Gez, kalau asal-usul Grebeg ini konon berasal dari tradisi Jawa Kuno bernama Rajawedha? Saat itu, raja membagikan sedekah demi kemakmuran rakyatnya.
Sempat terhenti saat era Kerajaan Demak, tradisi ini kemudian dihidupkan kembali oleh Walisongo sebagai media dakwah Islam. Seiring berjalannya waktu, Sultan Hamengkubuwono I pun memantapkan tatalaksana Grebeg di Yogyakarta hingga akhirnya kita mengenal lima jenis gunungan yang jumlah totalnya ada tujuh buah.
Arak-arakan Gunungan: Magnet Utama Wisatawan
Setiap Grebeg, tujuh gunungan hasil bumi yang disusun tinggi bakal dikawal oleh Prajurit Bregada yang gagah berani. Iring-iringan ini bakal bergerak dari Alun-Alun Utara menuju tiga titik utama:
- Masjid Gedhe Kauman (tujuan untuk lima gunungan)
- Pura Pakualaman (satu gunungan)
- Kepatihan (satu gunungan)
Jenis gunungannya pun macam-macam, ada Gunungan Lanang yang gagah hingga Gunungan Wadon yang anggun. Semuanya berisi hasil bumi yang melambangkan kemakmuran tanah Jawa.
Rebutan Berkah di Akhir Prosesi
Momen yang paling ditunggu tentu saja saat gunungan diserahterimakan dan didoakan. Begitu doa selesai, masyarakat bakal langsung "menyerbu" isi gunungan tersebut. Bagi warga Jogja, mendapatkan bagian dari gunungan dipercaya bisa membawa berkah tersendiri.
Lebih dari sekadar rebutan makanan, aksi ini adalah simbol sedekah dari Ngarso Dalem (Sultan) kepada rakyatnya. Ini adalah momen kedekatan antara pemimpin dan masyarakat yang sangat menyentuh.
Grebeg Syawal mengajarkan kita soal rasa syukur atas nikmat Tuhan yang tak terputus. Selain itu, tradisi ini juga jadi pengingat bagi kita untuk selalu peduli dan berbagi kepada sesama setelah sebulan penuh berpuasa.
Btw, kamu tertarik buat ikut merasakan serunya berebut "berkah" gunungan di Grebeg Syawal tahun ini? (Siti Zumrokhatun/E05)
