Matahari Diprediksi Akan Mati, Kapan?

Matahari Diprediksi Akan Mati, Kapan?
Matahari diprediksi akan mati, kapankah kira-kira waktu itu akan datang? (Flickr/ Lima Andruška)

Para ahli ternyata sudah memprediksi matahari bakal mati alias padam. Padahal, dampaknya bisa saja membuat bumi seperti mengalami kiamat. Lantas, kapan ya matahari bakal padam?

Inibaru.id – Kehidupan yang ada di bumi sangat dipengaruhi oleh matahari. Nggak hanya soal siang dan malam, begitu banyak aspek di bumi seperti cuaca, iklim, hingga untuk fotosintesis tumbuhan sangat membutuhkan matahari. Masalahnya, para ahli menyebut matahari diprediksi akan mati. Duh, apakah hal ini berarti bakal terjadi kiamat?

Jadi gini, Millens. Usia matahari itu diperkirakan sudah sekitar 4,6 miliar tahun. Nah, kalau prediksi kapan matahari bakal mati, masih sekitar 10 miliar tahun lagi. Wah, masih lama, ya? Kamu jadi nggak bakal mengalaminya, deh.

Meski begitu, kalau matahari mati, nggak akan langsung tiba-tiba padam sebagaimana kamu mematikan lampu. Jadi, sekitar 5 miliar tahun lagi, terjadi perubahan secara berangsur-angsur pada warna dan panas matahari. Warnanya bakal berubah jadi merah dengan ukuran yang luar biasa besar.

Setelah itu, inti dari matahari bakal menyusut. Menariknya, lapisan luarnya justru semakin membesar, tepatnya sampai ukuran orbit Mars sekarang. Jadi, nantinya bumi bakal tertelan oleh matahari. Itupun kalau bumi masih ada, bukannya hancur akibat ulah manusia sekarang.

Omong-omong kamu tahu nggak kalau kehidupan manusia di bumi diperkirakan hanya tinggal 1 miliar tahun saja, Millens? Jadi, di masa depan nanti, keceharan matahari bakal naik sekitar 10 persen untuk setiap 1 miliar tahun. Dampaknya, lautan menguap, permukaan bumi jadi terlalu panas, dan bumi pun nggak bakal lagi layak untuk ditinggali.

Nantinya, matahari bakal berangsur-angsur padam dan warnanya berubah jadi merah. (Flickr/

David Warrington)
Nantinya, matahari bakal berangsur-angsur padam dan warnanya berubah jadi merah. (Flickr/ David Warrington)

Balik lagi ke matahari. Kalau sebelumnya bakal jadi bola merah raksasa. Nantinya matahari mengalami penyusutan ukuran, tepatnya jadi katai putih. Setelah itu, matahari bakal berakhir jadi nebula, deh.

“Ketika bintang mati, massa gas dan debu akan keluar dan berubah jadi selubung ke luar angkasa,” ujar astrofisikawan dari University of Manchester, Inggris, Albert Ziljstra.

Nebula ini seperti awan yang ada di luar angkasa, Millens. Nebula ini bahkan bisa bersinar terang hingga 10 ribu tahun. Kalau yang sekarang ini cukup terkenal adalah Nebula Helix dan Bubble Nebula. Meski begitu, kalau menurut prediksi para ahli, nebula matahari nantinya nggak bakal benar-benar terang.

Matahari Bakal Terbit dari Utara?

Omong-omong, beberapa bulan lalu kamu pasti pernah mendengar isu kalau matahari terbit dari utara, kan? Kalau soal ini sih, kamu nggak perlu khawatir berlebihan, Millens. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pergeseran posisi terbit matahari memang berubah sepanjang tahun.

Pada Juni setiap tahun, dan puncaknya pada 21 Juni, kombinasi dari rotasi dan revolusi bumi bakal memicu gerak semu tahunan matahari sehingga membuatnya seperti terbit dari utara. Sebenarnya sih, nggak benar-benar di utara, melainkan di 23,5 derajat ke utara, Millens.

Hm, kalau kamu, kira-kira bakal takut nggak kalau tiba-tiba matahari padam, Millens? (Det/IB09/E05)