Mencicipi Mi Nyemek Mbah Imo Jaten, Kuliner Legendaris Karanganyar

Mencicipi Mi Nyemek Mbah Imo Jaten, Kuliner Legendaris Karanganyar
Mi nyemek Mbah Imo Jaten, kuliner legendaris Karanganyar. (faktualnews.co)

Mi nyemek Mbah Imo Jaten dikenal sebagai kuliner legendaris Karanganyar. Di sini, kamu bisa memesan mi nyemek dengan tingkat kepedasan sesuai selera. Seperti apa sih rasanya?

Inibaru.id – Kuliner Jawa Tengah memang nggak ada matinya. Di setiap wilayah, kamu bisa mencicipi penganan khas yang nikmat. Salah satu yang cukup legendaris adalah mi nyemek Mbah Imo Jaten di Kabupaten Karanganyar.

Lokasi warung yang sudah berdiri sekitar seperempat abad silam ini nggak jauh dari Kota Solo, tepatnya di Dusun Tundungan, Desa Sroyo, Kecamatan Jaten. Sejak lima tahun terakhir, warung tersebut sudah nggak lagi dikelola Mbah Imo, melainkan anaknya, Samino.

“Kali pertama warung ini didirikan ayah saya, Mbah Imo. Awalnya jualan dekat warung saat ini. Baru 10 tahun yang lalu pindah ke sini,” terang Samino, belum lama ini.

Meneruskan usaha sang ayah yang sudah melegenda di kalangan masyarakat nggak membuat Samino terbebani. Menurutnya, nggak ada resep atau bumbu khusus dari mi nyemek Mbah Imo yang perlu dijaga kerahasiaannya. Dia membeberkan, warungnya sejak dulu pakai mi instan yang ada di pasaran.

“Kami pakai bumbu bawaan (mi instan) saja," ungkap Samino secara terbuka. "Namun, mi direndam dulu di air hangat agar pengawetnya larut ke dalam air."

Untuk mi yang dipakai, dia memilih salah satu jenama mi instan yang sejatinya banyak dijual di kedai kelontong atau minimarket. Sementara, untuk memberikan sensasi rasa pedas, Samino menambahkan sambal gandaria.

Mi nyemek Mbah Imo tidak memakai bumbu khusus. (makankeliling.com)
Mi nyemek Mbah Imo tidak memakai bumbu khusus. (makankeliling.com)

Perlu kamu tahu, gandaria adalah buah berbentuk bulat lonjong seperti mangga plum bercita rasa asam. Di Jawa Barat, buah ini kerap dijadikan rujak atau campuran sambal seperti yang dipakai pada mi nyemek Mbak Imo. Untuk membuat sambal gandaria, diperlukan cabai, gula jawa, terasi, dan gandaria. 

"Untuk tingkat kepedasan, pelanggan bisa menentukan sendiri,” beber Samino.

Soal harga, dijamin terjangkau kok, Millens. Seporsi mi nyemek atau mi goreng dibandrol Rp 9.000 saja, sedangkan untuk minumannya sekitar Rp 3.000-an. Harga murah dengan rasa yang menawan inilah yang membuat warung tersebut terus diserbu pembeli.

Saking larisnya, Samino juga nggak merasakan penurunan jumlah pembeli secara signifikan saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia selama hampir dua tahun. Omzetnya cenderung stabil dari bulan ke bulan.

“Rata-rata penghasilan kotor per hari Rp 1,5 juta. Jika dihitung penghasilan bersih Rp 500 ribu,” lanjut Samino.

O ya, Millens¸jam buka warung mi nyemek Mbah Imo cukup panjang, tepatnya dari pukul 09.30 sampai 00.00 WIB. Jadi, kalau kamu mampir ke Karanganyar saat pagi, siang, atau malam, silakan mampir ke warung ini untuk mencicipinya. (Tri/IB09/E05)