BerandaInspirasi Indonesia
Sabtu, 7 Feb 2026 13:01

Cerita Kudus Tuwa dan Ayunan Langkah yang Menjaga Sejarah Kota

Penulis:

Cerita Kudus Tuwa dan Ayunan Langkah yang Menjaga Sejarah KotaImam Khanafi
Cerita Kudus Tuwa dan Ayunan Langkah yang Menjaga Sejarah Kota

Salah satu kegiatan Cerita Kudus Tuwa (CKT) saat mengunjungi makam salah satu pengusaha rokok jaman dulu. (Dok. Cerita Kudus Tuwa)

Seperti merangkai kepingan puzzle kota dalam lipatan waktu, mereka menelusuri cerita-cerita kusam yang aram temaram dalam tumpukan ingatan, arsip lama, hingga artefak yang terserak di ujung lorong-lorong sempit dan tembok bangunan lawas. Merekalah Cerita Kudus Tuwa.

Inibaru.id – Jika suatu pagi pada akhir pekan saat kamu berada di Kudus bertemu sekelompok anak muda berjalan di gang-gang tua atau mengobrol serius di halaman sebuah bangunan lawas, sapalah mereka! Mereka adalah rombongan walking tour Cerita Kudus Tuwa (CKT).

Sebagaimana tersurat dari namanya, CKT adalah para pemburu sejarah. Dengan penuh kesadaran, mereka akan berjalan pelan menyusuri lorong-lorong berliku, mematung lama di depan rumah lawas bercat pudar, atau menyusuri bangunan bekas pabrik kretek dan stasiun tua, untuk membangkitkan ingatan masa lalu.

Tiap langkah mereka adalah upaya menjaga cerita lampau yang aram temaram dalam ingatan. Mereka bernapas dalam nostalgia dan berayun dalam kisah-kisah sejarah yang mulai jarang diperbincangkan oleh khalayak.

Lahir pada Desember 2022, komunitas ini berangkat dari kegelisahan sederhana: kota berubah terlalu cepat, sementara cerita-cerita lama perlahan menghilang. Bagi mereka, Kudus bukan sekadar ruang geografis, melainkan tubuh hidup yang menyimpan jejak sejarah, kerja, spiritualitas, dan keseharian warganya.

“Kalau cerita-cerita ini tidak dicatat dan dibagikan, lama-lama hilang; padahal di situlah identitas kota,” ujar Yusak Maulana, salah seorang anggota CKT yang acap memandu rombongan walking tour menyusuri kisah-kisah bersejarah di Kota Kretek.

Berjalan, Mendengar, dan Berbincang 

Salah satu kegiatan Cerita Kudus Tuwa (CKT) yaitu walking tour dengan menusuri jejak batik Kudus. (Dok. Cerita Kudus Tuwa)
Salah satu kegiatan Cerita Kudus Tuwa (CKT) yaitu walking tour dengan menusuri jejak batik Kudus. (Dok. Cerita Kudus Tuwa)

Dari situlah CKT mencoba merawat ingatan dengan cara yang membumi, yakni berjalan kaki, mendengar, berbincang, lalu mendokumentasikan. Yusak percaya, sejarah bukan cuma tersaji di buku, tapi juga terserak di kampung, pabrik, sekolah, bahkan di sisa ingatan orang-orang.

Tahun 2023 menjadi langkah awal CKT menguatkan metode tersebut saat menggelar Jejak Tionghoa di Kudus Tuwa, sebuah walking tour yang membuka percakapan tentang peran komunitas Tionghoa dalam sejarah ekonomi dan sosial Kudus.

"Di perjalanan tersebut, rumah tua, relasi dagang, hingga tradisi keluarga dibaca sebagai bagian utuh kota, bukan catatan pinggiran," kenangnya.

Setelah itu, rupanya orang-orang ketagihan. Maka, lahirlah Tilik Pabrik PR Sukun beberapa bulan berselang. Di situ, mereka meraba cerita kretek jauh lebih dalam dari sekadar romantisme masa lalu; hingga menyentuh pengalaman buruh dan dinamika kerja.

“Kami ingin melihat pabrik bukan cuma bangunan produksi, tapi ruang hidup manusia,” jelas Yusak.

Berbasis Riset, Arsip, dan Diskusi

Walking tour yang dilakukan Cerita Kudus Tuwa untuk merawat ingatan. (Dok. Cerita Kudus Tuwa)
Walking tour yang dilakukan Cerita Kudus Tuwa untuk merawat ingatan. (Dok. Cerita Kudus Tuwa)

Menutup tahun, mereka menghadirkan pameran batik kuno dan tur kampung bertajuk Jejak Batik Kudus. Motif dibaca sebagai bahasa, kain sebagai arsip, dan tangan pembatik sebagai penjaga tradisi.

"Tahun selanjutnya (2024), kami mulai ambil tema yang lebih luas, mulai dari menelusuri tokoh penting dalam industri kretek, Nitisemito; lalu menyambangi Kampung Langgardalem untuk mendengar langsung cerita warga," paparnya. "Kami juga sempat mengangkat cerita tentang sekolah-sekolah bersejarah."

Pada tahun tersebut, Yusak menambahkan, CKT juga mulai memantik kisah-kisah yang rawan tertumpur dalam waktu seperti Cerita Pertempuran Muria yang hampir sepenuhnya sejarah lisan serta Laku Kaliputu yang lebih banyak dilakukan dengan mengamati praktik spiritual dan ritus lokal yang masih dijalankan.

"Tahun ketiga, menurut saya, adalah tahun pendewasaan CKT. Kami mulai lebih banyak belajar secara kolektif berbasis riset, arsip, dan diskusi. Kami juga menyentuh ranah budaya dan spiritual," ulasnya.

Tahun 2025 dibuka dengan walking tour Menjelajahi Kudus Tuwa: Kota dalam Tasbih dan Sejarah, lalu berlanjut ke Tata Tapa Lelaku Wening Muria yang mencoba menyatukan alam, kesunyian, dan refleksi spiritual dalam satu perjalanan.

Merawat Kota dalam Kesederhanaan

Walking tour yang dilakukan Cerita Kudus Tuwa untuk merawat ingatan. (Dok. Cerita Kudus Tuwa)
Walking tour yang dilakukan Cerita Kudus Tuwa untuk merawat ingatan. (Dok. Cerita Kudus Tuwa)

Yang nggak luput dari pengamatan CKT tahun itu adalah nostalgia tentang rel, stasiun, dan kereta yang pernah menjadi bagian dari Kudus. Walking tour bertajuk Jejak Kereta Api di Kudus itu menjadi event terakhir sebelum agenda terbesar mereka yakni Prakarsana.

"Prakarsana adalah pameran arsip, diskusi publik, dan walking tour yang mempertemukan benda, cerita, dan warga dalam satu ruang dialog. Kami ingin warga merasa ini milik bersama; bahwa arsip itu bukan benda mati, tapi pemantik percakapan,” ujar Yusak.

Oya, selain mengulik cerita di Kudus, CKT juga sempat memperluas jejaring melalui kunjungan ke Magelang, sebelum kembali menelusuri sejarah kretek lewat Jejak Kretek, lalu Jejak Nitisemito, Smara: Jejak Dagang, Jejak Peradaban, hingga Ziarah Kretek sebagai refleksi akhir tahun.

"Kami ingin merawat kota, tapi dalam kesederhanaan. Cukup dengan berjalan, mendengar, mencatat, dan berbagi. Sejarah itu hadir di trotoar, obrolan warung kopi, tembok pabrik tua, atau voiceless voice dari warga yang ternyata penuh makna. Kami hanya memantik, selebihnya kota ini yang bercerita,” tutupnya.

Komunitas yang menarik, bukan? Maka, sapalah CKT keras-keras saat kamu bertemu dengan mereka. Bisa jadi, suatu saat merekalah yang menjadi alasan kamu berkunjung lagi ke kota berjuluk Jerusalem van Java ini.(Imam Khanafi/E10)

Tags:

Inibaru Indonesia Logo

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

Sosial Media

Copyright © 2026 Inibaru Media - Media Group. All Right Reserved