Kasus DBD Kota Pekalongan Meningkat Tajam Tahun Ini, Apa Penyebabnya?

Kasus DBD Kota Pekalongan Meningkat Tajam Tahun Ini, Apa Penyebabnya?
Ilustrasi: Kasus DBD di Kota Pekalongan tahun ini mengalami peningkatan signifikan. (Shutterstock via The Jakarta Post)

Dibanding tahun lalu, kasus DBD Kota Pekalongan meningkat hingga tiga kali lipat tahun ini. Dari sebelumnya 39 kasus, tahun ini naik menjadi 155 orang yang terjangkit DBD.

Inibaru.id – Tingginya interaksi antara manusia, hewan, dan lingkungan di Indonesia menjadikan negeri ini begitu rentan akan masalah kesehatan, nggak terkecuali kasus demam berdarah dengue (DBD).

Hingga kini, penyebaran penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk itu masih menjadi ancaman yang mengintai masyarakat, salah satunya di Kota Pekalongan.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pekalongan memaparkan, kasus DBD di Kota Pekalongan tercatat mengalami peningkatan signifikan untuk tahun ini. Administrator Kesehatan Muda Dinkes Kota Pekalongan Opik Taufik mengatakan, ada 155 orang yang terjangkit DBD sepanjang 2022.

“Dari 155 orang, sebanyak 2 orang di antaranya meninggal dunia,” ungkapnya di Pekalongan, Kamis (6/10/2022).

Kasus DBD itu, lanjutnya, tersebar hampir di seluruh wilayah di empat kecamatan yang ada di Kota Batik tersebut. Namun, dia memaparkan, penyebaran kasus tertinggi didominasi Kecamatan Pekalongan Barat dan Pekalongan Selatan.

“Kasus yang terjadi tahun ini cenderung meningkat dibandingkan kondisi pada tahun sebelumnya, yang hanya 39 orang,” kata dia. “Untuk kasus kematian, tahun lalu juga ada dua pasien yang meninggal dunia.”

Cuaca yang Nggak Menentu

Ilustrasi: Kondisi cuaca yang kurang menentu menjadi penyebab peningkatan kasus DBD. (Livemint)
Ilustrasi: Kondisi cuaca yang kurang menentu menjadi penyebab peningkatan kasus DBD. (Livemint)

Opik menjelaskan, kondisi cuaca yang kurang menentu belakangan ini dia yakini sebagai salah satu penyebab kasus penyebaran DBD di Kota Pekalongan cenderung meningkat. Dia pun mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk terus waspada.

“Waspada, bisa dilakukan dengan pencegahan melalui upaya meningkatkan kebersihan di lingkungan tempat tinggal masing-masing," sarannya.

Selain meningkatkan kebersihan, Opik mengimbuhi, pencegahan penyebaran kasus demam berdarah dapat dilakukan dengan memeriksa jentik secara berkala dan memberikan abate positif di tempat-tempat yang berpotensi memunculkan bibit nyamuk.

“Penyuluhan ke masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan secara serentak dan rutin akan terus dlakukan,” tegas dia.

Tanggung Jawab Semua Pihak

Ilustrasi: Kasus DBD bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi juga masyarakat. (Liputan 6/Immanuel Antonius)
Ilustrasi: Kasus DBD bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi juga masyarakat. (Liputan 6/Immanuel Antonius)

Lebih lanjut, Opik juga menegaskan bahwa kasus DBD yang muncul di Kota Pekalongan bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Namun, masyarakat juga harus turut serta aktif mencegahnya dengan cara menjaga kebersihan lingkungan.

“Demam berdarah ini penyakit yang tidak pandang usia, bisa menjangkiti anak-anak, remaja, dewasa, maupun orang tua,” papar dia.

Menurutnya, dibandingkan melakukan penyemprotan (fogging) ke rumah-rumah warga, pembasmian nyamuk Aedes aegypti yang menjadi perantara penyebaran virus DBD dengan menjaga kebersihan lingkungan jauh lebih efektif.

"Yang jauh lebih penting adalah menjaga kesehatan diri serta kebersihan lingkungan secara rutin dan serentak," tandas Opik.

Yap, menjaga lingkungan tetap bersih serta tubuh dalam kondisi prima adalah dua hal penting yang bisa kita lakukan untuk mencegah penyebaran demam berdarah. Gimana dengan kasus DBD di sekitar tempatmu, Millens? (Siti Khatijah/E05)

Artikel ini telah terbit di Medcom.id dengan judul Kasus DBD di Pekalongan Naik 3 Kali Lipat dari Tahun Sebelumnya.