Rokok Klembak Menyan, Identik dengan Tari Ebleg, Eksis Sejak 1950-an

Rokok Klembak Menyan, Identik dengan Tari Ebleg, Eksis Sejak 1950-an
Tarian Ebleg asli Kebumen, yang salah satu syarat perhelatannya menggunakan sesajen rokok klembak menyan. (Bawaslu Kebumen)

Rokok klembak menyan yang kerap kali digunakan sebagai pelengkap ritual dan ubo rampe pada kesenian Ebleg ternyata sudah eksis sejak 1950-an, lo, Millens. Seperti apa ya cerita rokok ini?

Inibaru.id – Meski sering dikaitkan dengan hal-hal mistis, nyatanya rokok klembak menyan khas Jawa Tengah dicintai para smoker. Hal ini disebabkan oleh aroma dan cita rasanya yang kuat.

Kemasan rokok klembak menyan biasanya sederhana, hanya berupa lipatan kertas minyak dan rokok yang bentuknya mengerucut seperti pengeras suara. Ukurannya terbilang lebih panjang dari rokok pabrikan pada umumnya. Untuk menghabiskan satu batang rokok ini, membutuhkan waktu sampai dengan 15 menit.

Pelengkap Pentas Ebleg

Sepenuturan Iqbal Kautsar (15/06/16), aroma kemenyan yang menyeruak ketika rokok dibakar seperti menarik perhatian mahluk tak kasat mata. Sensasi mistis pun semakin kuat karena di sejumlah daerah seperti Kebumen, rokok klembak menyan menjadi salah satu ubo rampe yang digunakan untuk kesenian Ebleg.

Dilansir dalam Yayasan Wahyu Pancasila (01/05/12), Tari Ebleg merupakan kesenian tradisional asli Panjer, nama Kabupaten Kebumen di masa lampau. Ebleg muncul pada 1600-an, tepatnya ketika Sultan Agung Hanyakrasukusuma memimpin perang melawan Belanda.

Ebleg juga dikenal dengan nama lain Sendratari Perang Yudha Cakrakusuma. Bagi yang belum tahu, kesenian kuda lumping yang sering ditemui di berbagai daerah di Indonesia sebenarnya mengadopsi gerakan tari Ebleg.

Para lansia yang bekerja di Pabrik Sintren, Kebumen. (Iqbal Kkautsar)
Para lansia yang bekerja di Pabrik Sintren, Kebumen. (Iqbal Kkautsar)

Klembak Menyan Diproduksi oleh Lansia

Salah satu tempat yang masih memproduksi rokok klembak menyan hingga saat ini adalah Gombong, Klaten. Dilansir dari Ini Purworejo (26/12/21), pabrik bernama Sintren ini memproduksi rokok dengan jenama Sintren, Togog, dan Bangjo sejak tahun 1950.

Menariknya, sejak kali pertama berdiri, rumah produksi ini nggak pernah memecat maupun menambah karyawan baru. Para pekerja yang awalnya mencapai 1.200 orang kini hanya tersisa 50-an orang dengan rentang usia 65 sampai 90 tahun.

Jika ada kesempatan berkunjung ke Kebumen, cobalah main-main ke pabrik ini. Kalian bakal bertemu dengan para pekerja lanjut usia yang masih tangkas mengoperasikan alat pemotong kertas, mengolah bahan rokok, hingga melinting rokok.

Pemilik pabrik rokok ini memiliki cita-cita mempertahankan pabrik hingga usia lebih dari 100 tahun. Bisa jadi cita-cita ini terwujud jika penikmat rokok klembak menyan juga masih banyak.

Hm, jadi penasaran ya dengan sensasi mengisap rokok klembak menyan. Kalau menurut kamu, apakah kesan mistisnya memang sangat terasa? (Kharisma Ghana Tawakal/E07)