Kudapan Tradisional yang Mulai Langka di Kota Bengawan, Jenang Saren

Kudapan Tradisional yang Mulai Langka di Kota Bengawan, Jenang Saren
Jenang saren adalah perpaduan bubur manis kaya rempah berwarna hitam yang disajikan dengan santan gurih berwarna putih. (Detik/Soloblitz)

Bubur manis berwarna hitam dipadu santan putih nan gurih, kebayang rasanya? Inilah jenang saren, kuliner tradisional yang belakangan mulai langka di Kota Bengawan.

Inibaru.id – Ketika Dawud Achroni memasukkan jenang saren dalam bukunya, yakni Kuliner Tradisional Solo yang Mulai Langka, dia tidaklah salah. Penganan tradisional ini memang laik masuk dalam daftar kulier yang terancam punah, karena saat ini nggak banyak lagi pedagang yang menjajakannya.

Dalam bahasa Jawa, saren adalah sebutan untuk bahan makanan yang terbuat dari darah sapi yang dibekukan. Sejumlah kalangan menganggap saren, yang juga disebut dideh, nggak layak dikonsumsi karena alasan kesehatan atau kepercayaan. Namun, tenang, jenang saren nggak ada hubungannya sama sekali dengan darah, kok.

Kuliner langka khas Solo dan sekitarnya ini disebut jenang saren karena berwarna kehitaman, yang membuat tampilannya begitu mirip olahan saren. Padahal, bahan dasar pembuatan kudapan manis ini hanyalah tepung ketan dan gula jawa. Sementara, warna hitamnya berasal dari sekam atau merang.

Tampilan jenang saren yang kehitaman tampak kontras dan menawan saat disajikan dengan santan kental yang telah direbus bersama daun pandan dan garam. Jenang yang manis terasa pas disesap dengan santan yang gurih dan sedikit asin. Hm, menggiurkan, bukan?

Disebut Juga Jenang Rempah

Jenang saren berwarna hitam dan putih, perpaduan yang menarik untuk rasa yang unik. (Idntimes/Instagram/Regunancha)
Jenang saren berwarna hitam dan putih, perpaduan yang menarik untuk rasa yang unik. (Idntimes/Instagram/Regunancha)

Di sejumlah wilayah di Jawa Tengah, jenang saren nggak disebut demikian, meski penganan yang dimaksud sama. Sebagian masyarakat Jateng menyebutnya jenang rempah. Ini merujuk pada rasanya yang kaya rempah.

Perpaduan tepung ketan yang liat dan lembut, gula jawa yang manis, santan yang gurih, dan rempah-rempah yang hangat membuat jenang saren ini bercita rasa unik saat masuk mulut. Tekstur yang lembut, aroma yang harum, serta perpaduan rasa manis, gurih, dan sedikit pahit membuat jajanan pasar ini begitu terasa khas.

Oya, rasa pahit yang dihasilkan berasal dari jahe dan cengkih yang dicampurkan saat pembuatan jenang saren. Jadi, selain disajikan sebagai kudapan sore, orang-orang juga menjadikan jenang saren sebagai penghangat sekaligus peningkat daya tahan tubuh.

Sayangnya, jenang saren agaknya terancam punah karena nggak banyak lagi penjual jajan pasar yang menjajakan makanan yang sekilas mirip moci tersebut. Dikutip dari Solopos, penganan ini juga mulai sulit ditemukan di Kota Solo, tempat asal jenang saren. Bahkan, banyak orang yang nggak mengenalnya.

Mudah Bahannya, Ribet Bikinnya

Di sejumlah wilayah di Jawa, jenang saren disajikan menggunakan wadah dari daun pisang yang ditum. (Aplatefortwo)
Di sejumlah wilayah di Jawa, jenang saren disajikan menggunakan wadah dari daun pisang yang ditum. (Aplatefortwo)

Menghilangnya jenang saren di pasaran sepertinya nggak lepas dari perkembangan kuliner modern yang kian masif, yang hampir seluruhnya menyajikan kepraktisan untuk dinikmati dan kemudahan dalam pembuatan.

Jenang saren hanyalah satu dari banyak kuliner tradisional yang sepertinya memang harus sukarela tersisih. Kendati bahan yang dibutuhkan untuk membuat jenang saren tergolong mudah ditemukan, cara membuatnya yang ribet dan menyita banyak waktu menjadi alasan penganan ini dilupakan.

Untuk membuat jenang saren, pertama kamu harus mendidihkan air bersama merang yang telah disaring, gula jawa, jahe, dan cengkih. Setelahnya, adonan tepung ketan dimasukkan sembari diaduk hingga matang, lalu disajikan dalam wadah beralaskan daun pisang.

Setelah itu, kamu harus merebus santan, garam, dan daun pandang dengan api kecil hingga mendidih, tapi santannya nggak sampai pecah. Lalu, untuk penyajian, santan dituang ke dalam mangkuk, lalu jenang dimasukkan. Setelahnya, barulah jenang saren siap dinikmati.

Tahapan yang panjang dan memakan waktu inilah yang membuat keberadaan jenang saren tergantikan oleh kudapan modern yang lebih praktis cara membuatnya. Padahal, kalau dibayangkan, cita rasa jenang saren ini pastilah nggak ada duanya! Sepakat, Millens? (Siti Khatijah/E07)