BerandaInspirasi Indonesia
Jumat, 24 Jul 2026 12:55

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

Penulis:

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di GunungkidulAdministrator
Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

Desain "Cahaya Pradipta" terinspirasi cahaya matahari di perbukitan kapur Rongkop dan terpilih sebagai konsep penanda perbatasan baru Daerah Istimewa Yogyakarta. (Dok. Istimewa)

Desain "Cahaya Pradipta" karya Marcelo Diaz Octavianus resmi menjadi juara Sayembara Pradesain Penanda Perbatasan DIY 2026 dan akan menjadi acuan pembangunan landmark baru yang merepresentasikan identitas serta Keistimewaan Yogyakarta.

Inibaru.id - Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) selangkah lebih dekat memiliki landmark baru di kawasan perbatasannya. Desain bertajuk "Cahaya Pradipta Penanda Gerbang Perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta" karya Marcelo Diaz Octavianus resmi terpilih sebagai juara pertama Sayembara Pradesain Penanda Perbatasan DIY 2026.

Mengutip laman resmi JogjaProv, karya tersebut dipilih setelah melalui proses penjurian yang ketat dan mendapatkan persetujuan Sri Sultan Hamengku Buwono X selaku Dewan Juri Kehormatan. Penetapan pemenang diumumkan dalam penjurian tahap final yang digelar di Ruang Gadri Kompleks Kepatihan Yogyakarta pada Senin (20/7).

Sayembara yang diselenggarakan Pemerintah Daerah DIY melalui Biro Tata Pemerintahan Setda DIY itu bertujuan menghadirkan penanda perbatasan yang tidak hanya berfungsi sebagai gerbang wilayah, tetapi juga merepresentasikan identitas, filosofi, serta nilai-nilai Keistimewaan Yogyakarta.

Kepala Biro Tata Pemerintahan Setda DIY, Nuri Achadiyanti, mengatakan dewan juri telah menetapkan lima karya terbaik. Juara pertama diraih peserta berkode SP-022 dengan karya Cahaya Pradipta Penanda Gerbang Perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta. Posisi juara kedua ditempati karya Watujaga, sementara juara ketiga diraih desain Catur Gatra Tunggal: Penanda Perbatasan DIY. Adapun Harapan I dan Harapan II masing-masing diberikan kepada karya Ngayomi Budaya Kukuh dan Regol Keistimewan Yogyakarta.

Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, menilai tingginya antusiasme peserta yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia menunjukkan besarnya perhatian publik terhadap upaya memperkuat identitas ruang Yogyakarta.

"Sesuai pesan Bapak Gubernur, ini bukan cuma soal batas fisik. Ada pesan budaya di dalamnya," ujar Ni Made, dilansir dari JogjaProv.

Ia berharap hasil sayembara tidak berhenti sebagai konsep semata, melainkan dapat diwujudkan menjadi pembangunan nyata yang memperkuat citra DIY sebagai daerah yang berbudaya dan memiliki karakter kuat.

Terinspirasi Cahaya Matahari di Perbukitan Kapur

Di balik desain yang berhasil menjadi juara, tersimpan kisah sederhana. Marcelo Diaz Octavianus mengaku sempat mengalami kebuntuan ide sebelum akhirnya melakukan survei langsung ke kawasan Rongkop, Gunungkidul.

Saat berada di lokasi, ia melihat cahaya matahari yang menembus celah perbukitan kapur. Pemandangan tersebut kemudian menjadi inspirasi utama lahirnya konsep Cahaya Pradipta.

"Cahaya Pradipta merupakan cahaya yang menerangi. Saat survei di lokasi, saya melihat gunung kapur yang terbelah dan di tengahnya terlihat cahaya matahari. Dari situ saya mendapatkan inspirasi bahwa cahaya tersebut seperti menuntun saya menuju sesuatu yang baik, menuju Jogja," ungkap Marcelo.

Konsep tersebut kemudian diterjemahkan menjadi sebuah penanda perbatasan yang menonjolkan simbol cahaya sebagai elemen utama. Menurut Marcelo, cahaya tidak hanya menjadi unsur estetika, tetapi juga melambangkan keramahan, harapan, dan keterbukaan Yogyakarta bagi siapa pun yang memasuki wilayahnya.

Ia juga menambahkan berbagai unsur khas Yogyakarta ke dalam desain agar masyarakat dapat langsung merasakan identitas kota tersebut sejak memasuki kawasan perbatasan.

Ketua Dewan Juri, Prof. Ar. Ir. Ikaputra, M.Eng., Ph.D., menjelaskan proses seleksi berlangsung cukup panjang. Sejak dibuka pada April 2026, sayembara ini menarik sekitar 400 pendaftar dari berbagai daerah di Indonesia. Setelah melalui proses verifikasi, sebanyak 124 karya dinyatakan memenuhi syarat sebelum akhirnya disaring menjadi 10 besar dan lima finalis terbaik.

Menurut Ikaputra, Cahaya Pradipta memiliki karakter visual yang kuat serta menawarkan potensi besar untuk dikembangkan pada tahap perancangan berikutnya.

"Salah satu kelebihan karya ini adalah kesan pertama yang muncul ketika melihat tetenger tersebut. Bentuknya cukup unik dan tidak biasa. Secara visual, baik pada siang maupun malam hari, karya ini sudah terlihat sangat kuat, unik, dan spektakuler," katanya.

Ia menambahkan bahwa dewan juri tidak hanya menilai aspek estetika, tetapi juga mempertimbangkan kelayakan konstruksi, pemilihan material, kesesuaian dengan lingkungan, hingga kemampuan desain dalam merepresentasikan nilai-nilai budaya DIY.

Sayembara ini difokuskan untuk mencari desain penanda perbatasan di dua koridor strategis bagian selatan DIY, yakni kawasan Rongkop di Kabupaten Gunungkidul dan Sindutan di Kabupaten Kulon Progo.

Ke depan, karya pemenang akan menjadi referensi utama dalam pengembangan sekaligus pembangunan penanda perbatasan di kedua lokasi tersebut.

Lebih dari sekadar gerbang masuk, penanda perbatasan ini diharapkan menjadi wajah pertama yang menyambut masyarakat maupun wisatawan saat memasuki Yogyakarta. Kehadirannya diharapkan mampu memperkuat identitas ruang, menegaskan citra Keistimewaan DIY, sekaligus menjadi landmark baru yang memadukan nilai budaya, arsitektur, dan semangat kemajuan daerah. (Ike/E01)

Tags:

Inibaru Indonesia Logo

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

Sosial Media

Copyright © 2026 Inibaru Media - Media Group. All Right Reserved