Lalu-Lintas Ruwet Terkait dengan Tingginya Kasus Korupsi di Pemerintahan

Lalu-Lintas Ruwet Terkait dengan Tingginya Kasus Korupsi di Pemerintahan
Lalu-lintas ruwet di sebuah negara menandakan kasus korupsi pemerintah masih tinggi. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)

Ada lo penelitian yang mengaitkan lalu-lintas ruwet, kematian di jalanan, dengan tingginya kasus korupsi di pemerintahan sebuah negara. Kalau di Indonesia, gimana, ya?

Inibaru.id – Kamu tinggal di kota besar atau di daerah pinggiran, Millens? Kalau iya, pernah nggak merasakan lalu-lintas ruwet dan seperti sangat sulit untuk diatur. Kamu pun sering terjebak macet dan sering menghabiskan waktu di jalan raya hingga kelelahan, deh.

Kamu nggak sendirian, Millens. Bagi warga Jabodetabek, kemacetan dan ruwetnya lalu-lintas sudah jadi makanan sehari-hari. Bagi warga sana, menghabiskan waktu sekitar 2 jam untuk mencapai tempat kerja atau pulang kerja adalah hal yang lazim dilakukan. Nah, di kota-kota lainnya, mungkin waktu tempuhnya nggak selama itu. Tapi, tetap saja kemacetan dan keruwetan lalu-lintas bisa bikin hati dongkol, ya.

Dampak dari lalu-lintas yang ruwet nggak hanya berupa kemacetan ya. Realitanya, kekacauan ini juga berakibat pada tingginya angka kecelakaan di jalanan Indonesia. Mungkin kamu nggak menyadari, tapi angka kecelakaan di jalanan Tanah Air sebenarnya cukup mengkhawatirkan, lo.

Kalau menurut data Mabes Polri dari 1 sampai 7 Maret 2021 saja. Lebih dari 1.200 kecelakaan terjadi di Indonesia. Itu hanya seminggu, lo, Millens, tapi sudah menyebabkan 261 orang meninggal. Lebih dari 1.300 orang mengalami luka-luka! Jalanan kita ternyata seberbahaya itu, ya?

Nah, ternyata ada lo penelitian yang mencoba mencari tahu keterkaitan antara tingginya kasus kecelakaan di jalan raya dengan kasus korupsi pemerintahan dari sebuah negara. Penelitian itu dilakukan James O’Malley dari CityMetric.

Ada banyak dampak dari korupsi pemerintah, termasuk risiko berkendara di jalan raya yang jadi meningkat drastis. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)
Ada banyak dampak dari korupsi pemerintah, termasuk risiko berkendara di jalan raya yang jadi meningkat drastis. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)

Sebenarnya, O’Malley hanya satu dari sekian banyak peneliti yang juga melakukan penelitian dengan tema yang sama. Sebagai contoh, Teik Hua Law dan timnya melakukan penelitian yang kemudian dipublikasikan dalam jurnal Accident Analysis & Prevention pada 2010lalu.

Ternyata, penelitian-penelitian ini membuktikan bahwa memang ada korelasi antara tingginya kasus korupsi di pemerintahan dengan keruwetan lalu-lintas di jalanan. Ternyata, korupsi juga membuat kontrol layanan kesehatan menurun drastis!

Nah, kalau penelitian yang dilakukan pada 2010 oleh Esma Gaygisiz, malah menemukan korelasi lebih banyak antara pengelolaan pemerintah, kematian akibat lalu-lintas, hingga budaya sebuah negara. Hal ini dihitung berdasarkan World Governance Indikator yang dikeluarkan oleh World Bank. Kalau faktor budaya, datanya didapat dari Hofstede and Schwartz.

Intinya sih, kalau pemerintahan buruk dan korupsinya tinggi, infrastruktur lalu-lintasnya juga bakal buruk. Pengelolaan transportasi umum yang seharusnya lebih aman dan nyaman bagi warganya justru jelek, dan berimbas juga dengan layanan medis yang jelek.

Selain itu, pengelolaan pemerintahan yang buruk juga berpengaruh pada pendidikan yang kurang memadai. Alhasil, masyarakat pun nggak memahami cara berlalu-lintas yang lebih aman. Padahal, kebanyakan dari mereka menggunakan kendaraan pribadi yang tentu punya risiko mendapatkan kecelakaan.

Hmm, kalau menurut kamu, apakah di Indonesia juga lalu-lintasnya masih ruwet? Kalau soal kasus korupsi yang marak di pemerintahan, kamu bisa nilai sendiri, deh, Millens. Haha. (Nat/IB09/E05)