BerandaHits
Sabtu, 28 Mar 2026 17:56

Hati-Hati, 56 Persen Konten Mental Health di Medsos Ternyata Ngawur!

Hati-Hati, 56 Persen Konten Mental Health di Medsos Ternyata Ngawur!

Jangan asal mendiagnosis diri sendiri hanya dari konten media sosial. (Freepik)

Sering merasa 'relate' sama konten kesehatan mental di TikTok? Jangan buru-buru self-diagnose ya, Gez! Riset terbaru dari East Anglia University mengungkap kalau 56 persen info mental health di media sosial ternyata nggak akurat. Bukannya bikin tenang, asal percaya konten medsos justru bisa bikin kamu makin cemas dan salah penanganan.

Inibaru.id - Siapa nih yang hobi scrolling TikTok terus tiba-tiba merasa, "Eh, kok ciri-ciri ADHD ini aku banget ya?" Eits, jangan langsung panik dan melabeli diri sendiri dulu, Gez.

Meski media sosial bikin kita makin melek soal mental health, ternyata nggak semua konten yang lewat di fyp kamu itu valid. Studi terbaru dari East Anglia University, Inggris, mengungkap fakta yang cukup bikin geleng-geleng kepal. Gimana nggak? Lebih dari separuh informasi kesehatan mental di medsos ternyata zonk alias nggak akurat!

Para peneliti menganalisis sekitar 5.000 unggahan di berbagai platform (TikTok, Instagram, YouTube, Facebook, hingga X) terkait isu autisme, ADHD, gangguan bipolar, sampai depresi. Hasilnya? 56 persen konten tersebut ditemukan nggak berdasar dan keliru.

Yang lebih mengejutkan, TikTok menduduki kasta tertinggi dalam urusan sebar info kurang akurat. Sebanyak 52 persen video soal ADHD di sana tergolong misinformasi. Bandingkan dengan YouTube yang "cuma" 22 persen atau Facebook yang di bawah 15 persen.

"Video yang menarik memang gampang banget viral, tapi sayangnya informasinya nggak selalu benar," kata Eleanor Chatburn, salah satu penulis studi tersebut.

Bahaya Laten Self-Diagnose

Tindakan paling benar adalah dengan mengunjungi dokter. (Shutterstock) 
Tindakan paling benar adalah dengan mengunjungi dokter. (Shutterstock)

Gara-gara konten yang aesthetic dan seolah relatable, banyak anak muda terjebak dalam fenomena self-diagnose. Padahal, mendiagnosis diri sendiri tanpa bantuan profesional itu berisiko banget, lho.

Beberapa alasannya kenapa kita sering terjebak:

  1. Akses Informasi Kebablasan: Semua info ada di tangan, tapi kita lupa memfilter mana yang medis, mana yang opini.
  2. Kendala Biaya & Waktu: Seringkali konsultasi ke psikolog dianggap mahal atau ribet.
  3. Stigma Sosial: Masih banyak yang takut dibilang "aneh" kalau harus ke klinik beneran.

Dampaknya Nggak Main-Main

Bukannya tenang, self-diagnose justru bisa bikin kamu makin cemas. Kadang, gejala yang kamu rasakan itu muncul cuma karena "sugesti" setelah baca konten medsos. Selain itu, kalau nanti kamu benar-benar ke terapis dan hasilnya beda sama ekspektasimu, hubungan pasien-terapis malah jadi nggak sinkron.

Di lain sisi, nggak apa-apa kok kalau medsos jadi pintu masuk buat kamu lebih peduli sama diri sendiri, tapi, jadikan itu sebagai langkah awal buat cari bantuan profesional, bukan kesimpulan akhir.

Jangan sampai niat mau sehat mental, malah jadi makin pusing gara-gara info yang salah, ya! (Siti Zumrokhatun/E05)

Tags:

Inibaru Indonesia Logo

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

Sosial Media

Copyright © 2026 Inibaru Media - Media Group. All Right Reserved