Banjarnegara Punya, Rambut Rontok Ditukar dengan Perkakas Rumah Tangga

Banjarnegara Punya, Rambut Rontok Ditukar dengan Perkakas Rumah Tangga
Ilustrasi: Rambut rontok bisa ditukar menjadi perkakas. (Flickr/ Amherst College)

Di Banjarnegara, ada inovasi yang membantu warga. Bagaimana nggak, di sana, rambut rontok bisa ditukar dengan perkakas rumah tangga. Buat apa ya rambut rontok ini?

Inibaru.id – Rambut rontok biasanya hanya berakhir menjadi sampah. Bahkan, keberadaan rambut rontok ini seringkali hanya memicu kekhawatiran saja. Nah, untungnya, kini ada inovasi rambut rontok ditukar dengan perkakas rumah tangga, lo. Bagaimana caranya, ya?

Memang, hal ini baru bisa dilakukan di Banjarnegara, Jawa Tengah, tepatnya di Desa Gumelem Kulon, Kecamatan Susukan. Di sini, masyarakat bisa menukar rambut rontok yang sudah dikumpulkan dengan sejumlah perkakas seperti gayung, baskom, dan lain-lain.

Di desa ini, banyak perempuan yang memang sudah terbiasa mengumpulkan rambut rontok. Rambut ini biasanya jatuh usai disisir dan kemudian disimpan di dalam plastik. Nah, jika sudah terkumpul sekitar sebulan, bakal ada pedagang pikulan yang datang dan meminta rambut rontok tersebut. Rambut ini nggak sekadar diminta, Millens, melainkan dibarter dengan perkakas rumah tangga.

Pedagang pikulan ini sebenarnya datangnya nggak tentu. Namun, begitu datang, pasti bakal berteriak mencari rambut ke warga. Kalau sudah begini, warga bakal keluar rumah dan membawa rambut yang sudah dikumpulkan sebelumnya.

“Tadi saya bawa rambut rontok seperempat ons, harganya sekitar Rp 10 ribu, lalu dibelikan baskom plastik,” ucap salah seorang warga yang mengumpulkan rambut rontoknya, Kuati.

Warga desa di Banjarnegara menukar rambut rontok dengan perkakas rumah tangga. (Suara.com/Anang Firmansyah)
Warga desa di Banjarnegara menukar rambut rontok dengan perkakas rumah tangga. (Suara.com/Anang Firmansyah)

Lantas, untuk apa rambut ini sampai dibeli? Ternyata para pedagang pikulan ini bakal menjual rambut-rambut ini ke pengepul rambut palsu di Purbalingga. Maklum, di kabupaten yang ada di sebelah barat Banjarnegara ini, memang cukup banyak produsen wig, bulu mata palsu, dan sejenisnya, Millens.

Eits, bukan berarti pedagang pikulan mau menerima semua rambut rontok, ya? Ada syaratnya lo agar bisa laku dijual.

“Paling nggak panjangnya 20 cm. Kalau lebih pendek tentu harganya bisa lebih murah,” ujar Ahmad Supriyanto, salah seorang pedagang yang melakukan barter rambut rontok dengan warga dalam 30 tahun terakhir.

Menariknya, rambut-rambut yang sudah beruban atau berganti warna seperti kemerahan atau putih bakal tetap laku, lo. Meski begitu, tetap saja syaratnya adalah rambut tersebut masih panjang.

Di sore hari saat Supriyanto sudah selesai mengumpulkan rambut rontok, dia bakal menjualnya ke pengepul. Kalau bisa membawa 1 ons rambut, dia bisa menjualnya dengan harga Rp 40 ribu. Meski begitu, Supriyanto mengaku jarang mendapatkan uang sebanyak itu dari rambut yang dia dapatkan dalam sehari.

Menarik juga ide barter rambut rontok dengan perkakas rumah tangga ini, ya Millens. (Sua/IB09/E05)