Wong Kalang di Solo, Jadi Tukang Kayu Andalan Kerajaan

Wong Kalang di Solo, Jadi Tukang Kayu Andalan Kerajaan
Ilustrasi Wong Kalang, manusia yang ahli perkayuan dan banyak bidang. (Intisari Grid)

Meski sempat hidup terasing, di Solo Wong Kalang mendapat tempatnya. Mereka diangkat menjadi abdi dalem di Keraton Solo. Siapa sangka, di balik imej nggak biasa dari perawakan mereka, Wong Kalang sangat berbakat dalam pembangunan dan perkayuan.

Inibaru.id – Suku Kalang atau yang biasa disebut sebagai “Wong Kalang” adalah salah satu subsuku di Jawa. Wong Kalang disinyalir sudah mendiami Pulau Jawa sejak zaman kerajaan-kerajaan di Nusantara, bahkan ada yang menyebut sebelum Hindu masuk ke wilayah ini. Sayangnya, mendiami satu tempat untuk waktu yang lama nggak lantas membuat mereka diterima.

Maklum, mereka memiliki perawakan tegap dan kuat. Menurut mitos, mereka berwujud seperti anjing dengan ekor panjang. Penampilan yang "lain" inilah yang bikin mereka berbeda nggak bisa berbaur dengan masyarakat mayoritas. Mereka akhirnya menyingkir ke dalam hutan dan hidup di sana.

Nah, ketika zaman Kerajaan Hindu, mereka nggak memiliki kasta. Konsekuensi yang harus mereka tanggung adalah semakin nggak bisa menjalin hubungan dengan masyarakat lainnya. Dahulu, orang yang nggak berkasta dilarang berhubungan dengan orang berkasta, sekalipun dengan kasta terendah (sudra).

Meski begitu, keberadaan Wong Kalang dimanfaatkan Kerajaan Majapahit untuk proyek-proyek berskala besar seperti penebangan pohon, juru angkut, hingga prajurit di medan perang.

Persebaran Wong Kalang cukup luas di Jawa, mulai dari Cilacap, Gombong, Kebumen, Kendal, Yogyakarta, hingga Solo. Di Solo, kamu dapat menemukan jejak mereka di Lojen Sasana Mulyo. Katanya, rumah bagi putra raja ini dibangun oleh Wong Kalang.

Wong Kalang si Tukang Kayu Andalan Keraton Solo

Keterasingan Wong Kalang nyatanya nggak berlangsung selamanya. Di Solo, tepatnya Kalangan, Kelurahan Jagalan, Jebres, Solo, Wong Kalang tinggal menempati hunian dan dapat membaur bersama masyarakat beragam suku dan budaya. Permukiman tersebut berisi para abdi dalem Kalang asli yang ikut membangun Keraton Solo.

Lojen Sasana Mulyo, sebuah rumah putra raja yang pembangunannya dilakukan oleh Wong Kalang. (Local GuidesC onnect/PrasetyoBWidagdo)
Lojen Sasana Mulyo, sebuah rumah putra raja yang pembangunannya dilakukan oleh Wong Kalang. (Local GuidesC onnect/PrasetyoBWidagdo)

Dahulu, Wong Kalang memang sengaja diberdayakan untuk ikut dalam pembangunan Keraton Solo. Salah satu bangunan peninggalan Wong Kalang yang sampai saat ini masih berdiri gagah adalah Lojen Sasana Mulyo, sebuah rumah bagi putra raja. Wong Kalang memang dikenal mahir dalam kemampuan pembangunan dan seni ukir kayu.

Sosialisasi yang dilakukan Wong Kalang di Solo nggak terjadi secara masif. Tetap butuh proses bagi mereka dan masyarakat untuk saling menerima. Awalnya, satu persatu kerabat dari kampung datang, kemudian disusul yang lainnya. Setelah banyak dari mereka yang berkumpul di satu tempat, terbentuklah satu wilayah Kalangan.

Wong Kalang Masa Kini

Di era modern seperti sekarang, banyak Wong Kalang yang sudah memeluk agama dan kepercayaan sah di Indonesia. Hal ini sangat berbeda dengan kemunculannya terdahulu pada masa kerajaan. Selain itu, mereka juga bergaul baik dengan masyarakat lain, juga dalam hal pernikahan.

Banyak dari Wong Kalang mau menerima orang-orang yang berasal dari luar suku mereka. Yang pasti, dari kamus Javaansch derduitsch Woordenbook (Gericke Roorda, 1847) diketahui bahwa Wong Kalang dianggap sebagai kelompok manusia yang hidup dan mati di Surakarta atau yang saat ini disebut Kota Solo. Sebetulnya, banyak keahlian yang dimiliki Wong Kalang, mulai dari membuat cambuk hingga menjadi pandai besi.

Wah, Wong Kalang sangat multitasking sekali ya, Millens? (Sol,Mer,Rad,Kom/IB31/E05)