Sologami, Komitmen Mencintai Diri yang Jadi Bisnis Menggiurkan

Sologami, Komitmen Mencintai Diri yang Jadi Bisnis Menggiurkan
Ilustrasi: Sologami menjadi salah satu fenomena menarik yang muncul dalam dua dekade terakhir. (Pixabay/Chí Nguyển Quốc)

Komitmen mencintai diri belakangan diwujudkan dengan self-wedding, pernikahan yang hanya digelar dengan satu mempelai atau sologami. Belakangan, tren yang berkembang itu rupanya juga jadi bisnis yang menggiurkan.

Inibaru.id – “Saya ingin menjadi pengantin, tapi bukan istri,” menjadi kalimat penting dalam serial Netflix Anne with an E yang memandu Kshama Bindu, seorang perempuan India berusia 24 tahun, untuk menikahi dirinya sendiri pada Juni 2022 lalu.

Nggak ada sedikit pun rasa gentar pada dirinya, meski kala itu dia mengakui, semua orang menatapnya aneh, bahkan menghujatnya. Dikutip dari Al Jazeera, Bindu tetap melaksanakan saat phere, rangkaian ritual pernikahan ala Hindu di India, yang hanya dihadiri para sahabat terdekatnya. Dia juga memakai sindoor, tanda merah di dahi yang menandakan dia telah menikah.

Inilah yang disebut sologami atau pernikahan tunggal. Times of India menyebut, sologami Bindu merupakan yang pertama di India, yang dilakukan dengan rangkaian lengkap, kecuali mempelai laki-laki. Namun, sejatinya sologami bukanlah istilah baru di dunia.

Pada 2016, Cosmopolitan sempat membuat tulisan tentang Erika Anderson, perempuan 30-an tahun asal New York yang memutuskan menikahi diri sendiri. Dia benar-benar merencanakan pernikahan itu, termasuk mengirim undangan, menghias ruangan, mengenakan gaun, dan membaca sumpah.

"Aku memilihmu (menunjuk diri sendiri) hari ini," kata dia seraya melemparkan buket bunga ke belasan teman dekat yang diundangnya. Setelahnya, Erika menenggak dua gelas whiskey untuk mewakili “kedua mempelai” dan mengenakan cincin kawin.

Serius atau Lucu-lucuan?

Ilustrasi: Sebagian orang akan menganggap sologami sekadar lucu-lucuan. Namun, nggak sedikit yang menganggapnya serius. (Freepik/freepic.diller)
Ilustrasi: Sebagian orang akan menganggap sologami sekadar lucu-lucuan. Namun, nggak sedikit yang menganggapnya serius. (Freepik/freepic.diller)

Sebagian orang mungkin menganggap yang dilakukan Bindu dan Erika adalah sebuah keanehan. Cara mudah mencari sensasi. Kamu pun mungkin sepakat. Namun, melihat keseriusan kedua perempuan itu mempersiapkan pernikahan, sangat sulit menganggap hal ini sekadar lucu-lucuan.

Musim panas lebih dari dua dekade lalu, seorang seniman asal New York Gabrielle Penabaz memutuskan melangsungkan sologami untuk mengobati patah hati. Namun, seperti Bindu dan Erika, pernikahan itu dia rencanakan dengan amat serius hingga para tamu menganggapnya sebagai pernikahan terbaik.

Pernikahan pada 2000 itu rupanya membawa Gabrielle pada ladang usaha baru: Bisnis Pernikahan Tunggal. Dengan konsep yang nggak jauh berbeda dengan pernikahannya, dia mengaku telah memiliki ribuan klien yang menginginkan pernikahan sologami.

"Upacara yang digelar selalu melibatkan emosi yang kuat dan berhubungan dengan mencintai diri sendiri," kata Gabrielle, dilansir dari BBC. “Sebagian besar meneteskan air mata saat mengucap sumpah nikah yang berisi hal seperti 'Saya memaafkan diri saya' atau 'Saya tidak akan menyebut diri saya jelek’."

Bisnis yang Menggiurkan

Laura Mesi mengaku menghabiskan biaya Rp 150 juta untuk pernikahan tunggalnya. (Facebook/Micaela Martini)
Laura Mesi mengaku menghabiskan biaya Rp 150 juta untuk pernikahan tunggalnya. (Facebook/Micaela Martini)

Laura Mesi, seorang perempuan asal Italia, beberapa tahun lalu mengaku menghabiskan biaya Rp 150 juta untuk pernikahan tunggalnya, lengkap dengan gaun putih, kue pernikahan, dan 70 undangan. Ehm, wedding organizer, nggak ada yang tertarik nih? Ha-ha.

Benar, di negara manapun, sologami belum bisa mendapatkan legalitas sebagai pernikahan resmi. Namun, nggak semua orang menikah untuk itu. Seperti Laura Mesi, ada banyak orang yang sukarela merogoh kocek ratusan juta untuk “komitmen mencintai diri sendiri” ini, lo!

Cosmopolitan menulis, sologami adalah gerakan minoritas, tapi terus berkembang. Di banyak wilayah, konsultan dan perencana sologami bermunculan. Di Kanada misalnya, ada satu layanan bernama Marry Yourself Vancouver yang menawarkan layanan konsultasi dan fotografi pernikahan tunggal.

Sementara, di Jepang ada Cerca Travel, agen perjalanan yang menawarkan paket self-wedding dua hari di Kyoto. Terus, ada laman I Married Me yang menawarkan perlengkapan pernikahan DIY untuk diri sendiri, mulai dari cincin, instruksi upacara pernikahan, hingga kata-kata sumpah nikah.

Dominique Youkhehpaz, yang melangsungkan self-wedding pada 2011, mendirikan jasa konsultan Self Marriage Ceremonies nggak lama berselang. Dia menawarkan kursus online 10 minggu senilai senilai ratusan dolar AS untuk menyiapkkan sologami. Nggak kurang dari 250 klien menyewanya.

"Self-wedding-nya bisa berupa ritual sederhana di kamar tidur hingga acara yang lebih mewah," jelasnya, dikutip dari BBC.

Melihat tren sologami serta kampanye tentang “komitmen untuk mencintai diri sendiri” yang berkembang di masyarakat, nggak menutup kemungkinan self-wedding juga bakal menjadi bisnis yang menggiurkan ke depan. Eh, tapi bakal bisa diterima di Indonesia nggak ya? (Siti Khatijah/E07)