Oud En Nieuw; Es Krim dan Kudapan Khas Belanda di Kota Lama

Oud En Nieuw; Es Krim dan Kudapan Khas Belanda di Kota Lama
Logo Oud En Nieuw yang ada pada bangunan GKBI. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Di kafe yang berlokasi di salah satu bangunan tua di Kota Lama ini kamu bisa menikmati pelbagai es krim dan kudapan khas Belanda. Inilah Oud En Nieuw, kafe yang merupakan pengembangan dari Toko Oen Semarang.

Inibaru.id – Melancong di sekitar Kota Lama Semarang pada siang hari yang terik paling pas ngiyup sejenak di kedai es krim yang sejuk dan nyaman. Salah satu tempat terbaik yang bisa kamu sambangi adalah Oud En Nieuw Ice Cream Palace. 

Menempati bangunan lawas bekas Gedung Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI), kedai yang berlokasi sepelemparan batu saja dari Jembatan Mberok Kota Lama itu memang cukup nyaman untuk menepi. Bangunannya adem, menu makanannya pun menggugah selera.

Oud En Niew adalah kafe yang merupakan representasi dari Toko Oen. Perlu kamu tahu, Toko Oen adalah restoran legendaris di Kota Semarang yang telah berusia lebih dari 85 tahun. Jadi, dari segi daftar menu yang ditampilkan dan rasa yang disajikan, siapa pun nggak akan meragukannya. 

Agak berbeda dengan Toko Oen yang menonjolkan konsep nostalgia pada daftar menu dan interior bangunannya, Oud En Nieuw justru menampilkan bentuk yang lebih modern, meski tentu saja masih mempertahankan sentuhan klasik di dalamnya.

Megaputri Megaradjasa, generasi ketiga pemilik Toko Oen mengatakan, seperti namanya yang dalam bahasa Belanda berarti "lama dan baru", Oud En Nieuw memang sengaja mencoba menyuguhkan hidangan klasik dengan balutan modern.

“Project baru kami (Oud En Nieuw) lebih ke arah fusion dengan sajian yang merupakan pengembangan menu dari Toko Oen,” ujar perempuan yang akrab disapa Yenni itu, belum lama ini. "Kami sengaja menawarkan arian rasa baru dengan sasaran kaum muda."

Mesin Es Krim Tua Buatan Italia

Enam belas rasa ice cream yang ada di Oud En Nieuw. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)
Enam belas rasa ice cream yang ada di Oud En Nieuw. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Untuk menarik minat anak muda, Oud En Nieuw mencoba menawarkan es krim dengan pelbagai varian rasa sebagai menu andalannya. Namun, namanya juga anak usaha Toko Oen yang terkenal klasik, nggak lengkap rasanya kalau kafe di Jalan Empu Tantular No 29 ini nggak mempunyai sentuhan zadul.

Di dapur Oud En Nieuw, kamu bisa menemukan sebuah mesin es krim buatan Italia yang usianya telah lebih dari 80 tahun. Di Semarang, agaknya sulit menemukan kafe dengan mesin es krim berusia setua itu ya, Millens?

Nah, mesin inilah yang membuat bentuk dan rasa pada puluhan varian es krim di Oud En Nieuw selalu konsisten saat disajikan. Yenni sengaja mempertahankan mesin tersebut di dapurnya agar menu yang ditawarkan nggak mengalami perubahan rasa. Konsekuensinya, dia harus merogoh kocek lebih dalam untuk perawatannya. 

“Kami pertahankan kualitas, meski biaya service dan spare part (mesin es krim) mahal," aku perempuan berusia 62 tahun tersebut. "Bahkan, kami punya pegawai khusus untuk service mesin itu, lo!"

Selain perawatan, pembuatan es krim dengan mesin ini juga lebih ribet. Proses pencampuran kondimen es krim harus dilakukan secara manual, yang membuat proses pembuatannya bisa memakan waktu 1,5-2 jam.

Namun demikian, ke depan Yenni mengaku akan tetap mempertahankan mesin tua tersebut. Dia juga belum bisa memastikan apakah akan menambah mesin jenis baru sebagai penunjang. Yang saat ini dipikirkannya justru menambah mesin serupa agar lebih autentik.

"Saya malah sempat kepikiran untuk memesan mesin serupa lagi langsung dari Italia sana,” imbuh Yenni. 

Lebih Mudah Mencair

Potrait interior klasik yang ada didalam Oud En Nieuw. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)
Potrait interior klasik yang ada didalam Oud En Nieuw. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Yenni mengungkapkan, Oud En Nieuw adalah pengembangan dari Toko Oen dengan fokus utama kudapan manis seperti pannenkoek dan poffertjes serta es krim. Agak berbeda dengan Toko Oen, menu es krim di Oud En Nieuw lebih variatif dan kekinian, tapi dengan tekstur yang sama. 

Oya, mesin yang berbeda dengan kebanyakan mesin saat ini membuat es krim yang dijual di Oud En Nieuw mempunyai ciri yang unik, yakni teksturnya yang nggak selembut es krim kekinian dan lebih cepat mencair.

"Dengan es yang lebih cepat mencair, kami berharap pelanggan segera menghabiskan es krim itu dan merasakan sensasi rasanya yang menyegarkan," tutur Yenni, promosi.

Dari segi menu, Oud En Nieuw memang terkesan lebih modern tapi "lokal" dengan menyajikan menu fusion seperti Ice Cream Tjendol, yakni es krim yang dipadukan dengan cendol. Manager Oud En Nieuw Ignatius Hendri mengungkapkan, konsep kafe di tempatnya memang sengaja dibikin begitu. 

“Kami adalah pengembangan rasa dari Toko Oen, yang menu fusion-nya nggak bakal dijumpai di Toko Oen seperti ice cream tjendol dan coupe aardbei,” terangnya.

Hendri menambahkan, pihaknya sengaja membuat Oud En Nieuw "berbeda" dengan Toko Oen karena menurutnya bakal percuma kalau membuat tempat makan baru tapi menawarkan daftar menu yang sama persis dengan restoran lama.

“Ada yang datang dan berharap menunya sama dengan Toko Oen. Ya, saya jelaskan, kami berbeda," terang Hendri yang memang menginginkan pelanggannya menikmati sensasi dan kisah lain di tempatnya. "Bakal percuma kalau ada dua Toko Oen dalam satu kota, apalagi tempatnya berdekatan.”

Rencana Dadakan yang Dilanjutkan

Tampak gedung heritage GKBI yang sekarang ditempate menjadi sebuah cafe, Oud En Nieuw. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)
Tampak gedung heritage GKBI yang sekarang ditempate menjadi sebuah cafe, Oud En Nieuw. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Berdasarkan penuturan Yenni, keberadaan Oud En Niew di Kota Lama Semarang sejatinya agak terkesan dadakan. Dia bercerita, semula dia hanya berniat "menyelamatkan" bangunan GKBI yang mangkrak. Gedung itu direnovasinya, dengan harapan bisa disewakan lagi,

Namun, setelah beberapa lama, nggak ada penyewa yang masuk. Nah, dari situlah Yenni bermanuver dengan mendirikan Oud En Niew pada awal Januari 2020. Sayangnya, beberapa bulan kemudian pandemi, membuat Yenni kesulitan mengabarkan kafe ini ke publik.

Kendati terkesan dadakan, Oud En Nieuw tetap saja menampilkan konsep yang lumayan matang. Kesan lawas lantaran menempati GKI memang begitu kentara; Namun, permainan warna, penataan perabot, dan fasilitas di ruangan itu justru membuatnya terasa begitu modern.

Terpisah, Hendri mengatakan, Oud En Nieuw mencoba memanjakan pelanggan dengan menyediakan tempat parkir yang luas: halaman depan untuk motor, halaman belakang untuk mobil. Kalaupun ada yang perlu dikoreksi, menurut Hendri adalah pada penempatan pintunya. 

"Letak pintu tidak langsung menghadap jalan, tapi di sudut seperti kebanyakan bangunan lama. Ini bikin sebagian wisatawan (yang berkunjung ke Kota Lama) tidak tahu ada kafe di sini," aku Hendri.

Salah seorang karyawan Oud En Nieuw sedang membuat menu pannenkoek. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)
Salah seorang karyawan Oud En Nieuw sedang membuat menu pannenkoek. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Nah, untuk kamu yang kebingungan mencari Oud En Nieuw, kafe ini berlokasi sederet dengan Bank Mandiri. Letaknya hanya sepelemparan batu dari Jembatan Mberok. Kafe ini mudah dikenali dari tulisan besar "Gabungan Koperasi Batik Indonesia" berwarna hijau yang menempel di dinding. 

Oud En Nieuw buka setiap hari mulai pukul 11.00 hingga 20.00 WIB. Namun, untuk akhir pekan, mereka baru tutup sekitar pukul 21.00. Silakan mampir! (Kharisma Ghana Tawakal/E03)