Membuka Filosofi Lepet, Menu Wajib Lebaran Ketupat

Membuka Filosofi Lepet, Menu Wajib Lebaran Ketupat
Lepet, sajian khas Lebaran Ketupat. (Kompas/Shutterstock/Fotone Agus)

Lepet sering tersaji saat Lebaran Ketupat sebagai camilan. Omong-omong, kamu tahu nggak filosofi dari makanan khas Lebaran ini, Millens?

Inibaru.id – Sepekan usai Hari Raya Idulfitri, sebagian masyarakat Indonesia juga merayakan Lebaran Ketupat. Nah, pada momen tersebut, hidangan khas seperti ketupat dan lepet bakal dikonsumsi.

Kabarnya, lepet sudah dikonsumsi sejak Sunan Kalijaga menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa. Tapi, di masa itu, lepet bukan dijadikan makanan pokok, melainkan sebagai camilan saja.

Sejarah soal perayaan Lebaran Ketupat bisa kamu tarik jauh hingga ke masa Kerajaan Mataram di bawah pemerintahan Paku Buwono IV. Istilah lain dari Lebaran Ketupat adalah Syawalan atau Badha Kupat yang diadakan di hari ketujuh Bulan Syawal.

Perayaan ini dilakukan karena usai Hari Raya Idulfitri, masyarakat Jawa di masa itu kembali melakukan puasa Syawal. Nah, pada hari ketujuh itu mereka merayakan ‘kemenangan lain’ dengan menyelesaikan puasa syawal tersebut. Bahkan, mereka juga kembali melakukan halal bihalal ke keluarga, sanak saudara, atau tetangga dengan membawa ketupat atau lepet.

Mengapa Lepet Juga Dihidangkan?

O ya, soal lepet, ada filosofi unik yang membuatnya selalu dihidangkan saat Lebaran Ketupat, Millens. Lepet berasal dari dua kata Bahasa Jawa yaitu ‘silep’ yang bisa diartikan sebagai kuburan atau penyimpanan dan ‘rapet’ yang berarti rapat.

Konon, lepet adalah perpaduan dari kedua kata tersebut dalam sebuah peribahasa mangga dipun silep ingkang rapet yang artinya adalah ‘mari kita kubur dengan rapat'.

Bentuk lepet seperti mayat yang dibungkus kain kafan punya makna tersendiri. (YouTube/Dapur Mama Kamila)
Bentuk lepet seperti mayat yang dibungkus kain kafan punya makna tersendiri. (YouTube/Dapur Mama Kamila)

Lepet dianggap sebagai simbol sesuatu yang suci dan bersih karena tertutup dengan rapat. Karena alasan ini pula, selain disajikan dalam bentuk makanan, lepet juga bisa dijadikan gantungan di depan pintu rumah orang Jawa sebagai pengusir hal-hal negatif.

Nah, lepet ini terbuat dari bahan beras ketan yang diberi tambahan sedikit garam serta kelapa parut. Dibungkus janur dan diikat tali dari bilah bambu, lepet dimasak dengan cara direbus. Sekilas, lepet mirip lontong tapi dengan tekstur yang jauh lebih liat. Lepet juga cenderung lebih lengket.

Kalau kamu perhatikan, lepet tampak seperti mayat yang sudah dibungkus kain kafan. Makanan ini juga dijadikan simbol manusia yang nggak luput dari kesalahan. Jadi, orang-orang yang mengonsumsinya diharapkan mau memberikan maaf kepada orang lain yang mengakui kesalahan dan meminta maaf kepadanya.

Selain itu, setiap bagian dari lepet juga punya maknanya tersendiri. Isi lepet dari ketan yajg lengket melambangkan hubungan erat antar-manusia, kelapa parut yang halus menggambarkan perasaan manusia, janur yang berasal dari kombinasi kata ‘jatining nur’ yang berarti cahaya jiwa, serta tali bambu pengikat yang melambangkan sifat persahabatan manusia.

Wah, filosofis banget ya makanan yang satu ini? Omong-omong, kamu sudah makan lepet belum pada Lebaran ini, Millens? (Lip/IB09/E05)