Asyik, Mendoan Banyumas jadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia

Asyik, Mendoan Banyumas jadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia
Mendoan Banyumas jadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia 2021. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)

Salah satu gorengan paling ikonik di Indonesia, tempe mendoan Banyumas dikukuhkan pemerintah jadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Wih, jadi kemenangan besar bagi masyarakat dan kebudayaan Banyumas, nih!

Inibaru.id – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memastikan tempe mendoan banyumas jadi warisan budaya tak benda (WBTB) Indonesia. Hal ini dipastikan pada Penetapan Warisan Budaya Tak Benda Indonesia Tahun 2021 yang diadakan di Jakarta, Jumat (29/10/2021).

Kalau menurut Kasi Nilai Tradisi Dinas Pemuda Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas Mispan, mendoan Banyumas masuk dalam WBTB kategori Keterampilan dan Kemahiran Kerajinan Tradisional. Sebagai warga sana, Mispan mengaku sangat bangga akan penetapan ini.

Mendoan adalah makanan yang sangat digemari masyarakat Banyumas. Masyarakat di kabupaten yang ada di Jawa Tengah ini bersama dengan pemerintah setempat pun seperti terus melestarikannya dengan berbagai cara.

Kamu bakal dengan mudah menemukannya di berbagai lokasi yang ada di Banyumas dan kabupaten-kabupaten di sekitarnya seperti Purbalingga, Banjarnegara, Cilacap, atau Kebumen. Di Banyumas bahkan, ada sentra industri tempe mendoan yang berlokasi di Desa Pliken, Kecamatan Kembaran. Di sini, 720 pengrajin mendoan bahkan bisa memproduksi 12 ton mendoan setiap hari!

Yang menarik, nggak hanya mendoan yang jadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Ebeg, salah satu kesenian khas dari Kabupaten Banyumas, juga ditetapkan dalam kategori seni pertunjukan.

Mendoan Banyumas sudah ada sejak berabad-abad yang lalu. (Limakaki)
Mendoan Banyumas sudah ada sejak berabad-abad yang lalu. (Limakaki)

Mengenal Lebih Dalam Mendoan

Budayawan Ahmad Tohari ikut angkat bicara terkait dengan pengukuhan status mendoan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Dia pun membahas lebih dalam terkait dengan penganan yang diberi nama dari kata khas Banyumasan ‘mendo’ ini.

“Mendo artinya lembek, nggak keras. Tapi juga dinisbatkan kepada suatu sikap atau mentalitas. Misalnya, orang berhati mendo itu artinya tidak kuat atau lemah,” terang Tohari, Senin (1/11).

Jadi ya, Millens, mendoan bisa mendapatkan sebutan ini karena sebenarnya masuk dalam produk penganan yang setengah jadi. Kalau benar-benar digoreng hingga matang, jadinya adalah keripik tempe. Tapi, karena di tengah-tengah proses penggorengan kemudian diangkat, jadilah mendoan yang masih lembek tapi sangat nikmat untuk dijadikan lauk atau camilan.

Konon, mendoan sudah ada sejak abad ke-16. Kalau menurut Tohari, saat itu masyarakat Nusantara sudah mengenal tempe dan tahu. Di sisi lain, Mispan menyebut kajian dari Dinporabudbar Bayumas menemukan fakta bahwa mendoan sudah dikonsumsi masyarakat Banyumas sejak 1870-an. Hanya, mendoan baru benar-benar dijadikan komoditas komersial di Banyumas sehingga menjadi ikon kuliner wilayah ini sejak 1960-an.

Pengukuhan ini seperti menjadi kemenangan bagi masyarakat Banyumas. Siapapun boleh menjual atau menjajakan mendoan di mana saja di Indonesia, ataupun di belahan dunia lain. Namun, tetap saja, mendoan yang asli bakal hanya ditemukan di Banyumas, dan nama mendoan pasti akan terus terafiliasi dengan Banyumas! (Kom, Moj/IB09/E05)