Kisah dari Semarang Utara, Butuh Sebulan untuk Bikin Satu Kapal

Tambakrejo di Semarang Utara dikenal sebagai salah satu penghasil kapal di Semarang. Beginilah potret keseharian mereka! 

Inibaru.id – Kawasan Tambakrejo dan Tambaklorok di Semarang Utara, Kota Semarang, Jawa Tengah, dikenal sebagai sentra pembuatan kapal. Hampir tiap hari kapal dan perahu dari kayu diproduksi di tempat ini. 

Pengin mengenal lebih detail, saya pun langsung mengunjungi salah seorang pembuat kapal dari Kelurahan Tambakrejo. Saya bertemu Abdul Wahib, lelaki 47 tahun yang bertempat tinggal di sebelah dermaga. Selama 20 tahun menjadi pembuat kapal, dia sudah membuat puluhan kapal. 

“Saya mengikuti jejak ayah saya yang dulu juga pembuat kapal sekaligus nelayan,” ujar Abdul, Jumat (29/10/2021).

Dia menambahkan, keterampilan membuat kapal memang hanya dipelajari ya dari sang ayah, tanpa menempuh pendidikan formal. Sisanya, dia belajar sendiri dan bertukar pikiran dengan kawan-kawannya sesama nelayan.

“Umur 15 tahun saya sudah belajar bikin kapal dari ayah, memang profesi ini niatnya mau diwariskan turun-tremurun. Belajarnya sambil kerja, ditekuni hingga bisa sendiri,” ujar Abdul.

Selain Abdul, saya juga bertemu Hanif. Lelaki berumur 34 tahun ini juga seorang pembuat kapal di Kelurahan Tambakrejo. Dia sudah menjadi pembuat kapal selama lima tahun terakhir.

“Dari kecil saya dibesarkan di Tambakrejo, jadi sudah terbiasa ikut ayah saat bekerja membuat kapal," terang lelaki yang menjadi pembuat kapal lantaran meneruskan profesi orang tuanya tersebut sembari sebagai mengukur kayu jati dengan penggaris.

Berbahan Kayu Jati

Saat saya menyambangi Hanif, dia tengah mempersiapkan kapal kayu yang belum lama ini dipesan orang. Dia mengatakan, kayu yang tengah diukurnya berjenis jati, yang nantinya akan dipakai sebagai pondasi utama kapal.

Agar bisa melengkung, kayu keras tersebut kemudian dibakar di atas bara api. Kayu dibakar hingga mendapatkan bentuk yang diinginkan. 

Hanif sedang mengerjakan kapal selebar 3x7 meter yang nantinya bakal mampu menampung sekitar 20 orang. Rencananya, kapal penangkap ikan ini akan dijual seharga Rp 100 juta. Pembelinya adalah nelayan setempat. 

Untuk mengerjakan kapal ini, Hanif membutuhkan waktu sekitar 1-2 bulan. (Triawanda Tirta Aditya/E03).