Kiai Ahmad Rifa'i, Melawan Kolonialisme Belanda dengan Kata-kata

Kiai Ahmad Rifa'i, Melawan Kolonialisme Belanda dengan Kata-kata
Sosok Kiai Ahmad Rifa'i, pahlawan nasional asal Kendal. (Tanbihun.com)

Perlawanan untuk mengusir kolonialisme Belanda sangatlah beragam. Biasanya, pada ulama memiliki caranya sendiri yang tentunya tanpa kekerasan. Kiai Ahmad Rifa’i misalnya. Dia memilih melawan Belanda dengan cara dakwah dan tulisan-tulisannya.

Inibaru.id - Kiai Ahmad Rifa’i merupakan pahlawan nasional Indonesia dari Kendal, Jawa Tengah yang melawan Belanda melalui kata-kata. Seperti apa sih perjuangannya dalam melawan penjajah?

Ahmad Rifa’i lahir di Tempuran, sebuah desa kecil di Kendal pada 9 Muharran 1200 H (1789 M). Sejak kecil, dia dikenal memiliki kecerdasan yang luar biasa. Masa mudanya dipenuhi dengan berbagai ajaran ilmu agama Islam. Maklum, setelah ayahnya wafat saat usianya baru enam tahun, Kiai Ahmad Rifa’i diasuh oleh pamannya KH Asy’ari, seorang ulama terkemuka di Kaliwungu, Kendal.

Demi memperdalam ilmu agama, Kiai Ahmad Rifa’i menunaikan ibadah haji dan bermukim di Makkah, Arab Saudi, selama 8 tahun untuk menuntut ilmu. Nggak cukup, saat berusia 38 tahun, dia pergi ke Kairo, Mesir untuk mendalami kitab-kitab Fiqih Syafi’i selama 12 tahun.

Masa Penjajahan Belanda

Pada masa penjajahan, Kiai Ahmad Rifa’i merupakan salah satu ulama yang gigih melakukan perlawanan. Soalnya, pada masa itu, masyarakat sangat terpuruk akibat terus dijajah dan mendapatkan kebijakan yang nggak adil. Dengan penuh keprihatinan, sang Kiai pun melakukan perlawanan melalui dakwah dan protes sosial hingga akhir hayatnya.

Kitab <i>Tarajumah, </i>karya Kiai Ahmad Rifa'i yang sekarang diwariskan kepada santrinya. (Facebook/Rifa'iyah Wonosobo)
Kitab Tarajumah, karya Kiai Ahmad Rifa'i yang sekarang diwariskan kepada santrinya. (Facebook/Rifa'iyah Wonosobo)

Saking gigihnya terus melakukan dakwah yang kritis dan berani, Kiai Ahmad Rifa'i sampai dijuluki singa podium. Contohnya, dia selalu melontarkan kritik kepada pemerintah dan aparat feodal setiap kali berdakwah. O ya, selain berdakwah, Kiai Ahmad Rifa’i juga membangun sebuah pondok pesantren di Kalisalak, Batang. Dari pondok inilah dia mendirikan Gerakan Rifa’iyah.

Gerakan ini melakukan perlawanan politis melalui penulisan dan pengajaran kitab-kitab Tarajumah. Tujuan perlawanan ini tentu saja adalah pemerintah kolonial Belanda dan para birokrat lokal yang bekerja untuk kolonial. Caranya? Dengan tidak menaati dan tidak mengakui perintah dari lembaga formal yang ada pada masa itu. Tegas!

Kitab Tarajumah ini merupakan hasil terjemahan dari kitab berbahasa Arab ke bahasa Jawa dengan menggunakan huruf Arab Pegon. Kitab ini berisikan tentang ilmu dasar-dasar Islam seperti Fiqih (ilmu tentang hukum Islam) dan Tasawuf (cara atau jalan untuk mendekatkan diri pada Allah SWT).

Kiai Ahmad Rifa'i yang dimakamkan di Minahasa tempat perasingannya. (Twitter/Gun Romli)
Kiai Ahmad Rifa'i yang dimakamkan di Minahasa tempat perasingannya. (Twitter/Gun Romli)

Gerakan-gerakan serta kritikan yang dilakukan oleh Kiai Ahmad Rifa’i tentu saja membawa pengaruh besar di kalangan masyarakat dan mengakibatkan suhu politik pada masa itu semakin memanas. Para priyayi yang gerah dengan sepak terjangnya sampai melaporkan Kiai Ahmad Rifa’i ke pemerintah kolonial Belanda. Hal ini membuatnya ditahan di Kendal pada 1849. Dia kemudian diasingkan ke Ambon karena dianggap tidak taat pada pemerintah Belanda.

Meskipun masih dalam masa pengasingan, Kiai Ahmad Rifa’I tetap melakukan perlawanan dengan tulisan yang dirangkum dalam kitab-kitabnya.

Sebelum wafat di tempat pengasingannya di Kampung Jawa Tondano, Sulawesi Utara, Kiai Ahmad Rifa'i terus produktif menulis dan menjalin komunikasi rahasia dengan santri-santrinya. Setidaknya, ada 68 karya milik Kiai Ahmad Rifa’i yang diwariskan kepada generasi Islam saat ini. Luar biasa, ya, Millens(Nu,Lad, Hal/ IB32/E07)