Inibaru.id - Semarang tampaknya tak lagi ingin hanya dikenal sebagai kota transit atau sekadar latar syuting film. Melalui Lawang Sewu Short Film Festival (LOFF) 2026, Ibu Kota Jawa Tengah itu mulai menegaskan ambisinya menjadi pusat ekosistem perfilman yang hidup dan mandiri.
Peluncuran festival film pendek tahun kedua tersebut dilakukan langsung oleh Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, di kawasan Lawang Sewu. Tahun ini, LOFF hadir dengan identitas visual baru yang lebih global sekaligus membawa visi besar: menjadikan Semarang sebagai Kota Sinema atau Cinematic City yang mampu bersaing di tingkat internasional.
Mengusung tema “Seribu Pintu Menuju Sinema Dunia, Semarang Berkisah untuk Cerita Dunia”, festival ini mencoba memadukan kekuatan sejarah Lawang Sewu dengan semangat industri kreatif masa kini. Lawang Sewu yang dikenal sebagai ikon bersejarah Kota Semarang dimaknai sebagai simbol “seribu pintu” yang terbuka bagi para sineas untuk membawa kisah-kisah lokal menuju panggung dunia.
“Melalui festival ini, kita ingin menjadikan Semarang sebagai ruang produktif tempat tradisi bertemu dengan inovasi kreatif, sekaligus menjadi jembatan bagi karya film pendek Indonesia untuk mendunia,” ujar Agustina dalam keterangan tertulis, Sabtu (23/5/2026).
Berbeda dari tahun sebelumnya, LOFF 2026 tidak hanya menghadirkan kompetisi film pendek. Festival ini dirancang lebih serius dengan membangun ekosistem perfilman dari hulu ke hilir. Rangkaian acaranya akan berlangsung sejak Mei hingga Oktober 2026.
Sejumlah program baru pun disiapkan, mulai dari forum diskusi Lawang Talks, Workshop & Mini Lab untuk pengembangan kapasitas sineas muda, hingga LOFF Film Fund sebagai stimulus pendanaan karya film. Selain itu, ada pula LOFF Market dan Film Week yang menjadi ruang pertemuan antara pelaku industri kreatif dan publik.
Agustina menyebut langkah tersebut merupakan bentuk dukungan Pemerintah Kota Semarang terhadap pertumbuhan industri kreatif lokal. Pemerintah ingin menyediakan ruang yang sehat bagi para kreator muda agar tidak hanya produktif menghasilkan karya, tetapi juga mampu menjadikan film sebagai sektor ekonomi kreatif yang menjanjikan.
“Kami ingin memfasilitasi para kreator muda agar mereka tidak hanya produktif menciptakan karya, tetapi juga mampu berlayar membawa narasi-narasi lokal ke panggung komersial yang lebih luas,” katanya.
Keseriusan festival ini juga terlihat dari keterlibatan sejumlah nama besar perfilman Indonesia. Sineas Hanung Bramantyo, aktris Nirina Zubir, hingga sutradara Yandy Laurens dipastikan terlibat sebagai dewan juri. Kehadiran mereka diharapkan bukan sekadar memberi penilaian, tetapi juga membuka ruang transfer pengetahuan bagi komunitas film pendek di Indonesia.
Bagi Semarang, LOFF tampaknya bukan hanya soal festival tahunan. Lebih dari itu, festival ini menjadi upaya membangun identitas baru kota: bukan sekadar tempat singgah, melainkan ruang tumbuh bagi cerita, kreativitas, dan industri sinema masa depan. (Ike/E01)
