Inibaru.id - Keberadaan terminal bayangan di beberapa titik di Kota Semarang membuat pencatatan jumlah bus dan penumpang yang masuk atau keluar Ibu Kota Jawa Tengah itu menjadi kurang akurat. Hal itu sebagaimana dikatakan Kepala Terminal Mangkang Reno Adi Pribadi.
Menurutnya, bus yang menaikkan dan menurunkan penumpang di luar terminal resmi berpotensi membuat data jumlah penumpang sulit tercatat dengan baik, sekaligus menjadikan aktivitas penumpang di terminal Tipe A itu tampak berkurang menjelang mudik Lebaran 2026.
"Ini menjadi perhatian serius kami, karena sangat berpengaruh," kata Reno saat ditemui di Terminal Mangkang, Selasa (10/3/2026). "Di Kota Semarang, ada tiga titik yang dikenal sebagai terminal bayangan, yaitu kawasan Terboyo, Sukun-Banyumanik, dan Krapyak atau Jalan Siliwangi."
Penertiban terminal bayangan, Reno menambahkan, adalah kewenangan Pemkot Semarang. Sementara, yang bisa dilakukannya adalah rutin mengimbau penumpang hingga pengusaha otobus agar menaikkan dan menurunkan penumpang di terminal resmi.
"Kami sudah bersurat kepada pengusaha bus dan menyarankan agar semua kegiatan dilakukan di terminal resmi. Kalau mau menjual karcis dipersilakan, asalkan ada izin dari Dinas Perdagangan atau instansi terkait," terangnya.
Statistik Nggak Sesuai Realitas
Reno menekankan, menurunkan dan menaikkan orang di terminal resmi akan membuat penumpang lebih aman. Selain itu, pengawasan fasilitas dan kebersihan yang tersedia untuk penumpang juga lebih terjaga dibandingkan dengan beraktivitas di terminal bayangan.
Sebagaimana disebutkan Reno sebelumnya, selama ini keberadaan terminal bayangan di Semarang memang membuat data bus yang memasuki Kota Lunpia sulit terpantau lantaran sebagian besar kendaraan nggak tercatat dalam sistem yang ada di terminal resmi.
"Karena jumlah bus yang masuk Semarang tidak terpantau, statistik bus yang masuk menjadi tidak sesuai dengan realitas karena banyak yang berhenti di terminal bayangan," keluhnya.
Dia menyebut, bus yang tercatat melakukan aktivitas keluar-masuk Terminal Mangkang dalam sehari rata-rata 80 hingga 100 bus; hasil akumulasi 24 jam, mengingat terminal yang berlokasi di ujung barat Kota Semarang ini juga berfungsi sebagai terminal lintas.
"Jumlah itu diperkirakan baru 30-40 persen dari keseluruhan," tuturnya.
Aktivitas di Terminal Bayangan Sudah Dilarang
Untuk menyambut pemudik, Reno mengungkapkan, Terminal Mangkang telah menyiapkan berbagai fasilitas, termasuk di dalamnya area istirahat untuk para penumpang yang dibuat dengan memanfaatkan ruang kosong di dalam gedung terminal.
"Puncak arus mudik di Terminal Mangkang diprediksi tiga hari sebelum lebaran. Kami berharap bus dan penumpang tetap beraktivitas di terminal resmi demi keamanan yang lebih terjamin," tandasnya.
Sementara itu, menanggapi persoalan ini, Kabid Lalu Lintas Jalan Dishub Jateng, Erry Derima Ryanto menegaskan bahwa aktivitas bus maupun penumpang di terminal bayangan sudah dilarang. Menurutnya, berhenti di terminal resmi penting untuk menjaga ketertiban sekaligus menghindari kemacetan.
"Sanksi berupa teguran sudah sering diberikan Pemkot Semarang. Namun, untuk penanganan lebih lanjut, silakan tanyakan ke mereka (Pemkot)," tandas Erry.
Terminal resmi acap nggak dipilih karena mungkin lokasinya terlalu jauh. Namun, untuk alasan keamanan, pengawasan, dan kelengkapan fasilitas, jauh sedikit nggak apa-apa dong? Mudik kali ini, kamu masuk tim yang naik bus di terminal resmi atau bayangan nih, Gez? (Sundara/E10)
