Inibaru.id – Hujan deras yang disertai dengan kabut tebal yang melanda kawasan Sumowono, Kabupaten Semarang, sejak Minggu (15/2/2026) malam nggak menyurutkan niat Fadhila untuk bangun dini hari untuk memetik bunga mawar di ladangnya. Maklum, dalam beberapa pekan belakangan, harga mawar tabur sedang harum-harumnya.
Target mereka cukup jelas. Begitu adzan subuh berkumandang, bunga harus sudah selesai dipetik. Setelah pulang dan salat, mereka segera menyortir bunga-bunga tersebut dan menempatkannya di senik, semacam keranjang dari bahan rotan. Setelah itu, mereka membawanya ke Pasar Bunga Bandungan sekitar pukul 05.30 WIB.
Dibonceng suaminya dengan sepeda motor, Fadhila menembus kabut tebal yang masih menyelimuti lereng selatan Gunung Ungaran. Begitu mendekati Alun-alun Bandungan, mereka sedikit dikejutkan dengan sudah banyaknya tengkulak di area utara Alun-alun. FYI aja nih, hal ini sangat nggak biasa karena tengkulak yang membeli bunga dari petani biasanya hanya mangkal nggak jauh dari Pasar Bunga Bandungan.
Melihat hal ini, keduanya langsung yakin mawar yang mereka bawa akan laku dengan harga tinggi. Tapi, mereka nggak menyangka hasil tawar-menawar dengan tengkulak dari luar daerah membuat mereka mendapatkan harga fantastis. Per keranjang, mereka mampu menjual mawar tabur seharga Rp250 ribu! Padahal, mereka membawa 4 keranjang bunga.
“Di luar bulan Ruwah atau jelang Idulfitri, kalau mampu menjual bunga sampai lebih dari Rp50 ribu per keranjang itu sudah sangat bagus. Tadi kita belum sampai area pasar sudah dicegat tengkulak dan langsung tawar-menawar. Empat keranjang saya laku Rp1 juta,” ungkap Fadhila dengan senyum merekah pada Senin (16/2/2026) pagi.
Adik ipar Fadhila, Durotun, juga mendapatkan harga yang sama untuk 3 keranjang bunga mawar yang dia panen tadi pagi.
“Sudah dua mingguan ini kita menjual bunga lebih dari Rp50 ribuan terus per keranjang. Terkadang Rp80 ribu, terkadang Rp100 ribu. Kalau saya panen bawa 2 atau 3 keranjang setiap hari langsung jual, kalau kakak saya dua hari sekali tapi bawanya lebih banyak. Alhamdulillah banget jelang lebaran kita mendapatkan rezeki banyak,” ungkap perempuan berusia 40 tahun tersebut.
Menurut Fadhila ataupun Durotun, permintaan mawar memang meningkat jelang bulan puasa. Banyak orang ingin nyekar ke makam keluarga yang sudah tiada. Lebih dari itu, jumlah bunga yang tersedia memang berkurang dari sebelumnya karena banyak petani mawar yang melakukan pruning pada pertengahan Januari demi menyiapkan mawar-mawarnya mekar maksimal jelang Lebaran nanti. Padahal, mawar yang dipruning butuh waktu sekitar 40 hari-50 hari untuk mulai kembali mekar, Gez.
“Harga mawar juga naik jelang Lebaran nanti. Tapi karena jumlah mawar jadi berkurang, sementara kebutuhan juga tinggi, makanya banyak tengkulak dari luar kota sampai nyari ke sini langsung. Otomatis harganya tinggi. Memang rezeki buat kami,” kata Fadhila.
Ikut bahagia dengan petani mawar yang mendapatkan harga bagus untuk hasil panennya, ya, Gez. (Arie Widodo/E07)
