Inibaru.id - Rawa gambut sering kali dipandang sebagai lahan basah berlumpur yang dipenuhi pepohonan liar. Padahal, ekosistem ini menyimpan peran penting bagi keseimbangan lingkungan, mulai dari menyimpan karbon dalam jumlah besar hingga menjadi habitat bagi beragam satwa dan tumbuhan. Di dalam hutan rawa gambut, pohon ramin, jelutung, dan berbagai vegetasi khas tumbuh berdampingan dengan satwa seperti orangutan Kalimantan.
Keistimewaan rawa gambut terletak pada lapisan tanahnya yang terbentuk dari tumpukan sisa tumbuhan yang mengalami pembusukan secara lambat selama ribuan tahun. Kondisi tanah yang jenuh air dan minim oksigen menghambat proses penguraian bahan organik. Akibatnya, karbon dari sisa tumbuhan tersebut tersimpan dalam lapisan gambut dalam waktu yang sangat lama.
Namun, kemampuan gambut menyimpan karbon sangat bergantung pada kondisi alaminya. Ketika lahan dikeringkan untuk pembukaan perkebunan atau kepentingan lainnya, lapisan gambut menjadi lebih mudah terbakar. Kebakaran pun tidak hanya menghanguskan pepohonan di permukaan, tetapi juga dapat melahap lapisan tanah organik yang terbentuk selama ribuan tahun.
Kerusakan tersebut membuat rawa gambut menghadapi ancaman berlapis. Selain kehilangan tutupan hutan dan habitat satwa, kebakaran juga melepaskan karbon yang tersimpan di dalam tanah ke atmosfer. Karena itu, menjaga gambut tetap basah bukan sekadar upaya melindungi hutan, melainkan juga bagian penting dari perlindungan iklim.
Cadangan Karbon
Besarnya peran gambut dalam menyimpan karbon telah menjadi perhatian para peneliti. Salah satunya dibahas dalam penelitian berjudul Carbon Accumulation of Tropical Peatlands over Millennia: A Modeling Approach yang ditulis Sofyan Kurnianto, Matthew Warren, Julie Talbot, J. Boone Kauffman, Daniel Murdiyarso, dan Steve Frolking. Penelitian tersebut diterbitkan dalam jurnal Global Change Biology, volume 21, nomor 1, halaman 431–444, pada Januari 2015.
Melalui pendekatan pemodelan, penelitian itu mengkaji proses penumpukan karbon di lahan gambut tropis selama ribuan tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa pembentukan gambut berlangsung sangat lambat, sedangkan perubahan penggunaan lahan yang disertai pengeringan dan pembakaran dapat melepaskan karbon yang telah tersimpan dalam waktu panjang. Temuan ini memperlihatkan betapa besar kerugian ekologis ketika lahan gambut mengalami kerusakan.
Selain menyimpan karbon, rawa gambut juga berperan dalam mengatur tata air. Lapisan gambut yang terjaga kelembapannya dapat menyimpan air dan membantu mempertahankan kondisi hidrologis kawasan. Fungsi ini penting untuk menjaga ketersediaan air, terutama ketika curah hujan menurun. Sebaliknya, pengeringan gambut melalui kanal drainase dapat mengubah kondisi alami tersebut dan meningkatkan kerentanan lahan terhadap kebakaran.
Manfaatnya juga terasa bagi keanekaragaman hayati. Kawasan hutan rawa gambut, termasuk bentang alam Sebangau dan Mawas di Kalimantan Tengah, menjadi bagian penting dari habitat satwa liar. Hutan yang terjaga menyediakan sumber pakan, tempat berlindung, dan ruang hidup bagi berbagai jenis satwa, termasuk orangutan.
Bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya, keberadaan ekosistem ini pun berkaitan erat dengan sumber penghidupan. Hasil hutan bukan kayu, perikanan air tawar, serta berbagai pemanfaatan sumber daya alam yang sesuai dengan daya dukung lingkungan dapat menopang kehidupan warga. Dengan demikian, menjaga rawa gambut tetap sehat bukan hanya tentang melindungi karbon dan satwa, tetapi juga mempertahankan ruang hidup masyarakat.
Kebakaran dan Restorasi Gambut
Sayangnya, fungsi penting rawa gambut dapat terganggu ketika lahan dibuka dan dikeringkan secara berlebihan. Salah satu penyebabnya adalah pembuatan kanal drainase yang mengalirkan air keluar dari kawasan gambut. Ketika air di dalam tanah terus berkurang, lapisan gambut menjadi lebih kering dan mudah terbakar.
Pantau Gambut, sebuah organisasi pemantau lingkungan yang mengkaji kondisi dan kebijakan perlindungan gambut di Indonesia, menjelaskan bahwa pengeringan lahan gambut kerap dilakukan melalui pembuatan kanal agar lahan dapat digunakan untuk berbagai kegiatan, termasuk perkebunan. Padahal, penurunan kelembapan gambut dapat meningkatkan risiko kebakaran, terutama ketika memasuki musim kemarau.
Kebakaran lahan gambut juga memiliki karakteristik yang membuatnya sulit ditangani. Api tidak selalu terlihat menyala di permukaan. Dalam kondisi tertentu, bara dapat merambat di bawah tanah dan membakar material organik secara perlahan. Fenomena ini dikenal sebagai smoldering fire atau "api zombie" yang berarti proses pembakaran lambat tanpa kobaran api.
Karena berlangsung di bawah permukaan, titik api dapat sulit ditemukan dan dijangkau. Bara yang belum sepenuhnya padam juga berpotensi memicu kebakaran kembali. Selain merusak vegetasi dan habitat satwa, kebakaran gambut menghasilkan asap yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat serta melepaskan karbon ke atmosfer.
Untuk mengurangi risiko tersebut, pemulihan ekosistem gambut perlu dimulai dengan mengembalikan kondisi airnya. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah pembasahan kembali atau rewetting. Menurut Pantau Gambut, upaya ini dapat dilakukan melalui pembangunan sekat kanal, penimbunan kanal, dan infrastruktur penahan air lainnya agar air tidak terus mengalir keluar dari kawasan gambut.
Setelah kondisi air membaik, pemulihan dapat dilanjutkan melalui penanaman kembali atau revegetasi menggunakan jenis tumbuhan yang sesuai dengan ekosistem gambut, seperti jelutung, ramin, dan meranti. Pemilihan vegetasi yang tepat membantu memulihkan tutupan lahan sekaligus mendukung keberlangsungan habitat satwa.
Namun, restorasi gambut tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur dan penanaman pohon. Keterlibatan masyarakat setempat juga menjadi bagian penting dari upaya jangka panjang. Pantau Gambut menekankan pentingnya pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui kegiatan yang ramah gambut, seperti pengembangan usaha madu, pertanian tanpa bakar, dan ekowisata berbasis konservasi.
Langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa perlindungan rawa gambut perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari menjaga tata air, memulihkan vegetasi, hingga memastikan masyarakat memiliki pilihan penghidupan yang sejalan dengan kelestarian lingkungan.
Rawa gambut mungkin tampak seperti hamparan tanah basah yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun, karbon yang tersimpan di dalamnya, air yang dijaganya, dan satwa yang bergantung padanya membuat ekosistem ini memiliki arti penting bagi banyak orang.
Menjaga gambut tetap basah berarti mempertahankan fungsi ekologis yang terbentuk selama ribuan tahun. Sebab, ketika lapisan gambut terbakar dan rusak, pemulihannya tidak dapat berlangsung dalam waktu singkat. Melindungi rawa gambut hari ini menjadi salah satu cara untuk menjaga keseimbangan iklim, keanekaragaman hayati, dan keberlanjutan kehidupan di masa depan. (Ike/E01)
