Inibaru.id - Sering merasa dikejar-kejar deadline sampai lupa caranya napas tenang? Atau merasa bersalah setiap kali pengin rebahan padahal kerjaan numpuk? Kalau iya, mungkin ini saatnya kamu kenalan sama tren yang lagi naik daun yaitu Soft Living.
Dulu identik sama Gen Z, sekarang para Milenial yang sudah mulai burnout berjemaah juga ikutan mengadopsi gaya hidup "lembut" ini.
Jangan salah sangka dulu, Gez. Soft living bukan berarti kamu jadi pemalas atau hidup mewah tanpa kerja keras. Mengutip dari BuzzFeed, konsep ini sebenarnya lebih ke arah menjaga kondisi mental dan emosional agar tetap stabil, meskipun dunia di sekitar kita lagi chaos banget.
Selama ini, kita mungkin terjebak pola pikir kalau makin kerja keras bagai kuda, makin sukses pula hidup kita. Padahal, memaksakan diri ambil lembur tiap hari atau tetap datang ke acara sosial padahal badan sudah "teriak" capek justru bikin kita cepat tumbang.
Berawal dari Estetika, Berujung Jadi Filosofi
Istilah ini awalnya populer di media sosial lewat tren 'soft girl' yang dipopulerkan oleh influencer asal Nigeria. Dulunya sih cuma soal gaya berpakaian yang feminin, warna pastel, atau gaya cottagecore yang estetik.
Tapi lama-lama, maknanya bergeser jadi gaya hidup yang lebih dalam. Di tengah biaya hidup yang makin tinggi, soft living jadi bentuk "protes" halus terhadap tuntutan produktivitas yang nggak manusiawi.
Lalu bagaimana cara memulai soft living?
Nggak perlu langsung resign atau pindah ke desa kok buat memulai gaya hidup ini. Kamu bisa mulai dari kebiasaan kecil berikut:
- Berani Bilang "Nggak": Belajarlah buat menolak pekerjaan tambahan atau ajakan nongkrong kalau energimu sudah di titik nol. Menjaga batasan energi itu penting, Gez!
- Cari Cara Istirahat yang Pas: Nggak selamanya istirahat itu harus liburan mahal. Jalan santai di taman sore-sore, tidur siang tanpa gangguan, atau sekadar me-time juga sudah cukup.
- Rayakan Kenyamanan Kecil: Pakai cangkir lucu favoritmu buat minum kopi, atau sesekali pesan makanan lewat ojol kalau memang kamu terlalu capek buat masak. Self-reward kecil itu perlu!
- Buang Jauh Rasa Bersalah: Ingat, istirahat itu bukan tanda malas, tapi kebutuhan biologis. Jangan merasa berdosa cuma karena kamu memilih buat nggak melakukan apa-apa selama beberapa jam.
- Fokus pada Hal yang Bisa Dikontrol: Terima kenyataan kalau nggak semua hal di dunia ini bisa kamu atur. Fokus saja pada hal-hal yang masih ada dalam kendalimu.
Hidup cuma sekali, jangan sampai habis cuma buat mengejar standar sukses orang lain sampai kamu lupa caranya bahagia. Soft living mengingatkan kita kalau menjadi "lembut" pada diri sendiri adalah bentuk kekuatan yang sebenarnya.
Gimana, tertarik buat mempraktikkan soft living mulai besok? Atau kamu punya cara sendiri buat tetap tenang di tengah tekanan kerja? (Siti Zumrokhatun/E05)
