Ironi Kaum Milenial; Populasi Terbesar yang Paling Kesepian di Dunia

Ironi Kaum Milenial; Populasi Terbesar yang Paling Kesepian di Dunia
Generasi milenial, kaum paling kesepian di dunia. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)

Menempati populasi terbesar di dunia dan dianggap paling melek teknologi, generasi ini justru dianggap sebagai orang-orang paling kesepian di dunia. Inilah ironi kaum milenial.

Inibaru.id – Sedekade silam, milenial dianggap sebagai generasi anak muda yang mengubah banyak hal. Kaum ini identik dengan orang-orang yang mendobrak tradisi, manusia-manusia melek teknologi, dan sosok-sosok energetik yang penuh gairah. Namun, konon, kaum ini kini dianggap sebagai yang paling kesepian di dunia.

Menjadi generasi yang lahir antara 1980 hingga 1997, saat ini milenial menjadi kaum yang tengah berada di puncak usia produktif. Sebagian dari mereka berusia antara 30-40 tahun. Sayang, di balik produktivitas kerja ini, mereka dianggap sebagai orang-orang paling kesepian versi YouGov.

Hasil survei perusahaan riset pasar dan analisis data berbasis internet dunia itu pada 2019 pernah menyimpulkan, 30 persen kaum milenial merasa kesepian, 30 persen nggak punya sahabat, dan 27 persen nggak punya teman berbagi. Mereka mengatakan, satu dari lima milenial nggak punya teman.

Setahun sebelumnya, penelitian dari University of Pennsylvania kian menguatkan klaim ini. Kendati acap tampak asyik menghabiskan waktu di medsos, tingkat kebahagiaan milenial diklaim sangatlah rendah. Ini terjadi karena ada perubahan pola pertemanan manusia sejak kemunculan medsos.

Gara-Gara Medsos

Penggunaan media sosial ternyata membuat banyak generasi milenial kesepian. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)
Penggunaan media sosial ternyata membuat banyak generasi milenial kesepian. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)

Kendati medsos membuat kita lebih mudah mendapatkan kenalan baru, orang-orang tersebut rupanya nggak serta-merta bisa menjadi teman di dunia nyata. Sementara, untuk menghilangkan rasa kesepian, sosok yang dibutuhkan adalah mereka yang benar-benar bisa menjadi teman dalam kehidupan nyata.

Teman yang dimaksud adalah yang bisa diajak untuk bersosialisasi, berbagi cerita secara langsung, dan tertawa bareng; bukan tawa yang terjalin via teks pesan, emoticon, atau bahkan panggilan video. Nah, peran medsos rupanya belum berhasil menawarkan "fitur" tersebut.

Kegagalan medsos ini pun pada akhirnya membuat banyak milenial mencari kebahagiaan yang lebih hakiki, misalnya dengan traveling ke suatu tempat, menghubungi kawan-kawan lama, atau melakukan temu kangen, berkumpul bersama orang-orang yang dikenal.

Psikolog klinis dari Glendon Association Lisa Firestone mengatakan, untuk mengatasi kesepian dan memperkuat kejiwaan, kita memang sebaiknya melakukan sosialisasi dengan teman-teman yang nyata.

"Keluarlah dan bersosialisasi. Media sosial hanya akan mengisolasi,” tegasnya. 

Wahai para milenial, apakah kamu juga mengalami perasaan yang sama? Cobalah skrol kontak di ponselmu, adakah yang bisa kamu telepon? Sapalah dia, barangkali dia juga tengah mengalami kesepian yang sama. Baik-baik ya di sana, Millens(Cnn/IB09/E03)