Guru Semena-mena Potong Rambut Siswa, Psikolog: Itu Tindakan Kekerasan

Guru Semena-mena Potong Rambut Siswa, Psikolog: Itu Tindakan Kekerasan
Video viral anak dipotong rambut oleh gurunya hingga menimbulkan trauma. (TikTok/Reva.Juliany)

Unggahan akun TikTok @reva.juliany menunjukkan anaknya trauma karena rambutnya dipotong guru sampai berantakan. Gimana kata psikolog, ya?

Inibaru.id - Mendisiplinkan anak nggak bisa asal-asalan. Jika kita sebagai orang dewasa salah bertindak, bisa-bisa membuat cidera perasaan dan mentalnya.

Sebuah video pendek beredar pada Minggu (7/8/2022) menceritakan tindakan semena-mena yang dilakukan oleh guru kepada muridnya. Berdalih untuk mendisiplinkan anak didik, guru memotong rambut siswanya yang masih duduk di bangku kelas satu. Sang ibu bercerita bahwa setelah kejadian itu anaknya demam selama tiga hari dan mengalami trauma.

Kejadian pemotongan rambut sendiri terjadi beberapa hari sebelumnya, tepatnya pada Rabu (3/8). Saat itu, sang anak yang seharusnya pulang sekolah pada pukul 15.00 justru pulang lebih awal, yaitu pukul 12.30 WIB. Dia pulang dengan kondisi sakit dan rambut berantakan. Setelah ditanya soal rambutnya, dia menjawab kalau rambutnya dipotong guru di sekolah.

Anak saya demam selama 3 hari. Sekarang sudah mendingan, dan udah dapat sekolah baru” ungkap sang ibu.

Menurut Psikolog, Tindakan Guru Termasuk Kekerasan

Ilustrasi: Guru harus memberikan peringatan terlebih dahulu jika ada siswa yang melanggar aturan. (Tempo/Antara)
Ilustrasi: Guru harus memberikan peringatan terlebih dahulu jika ada siswa yang melanggar aturan. (Tempo/Antara)

Psikolog Anak dan Keluarga Astrid WEN, M. Psi angkat bicara terkait video yang viral tersebut. Dia pun menganggap tindakan guru yang asal memotong rambut muridnya sampai acak-acakan ini sebagai tindakan kekerasan. Apalagi jika tidak diberikan peringatan sebelumnya.

“Nggak bisa sembarangan melakukan perbuatan tanpa peringatan atau informasi. Kalau seperti ini bisa dianggap kekerasan yang nggak disadari pihak sekolah,” jelas Astrid, Selasa (9/8).

Dia nggak memungkiri jika banyak sekolah yang menerapkan aturan potong rambut. Tapi, bukan berarti tindakan yang diambil adalah langsung memotong dengan acak-acakan. Dia pun berharap tindakan ini nggak lagi dilakukan para guru di sekolah.

“Kalau saya lebih melihatnya sebagai suatu kekerasan karena nggak ada consent, penyalahgunaan kekuasaan dan nggak ada komunikasi,” lanjut Astrid.

Terkait dengan kondisi anak yang disebut-sebut mengalami trauma, Astrid menekankan pentingnya pemeriksaan psikologis dari ahli. Apalagi jika sampai anak sakit dan nggak mau sekolah sampai berhari-hari.

Namun, jika anak bisa sembuh dan setelah pindah sekolah mau melakukan aktivitas belajar, maka besar kemungkinan dia bisa pulih dengan baik.

Pentingnya Komunikasi

Ilustrasi: Meski sekolah adalah tempat anak belajar disiplin, sekolah nggak boleh semena-mena. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)
Ilustrasi: Meski sekolah adalah tempat anak belajar disiplin, sekolah nggak boleh semena-mena. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)

Memang, sekolah adalah tempat belajar bagi anak, termasuk belajar disiplin. Tapi, bukan berarti sekolah bisa melakukan tindakan semena-mena. Jika ada aturan terkait potong rambut, misalnya, maka sekolah harus menginformasikan ini ke anak dan orang tuanya. Jadi, lebih baik meminta anak atau orang tuanya memotong rambut daripada mempermalukannya di sekolah.

“Bagaimana mereka bisa memiliki karakter yang baik jika yang berkuasa memberikan contoh karakter yang tidak baik?” pungkas Astrid.

Semoga saja kasus kekerasan di sekolah dengan dalih pendisiplinan yang sebenarnya nggak tepat ini nggak lagi terjadi ya, Millens. (Kom/IB09/E10)