Pasar Apung Semarang; Bagus, tapi Ada Sedikit Catatan

Menyambangi Pasar Apung Semarang seperti mengunjungi miniatur Pasar Terapung Lok Biantan di Banjarmasin. Sebagai pusat wisata, wahana ini lumayan bagus, tapi dengan sedikit catatan. 

Inibaru.id – Jukung-jukung atau perahu panjang yang saling berdesakan dan para perempuan ber-tunggui (caping lebar berbahan rumbia) yang melakukan transaksi jual-beli hasil bumi adalah pemandangan menarik di Pasar Terapung Lok Biantan di Sungai Martapura, Banjarmasin.

Pasar dengan konsep serupa juga ada di sungai Barito, tepatnya di Muara Kuin. Pasar bertajuk Pasar Terapung Muara Kuin ini diyakini menjadi yang tertua, yang sudah ada sejak abad ke-16 bersamaan dengan berdirinya Kerajaan Banjar. Konon, sistem barter masih berlaku di pasar ini.

Sayangnya, akses yang sulit membuat kedua pasar terapung kenamaan itu cukup sulit dijangkau wisatawan. Maka, pada 2013, berdirilah Pasar Terapung Siring yang berlokasi tepat di jantung Banjarmasin; yang fungsinya bukan lagi untuk jual-beli hasil bumi, tapi murni tempat wisata.

Kini, pasar "wisata" terapung semacam itu sudah dikloning di mana-mana. Di Bandung ada Pasar Terapung Lembang, di Surabaya ada Pasar Apung Kalimas. Nah, Kota Semarang juga nggak mau ketinggalan dengan membuat wahana serupa. Pasar Apung Semarang namanya.

Berlokasi di tepi sungai Banjir Kanal Barat (BKB), lokawisata baru di Kota Lunpia ini baru dibuka bulan lalu. Percobaan pertama, Pasar Apung Semarang buka tiap Minggu selama Agustus, yakni tanggal 14, 21, dan 28. Walikota Semarang Hendrar Prihadi mengaku akan melanjutkan agenda itu jika antusiasme masyarakat cukup tinggi.

Sewa Perahu Gratis

Minggu (21/8) pagi sekitar pukul 06.30 WIB, saya sudah menjadi bagian dari antrean panjang di Pasar Apung Semarang. Agar bisa naik perahu menuju pasar apung yang berlokasi di sisi barat dan timur BKB, kita memang harus mengantre dulu. Kebetulan, pagi itu cukup banyak orang yang datang.

Naik perahu di Pasar Apung Semarang nggak dipungut biaya, cukup meninggalkan tanda pengenal. Selanjutnya, kami dipinjami pelampung dan dipersilakan naik perahu yang kosong, yang bisa diisi 4-5 orang plus pemilik perahu yang bertindak sebagai juru mudi sekaligus pemandu. 

Di pasar apung ini, terdapat belasan perahu yang disediakan panitia, yang terdiri atas perahu tradisional milik nelayan dan perahu karet kepunyaan BPBD Semarang. Selama event berlangsung, selain menjaga keselamatan pengunjung, BPBD juga memfasilitasi penambahan perahu.

Perahu-perahu ini diperuntukkan bagi pengunjung yang akan berbelanja di pasar apung. Jadi, kalau kamu cuma pengin lihat-lihat, jangan naik perahu ya. Selain karena jumlahnya terbatas, kan kasihan para pedagang yang sudah sukarela "mengapung" di BKB dalam waktu lama.

Berbeda dengan Minggu Pertama

Pagi itu lumayan ramai. Namun, beberapa pengunjung bilang nggak seriuh minggu sebelumnya. Hal serupa juga dinyatakan seorang penjual. Minggu sebelumnya, ada 30-an perahu yang dipakai oleh para penjual, yang artinya dua kali lipat dari saat saya datang.

Nunung, salah seorang penjual nasi bakar di Pasar Apung Semarang mengatakan, berbeda dengan hari pembukaan, hari itu jumlah perahunya memang dikurangi setengahnya, lalu tiap perahu diisi dua penjual. Tujuannya, agar wisatawan lebih mudah hilir mudik dan melakukan transaksi dengan penjual.

“Minggu pertama (14 Agustus) memang ramai sekali, apalagi hari pembukaan," ungkapnya. "Dagangan yang kami jual juga cepat sekali ludesnya.”

Eka, penjual lain di pasar apung itu juga mengungkapkan hal serupa. Dia berharap hari itu dagangannya juga selaris-manis minggu sebelumnya. Menurutnya, keberadaan pasar apung ini penting bagi pelaku UMKM seperti dirinya.

"Saya tentu berdoa semoga rutinitas itu membuat keberadaan UMKM yang tergabung di Dinas Koperasi dan UMKM Kota Semarang ini ikut terangkat dan semakin sejahtera," kata dia sembari melayani pembeli.

Bagus, tapi Minim Ciri Khas

Untuk sebuah tempat wisata, Pasar Apung Semarang termasuk unik. Bagus. Banyak pengunjung mengiyakannya, termasuk Suharno yang kebetulan seperahu dengan saya. Dia yang datang bersama sang istri mengaku senang dengan lokawisata baru ini.

“Belanja di pasar apung ini sensasi baru bagi saya. Barang yang dijual standar, tapi ada yang murah. Namun, di sini ada tambahan pengalaman baru,” ucap dia, yang segera diiyakan istrinya.

Namun, hal itu agaknya nggak berlaku untuk Monica Ayu. Pengunjung yang datang jauh-jauh dari Kabupaten Demak itu mengaku agak kecewa lantaran kesulitan menemukan penganan atau oleh-oleh yang bisa menggambarkan Kota Semarang.

“Banyak kudapan, ada masakan berat, bahkan sayur dan buah. Seru! Namun, cukup disayangkan karena nggak ada makanan khas Semarang yang bisa dibeli," ujarnya, lalu membuka sebuah kantong plastik yang dia tenteng. "Ada ding, cuma satu (menunjukkan isi plastik), bandeng presto!"

Saya sepakat. Kalau ada yang perlu dikritik dari Pasar Apung Semarang, menurut saya adalah kekhasannya. Tanpa menawarkan keunikan, pasar itu mungkin hanya akan menjadi lokawisata semenjana di Kota ATLAS.

Perlu kamu tahu, Pasar Terapung Lok Biantan diburu wisatawan karena kekhasan tradisinya; mulai dari kebiasaan mengacungkan jempol untuk menawarkan dagangan hingga mengucap "jual" sebagai tanda kesepakatan transaksi. Selain itu, banyak sekali makanan khas yang ditawarkan, misalnya wadai pais labu, lontong kuah ikan haruan, atau buah mentega pada musim tertentu.

Namun, Pasar Apung Semarang bukanlah Pasar Terapung Lok Biantan. Butuh proses untuk membuat pasar apung ini memiliki ciri khas sendiri. Bukan begitu, Millens? (Kharisma Ghana Tawakal/E03)