Para Pemerah Susu dari Peternakan Sapi di Gunungpati

Para pemerah susu dari peternakan sapi di Gunungpati ini terbilang menarik. Alih-alih memelihara sapi di rumah masing-masing, mereka memilih memusatkan peternakan di sepetak lahan luas yang dikavling. Kenapa, ya?

Inibaru.id – Hujan belum juga reda saat saya memacu kendaraan ke Desa Sumurrejo, Gunungpati, Kota Semarang. Sudah kepalang tanggung dan nggak enak membatalkan janji dengan Kelompok Tani Ternak Rejeki Lumintu, saya pun nekat. Pakaian saya basah, tapi saya tiba tepat waktu di desa para pemerah susu sapi itu.

Saya tiba saat hujan sudah reda. Menjelang sore. Ragil menyambut saya dengan minuman hangat dan camilan alakadarnya. Dialah perwakilan dari kelompok tani yang hendak saya temui tersebut, yang hadir menggantikan Nurdi, ketua kelompok yang berhalangan hadir karena sedang sakit.

Sebentar berbasa-basi, Ragil pun mengajak saya ke sepetak lahan cukup luas yang diapit sawah di kanan-kiri. Di situlah sapi-sapi para anggota Kelompok Tani Ternak Rejeki Lumintu dipelihara untuk diperah susunya.

“Kami berdiri sudah lebih dari 20 tahun. Tepatnya kapan, saya lupa; tapi sekitar 1990-an,” ungkap Ragil membuka percakapan sembari memapak saya ke kavling-kavling kandang-kandang sapi didirikan, Jumat (25/2/2022) sore.

Memakai Lahan Bersama

Berbeda dengan kebanyakan peternak yang membuat kandang di pekarangan rumah, para peternak di Sumurrejo ini sengaja memusatkan lokasi peternakan di satu tempat. Mereka menyewa kavling di lahan tersebut sesuai dengan kebutuhan.

Ragil mengatakan, semula para peternak ini juga memiara ternak di rumah. Namun, kontur desa yang berundak-undak membuat penduduk desa bagian bawah merasa dirugikan lantaran kotoran sapi dari peternakan di desa bagian atas turun ke tempat mereka.

Merasa "tercurangi", mereka pun protes. Dari sinilah pemerintah setempat berinisiatif menyewa lahan datar di dekat desa. Lahan tersebut kemudian dibuat kavling dan para peternak dipersilakan memakai, tentu saja dengan pembagian yang adil sesuai kebutuhan.

“Peternak yang punya banyak sapi bisa ambil dua kavling sekaligus,” terang Ragil yang sembari menunjuk papan daftar anggota yang berjumlah 33 orang. " “Rata-rata peternak punya satu kavling dengan tiga sampai lima sapi."  

Sapi Hibah dari Pemerintah

Ragil mengungkapkan, sebagian peternak Kelompok Tani Ternak Rejeki Lumintu memelihara sapi hibah dari pemerintah, bukan milik pribadi. Sistemnya, sapi hibah dipinjamkan kepada peternak, tapi setelah beranak, anak sapi itu diberikan kepada peternak lain. Begitu seterusnya.

"Ternak sapi ini adalah usaha keluarga. Semua anggota keluarga saling membantu," tutur Ragil sembari membetulkan letak masker buff yang menutupi mulutnya. "Hasilnya, sapi jantan diambil dagingnya, yang betina diperah susunya."

Yang dikatakan Ragil memang benar. Saya sempat melihat sebuah keluarga yang tengah mengurus sapi-sapi mereka di kandang. Wahyu Nur Hidayat, salah seorang di antaranya. Dia ternyata adalah anak Nurdi, sang ketua kelompok. Bersama ibu dan adiknya, mereka sedang menyiapkan pemerahan susu.

Saat saya menyambangi mereka, adiknya tengah memandikan sapi, sedangkan Wahyu menguleni pakan. Sementara, ibunya sedang menyiapkan minyak goreng, pelumas pengganti lotion untuk puting sapi sebelum diperah.

Diperah Dua Kali Sehari

Wahyu memaparkan, sapi memang sebaiknya dimandikan sebelum diperah. Tujuannya, supaya rileks dan bersih, sehingga susu yang dihasilkan bisa lebih banyak dan steril. Saat memerah, lanjutnya, sapi juga harus diberi makan biar nggak berontak.

“Pakan sapi terdiri atas tiga jenis, yakni komboran (pakan basah) berisi konsentrat, potongan singkong dan kulitnya, serta ampas tahu; campuran kacang hijau dan kedelai giling; dan rumput hijau,” terang Wahyu sambil memberi pakan sapi-sapinya.

Pemerahan sapi, imbuhnya, biasa dilakukan dua kali sehari, yakni pagi antara jam enam sampai sepuluh dan sore sekitar jam tiga sampai lima. Jelang diperah, sapi dimandikan sembari pakan disiapkan. Lalu, selagi sapi makan, area puting sapi diolesi minyak goreng.

"Setelah semua tahap berjalan lancar, susu sapi diperah secara tradisional," terang Wahyu.

Tradisional yang dimaksud Wahyu adalah secara manual, tanpa bantuan mesin perah susu otomatis laiknya kebanyakan tempat perah susu sapi modern. Cara ini sengaja dilakukan Wahyu dkk agar sapi lebih aman.

"Cara tradisional membuat si pemerah tahu saat susu (yang diperah) mulai habis, biar sapi nggak kesakitan," terangnya.

Hasilkan Ratusan Liter Susu 

Berdasarkan penuturan Wahyu, saya tahu bahwa pemerahaan pagi biasanya menghasilkan susu lebih banyak ketimbang sore. Umumnya, seekor sapi menghasilkan 12-20 liter susu per hari, bergantung pada kondisi sapi saat itu.

"Sapi yang sudah tua atau habis melahirkan bakal berpengaruh pada hasil perah,” tutur Wahyu yang juga mengatakan bahwa susu yang dihasilkan nantinya bakal langsung disetor ke pengepul.

Oya, para peternak di Kelompok Tani Ternak Rejeki Lumintu biasanya menyetor susu langsung ke Susanti, satu-satunya pengepul di desa tersebut. Kebetulan sore itu saya sempat bertemu dengan sosok perempuan cekatan tersebut.

“Iya, mereka (pemerah susu sapi) datang ke mari pada pagi dan sore (untuk menjual susu hasil perahan), meski ada beberapa pemerah yang memilih menjual secara mandiri,” kata Susanti.

Dia mengungkapkan, Kelompok Tani Peternak Sapi Rejeki Lumintu bisa menghasilkan sekitar 750 liter susu per hari, yang selalu habis di tangan pembeli. Menurutnya, susu tersebut cukup diburu pelanggan karena para peternak berani menjamin kualitasnya oke.

"Sekali dalam sebulan orang Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Jateng mengecek secara menyeluruh kualitas produk kami," tandas Susanti  sembari menuang susu ke milk can, wadah khusus untuk susu sapi berbahan stainless steel.  

Kalau kamu tertarik membeli susu murni yang diperah langsung di peternakannya, mampirlah ke peternakan Kelompok Tani Ternak Rejeki Lumintu di Desa Sumurrejo ini ya, Millens! Hm, susu dikasih kopi enak, tuh! (Kharisma Ghana Tawakal/E03)