Sederet Mitos Larangan Pernikahan Jawa, Kamu Percaya?

Sederet Mitos Larangan Pernikahan Jawa, Kamu Percaya?
Ada banyak mitos larangan pernikahan adat Jawa yang masih dipercaya hingga sekarang. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)

Ada banyak sekali mitos larangan pernikahan Jawa yang dipercaya hingga sekarang. Mitos-mitos ini kabarnya bisa mempengaruhi keharmonisan pasangan hingga soal rezeki. Apa saja ya mitos-mitos tersebut?

Inibaru.id – Pernikahan dengan adat Jawa memang sangat menarik. Ada banyak aturan yang harus dipatuhi. Bahkan, ada juga lo sederet mitos larangan pernikahan Jawa yang nggak boleh diabaikan.

Kamu pasti pernah mendengar soal weton, hari baik, hingga bibit, bebet, dan bobot kalau sudah masalah mencari jodoh atau pernikahan di adat Jawa. Konon sih ya, hal ini bisa mempengaruhi kelanggengan pernikahan hingga hal-hal lain seperti keturunan, rezeki, kesehatan, dan lain-lain.

Nah, biar kamu nggak semakin penasaran, yuk simak apa saja ya mitos larangan pernikahan Jawa!

1.       Mitos Anak Pertama dan Anak Ketiga

Banyak orang tua Jawa yang sangat memperhatikan pernikahan antara anak pertama dengan anak ketiga. Jadi, maksudnya adalah, suami adalah anak pertama dari suatu keluarga dan istri adalah anak ketiga dari keluarga lainnya atau sebaliknya. Dalam budaya Jawa, hal ini disebut sebagai ‘jilu’ alias ‘siji karo telu’ yang artinya adalah satu dan tiga.

Konon, pasangan ‘jilu’ ini kabarnya bakal menjalani pernikahan dengan penuh perjuangan. Bahkan, ada yang percaya kalau pasangan ini sering tertimpa kesialan dengan rumah tangga yang nggak akur, mengalami perceraian, dan lain-lain.

Kalau pasangan tetap memaksakan diri menikah meski sudah melanggar larangan ini, bisa jadi bakal sering mengalami masalah. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)
Kalau pasangan tetap memaksakan diri menikah meski sudah melanggar larangan ini, bisa jadi bakal sering mengalami masalah. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)

2.       Mitos ‘Siji Jejer Telu’

Kalau mitos yang ini adalah jika suami, istri, serta salah satu dari orang tua keduanya adalah anak pertama. Kalau pasangan ini tetap menikah, kabarnya rumah tangganya juga bakal dilalui dengan penuh perjuangan. Orang tua yang percaya dengan mitos ini bisa saja melarang anaknya menikah jika kondisinya seperti ini.

3.       Perhitungan Weton atau Hari Lahir Pasangan Suami-Istri

Weton adalah perhitungan yang didasari oleh hari lahir seseorang berdasarkan penanggalan Jawa. Contohlah, anak yang lahir pada Sabtu Pahing disebut-sebut punya angka paling tinggi. Sejumlah weton kabarnya nggak cocok untuk dipasangkan. Nah, kalau pasangan ternyata nggak cocok weton-nya, bisa jadi dilarang menikah lo oleh orang tuanya.

Konon sih ya, kalau tetap memaksakan untuk menikah, bisa jadi pasangan ini bakal sering mengalami kesialan atau rumah tangganya nggak harmonis, lo.

4.       Dilarang Menikah di Bulan Suro

Kalau mitos yang ini sangat dipercaya masyarakat Jawa hingga sekarang. Di bulan Suro penanggalan Jawa atau bulan Muharram di penanggalan Islam, biasanya nggak boleh diadakan pernikahan atau hajatan lainnya. Kalau nggak, pernikahannya dipercaya bakal berakhir dengan bencana.

Mitos ini diyakini berasal dari kepercayaan bahwa di bulan ini, penguasa Laut Selatan Nyi Roro Kidul juga sedang melakukan hajatan. Masyarakat nggak boleh ‘menandingi’ hajatan ini kalau nggak ingin ikut-ikutan kena sial.

Dari semua mitos larangan pernikahan Jawa itu, kamu masih percaya dengan yang mana, nih, Millens? (Hip/IB09/E05)