Inibaru.id - Pernahkah kamu melihat kerumunan warga di tepi sungai atau vihara yang sibuk melepaskan ribuan ikan dan burung ke alam bebas? Kalau pemandangan itu muncul menjelang Tahun Baru Imlek atau hari besar keagamaan Buddha, berarti kamu sedang menyaksikan ritual Fang Sheng.
Bagi warga keturunan Tionghoa, khususnya penganut Buddha Mahayana, Fang Sheng bukan sekadar aktivitas melepas hewan. Ada filosofi mendalam tentang kasih sayang dan harapan di balik setiap kecipak air dan kepak sayap hewan-hewan tersebut.
Secara etimologi, Fang Sheng berasal dari bahasa Tiongkok; Fang berarti melepas, sementara Sheng berarti kehidupan. Jadi, Fang Sheng adalah upaya membebaskan makhluk hidup yang terancam nyawanya seperti hewan yang akan disembelih atau yang terkurung kembali ke habitat aslinya.
Tradisi ini berakar kuat pada ajaran Buddha yang menekankan kasih sayang universal (metta) kepada semua makhluk tanpa kecuali. Dengan memberi kesempatan kedua bagi hewan untuk hidup bebas dan bahagia, si pelaku ritual dipercaya akan mendapatkan karma baik berupa keberuntungan dan ketenangan batin.
Antara Ikan, Burung, dan Simbolisme Penyu
Meski yang paling sering kita lihat adalah pelepasan ikan lele atau burung pipit, pilihan hewan dalam Fang Sheng ternyata punya makna simbolis masing-masing, Gez!
Ikan Mas
Sering dikaitkan dengan legenda Tiga Dewa Dapur yang menunggangi ikan mas untuk bertemu Kaisar Langit. Ikan mas juga melambangkan kelimpahan dan kesuksesan.
Penyu atau Kura-kura
Hewan ini dikenal memiliki umur yang sangat panjang. Melepaskan penyu ke laut sering kali diniatkan sebagai doa atau permohonan kepada Tuhan agar si pelepas atau keluarganya diberikan kesehatan dan umur yang panjang pula.
Burung
Melambangkan kebebasan dan pelepasan beban pikiran agar jiwa terasa lebih ringan.
Kapan Ritual Ini Digelar?
Bukan hanya ketika Imlek, Fang Sheng juga dilaksanakan pada momen-momen penting lain dalam kalender lunar, seperti Qing Ming (Cheng Beng) dan Gui Yue (Cit Cwee). Nggak jarang, ritual ini juga dilakukan secara personal sebagai bentuk syukur saat sebuah keinginan terwujud atau sebagai bagian dari ritual tolak bala (membuang sial).
Di Tanjung Redeb, Kalimantan Timur, misalnya, sudah menjadi tradisi tahunan bagi ratusan warga Tionghoa untuk berkumpul di tepi Sungai Segah guna melepaskan ribuan bibit ikan sebelum gong Imlek berbunyi. Suasana haru dan sukacita biasanya menyatu saat makhluk-makhluk kecil itu kembali ke pelukan alam.
Bukan Asal Lepas
Meski niatnya mulia, para ahli ekologi dan pemuka agama masa kini sering mengingatkan pentingnya aspek lingkungan dalam Fang Sheng. Melepaskan spesies invasif (seperti ikan piranha atau kura-kura Brazil) ke ekosistem lokal yang salah justru bisa merusak alam.
Oleh karena itu, banyak komunitas kini mulai mempraktikkan "Fang Sheng Bijak". Caranya dengan memastikan hewan yang dilepas adalah spesies asli (native) dan dalam kondisi sehat agar mereka benar-benar bisa bertahan hidup tanpa merusak habitat hewan lain. Dengan begitu, makna kecintaan pada alam benar-benar terwujud secara nyata, bukan sekadar simbolis.
Bagaimana, Gez? Tertarik ikut menebar kebaikan lewat tradisi unik ini? Ingat, yang paling penting bukan jumlah hewannya, tapi ketulusan hati saat melakukannya. (Siti Zumrokhatun/E05)
