Diponegoro Bukanlah Nama Orang, Tapi Gelar

Diponegoro Bukanlah Nama Orang, Tapi Gelar
Salah satu patung Diponegoro yang menghiasi Alun-Alun Magelang. (Flickr)

Saking fenomenalnya perjuangan Pangeran Diponegoro dalam melawan penjajah, namanya diabadikan jadi nama universitas, nama jalan, stadion, dan lain-lain. Tapi, kamu tahu nggak kalau Diponegoro itu bukan nama aslinya? Yap, ternyata Diponegoro adalah gelar kepangeranan.

Inibaru.id – Nama Pangeran Diponegoro pasti sudah nggak asing bagi orang Indonesia. Saking terkenalnya, Diponegoro diabadikan menjadi nama jalan di sejumlah kota. Kamu juga bisa menemukan Universitas Diponegoro di Semarang, Jawa Tengah.

Tapi, kamu tahu nggak sih kalau Diponegoro sebenarnya bukanlah nama orang? Ternyata, Diponegoro adalah gelar dari keraton, lo, Millens.

Jadi Diponegoro atau Dipanagara merupakan sebuah gelar kepangeranan yang diberikan kepada para putra raja dari Kerajaan Mataram, baik itu Mataram Yogyakarta ataupun Mataram Surakarta.

Jadi, siapa dong nama asli Pangeran Diponegoro? Ternyata, laki-laki yang dikenal karena memimpin Perang Jawa pada 1825 hingga 1830 memiliki nama kecil Mustahar. Saat menginjak remaja, nama ini berganti menjadi Raden Mas Antawirya.

Diponegoro merupakan gelar bangsawan yang diberikan untuk putra Raja kala itu. (Instagram/Ronaldvicarius)
Diponegoro merupakan gelar bangsawan yang diberikan untuk putra Raja kala itu. (Instagram/Ronaldvicarius)

Dia mendapatkan gelar Diponegoro karena ayahnya, Hamengku Buwono III naik tahta menjadi Raja dari Kesultanan Mataram. Nama resminya sebenarnya lebih panjang, Millens, yaitu Bendara Pangeran Harya Dipanegara.

Yang menarik, sebenarnya ada beberapa orang yang sudah memiliki gelar Diponegoro sebelumnya. Jadi, kalau kita menyebut nama Diponegoro, aslinya kita merujuk ke tiga orang, Millens.

Jauh sebelum Diponegoro yang kita kenal hidup, ada Diponegoro lain yang juga terlibat dalam peperangan. Dia adalah putra dari Paku Buwana I yang memberontak pada Perang Suksesi Jawa Kedua. Tapi, dia dilaporkan “menghilang” di Lumajang pada 1723.

Selain itu, Ratu Bendara, seorang putri dari Sultan Mangkubumi juga dilaporkan menikah dengan seorang bangsawan Surakarta bernama Pangeran Diponegoro. Pangeran ini wafat pada 1878 dan dikebumikan di Kuncen, Yogyakarta.

Menanam pohon sawo menjadi cara berkomunikasi keturunan Diponegoro. (Instagram/Bali Tabulampot)
Menanam pohon sawo menjadi cara berkomunikasi keturunan Diponegoro. (Instagram/Bali Tabulampot)

Setelah itu, gelar kepangeranan Diponegoro ini nggak digunakan lagi oleh Kesultanan Mataram Yogyakarta dan Surakarta sampai sekarang. Alasannya terkait dengan kisah heroiknya dalam mengobarkan Perang Jawa.

Setelah perang tersebut berakhir, keturunan dan keluarga Pangeran Diponegoro diteror habis-habisan oleh penjajah. Banyak dari mereka yang memilih untuk menyembunyikan jati dirinya agar nggak dihabisi. Keluarga keraton pun akhirnya memilih untuk nggak lagi menyebut namanya agar selamat dari teror tersebut.

Omong-omong, keturunan dan pengikut Diponegoro punya cara unik untuk bisa saling mengenali satu sama lain meski menyembunyikan jati dirinya. Caranya, dengan menanam pohon kemuning di halaman rumahnya.

Nggak hanya itu, mereka biasanya juga menanam pohon sawo di sebelah kanan depan pintu masuk rumah. Terakhir, jika umumnya orang Jawa membuat sumur di sebelah kiri rumah, mereka membuatnya di sisi kanan.

Kisah tentang perjuangan Pangeran Diponegoro memang selalu menarik untuk diulas, ya Millens? (Nat, Ens, Sol/IB32/E07)