Inibaru.id – Kalau kamu kebetulan singgah di Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal pada bulan Ramadan, pasti bakal mendengar suara khas setiap dini hari sebelum jam sahur. Suara itu bukan alarm ponsel, melainkan dentingan kentongan bambu, angklung, dan bunyi panci yang dipukul ramai-ramai.
Suara khas itu berasal dari tradisi yang sudah eksis bertahun-tahun dan dikenal dengan nama ngangklang. Yang melakukannya adalah anak-anak muda untuk membangunkan warga agar segera bangun dan melakukan santap sahur.
Dini hari, sekitar pukul 02.00 WIB atau 03.00 WIB, kelompok remaja akan berkeliling kampung sambil memainkan alat musik sederhana. Kentongan bambu jadi bintang utama, tapi seringkali dikombinasikan dengan angklung, ember bekas, sampai panci dapur. Irama yang dihasilkan memang sederhana, tapi justru di situlah keseruannya. Nadanya terdengar riuh, kompak, dan penuh semangat.
Bagi warga Kaliwungu, ngangklang bukan sekadar rutinitas Ramadan. Ini sudah jadi ruang kebersamaan, ajang kreativitas, sekaligus hiburan murah meriah di tengah sunyinya malam. Anak-anak muda melakukan hal kreatif dan positif, warga pun terbangun dengan senyuman karena merasa terbantu.
Dari tradisi kampung jadi festival tahunan
Yang bikin tradisi ini semakin menarik, ngangklang tidak berhenti di jalanan kampung. Sejak 2014, tradisi ini bahkan “naik panggung” lewat Festival Ngangklang Gus Alam Cup yang rutin digelar jelang Lebaran, biasanya sekitar tanggal 26 Ramadan. Lokasi festival ini dipusatkan di pelataran Kantor Kecamatan Kaliwungu dan diikuti puluhan kelompok remaja dari berbagai desa.
Festival ini bukan cuma soal siapa yang paling berisik atau paling cepat membangunkan orang sahur. Panitia menilai musikalitas, kekompakan gerak, sampai kostum yang dikenakan peserta. Hadiahnya pun serius, berupa uang jutaan rupiah hingga paket wisata, lengkap dengan hiburan seperti pesta kembang api yang disaksikan ratusan warga.
Camat Kaliwungu, Nung Tubeno, menegaskan pentingnya festival ini sebagai upaya pelestarian budaya. “Festival lomba ngangklang ini menjadi salah satu kegiatan untuk menjaga tradisi lokal, yang mana selalu eksis dilakukan oleh para generasi muda pada bulan suci Ramadan untuk membangunkan masyarakat untuk sahur,” ujarnya sebagaimana dinukil dari situs resmi Kendalkab, Minggu (16/4/2023)
Sementara itu, penggagas festival sekaligus tokoh asal Kaliwungu, Alamudin Dimyati Rois atau yang akrab disapa Gus Alam, menyebut ngangklang sebagai identitas warga setempat. “Ngangklang adalah cara masyarakat Kaliwungu membangunkan orang sahur. Alat yang biasa digunakan adalah kentongan, panci, angklung, dan alat musik tradisional lainnya,” tuturnya.
Di tengah gempuran alarm digital dan notifikasi ponsel, ngangklang hadir sebagai pengingat bahwa kebersamaan masih punya tempat penting dalam kehidupan masyarakat. Tradisi ini bukan cuma soal bangun sahur, tapi juga soal merawat budaya, mempererat warga, dan memberi ruang ekspresi bagi generasi muda.
Selama bunyi kentongan masih bergema tiap Ramadan lewat tradisi ngangklang, selama itu pula semangat warga kampung di Kaliwungu akan terus hidup. Keren ya, Gez?(Arie Widodo/E07)
