Inibaru.id - Tiga tahun terakhir, sepeda listrik perlahan mengubah lanskap mobilitas perkotaan di Jawa Tengah (Jateng). Lebih dari sekadar alat transportasi untuk aktivitas sehari-hari, kendaraan bertenaga baterai itu sekarang menjadi simbol gaya hidup urban yang praktis, hemat dan ramah lingkungan.
Fenomena sepeda listrik terlihat jelas ketika Ofero memperkenalkan Stareer 5 Lithium di Semarang. Perkembangan desain dan performanya menarik minat warga yang mulai menjadikan sepeda listrik bagian dari keseharian mereka.
Manager Area Ofero Jateng, Rikko Ariyanto, menyatakan Stareer 5 ini penyempurnaan dari versi sebelumnya, yang mampu menempuh jarak hingga 130 kilometer berkat dual baterai yang terpasang.
"Kita lihat kota-kota besar saat ini untuk kesibukan pekerjaan dan lain-lain. Kemudian juga bisa untuk ibu rumah tangga ke pasar maupun jemput anak sekolah. Stareer 5 ini lebih untuk kalangan dewasa untuk menunjang aktivitas sehari-hari," ujar Rikko kepada Inibaru.id, Minggu (1/2/2026).
Desain Stareer 5 juga lebih menonjol dibanding seri sebelumnya. Tren konsumen saat ini menunjukkan preferensi pada bentuk yang futuristik, modern, dan dinamis, sehingga tampilan sepeda listrik menjadi salah satu pertimbangan utama bagi pembeli.
"Sebelumnya desain kami lebih klasik dan feminin, kali ini kami keluarkan desain futuristik yang lebih maskulin, khususnya untuk konsumen laki-laki," imbuhnya.
Sejauh ini, Ofero telah mengeluarkan delapan tipe sepeda listrik, tapi Stareer 3 menjadi tipe yang paling diminati oleh masyarakat. Tercatat pada 2025, penjualan Strareer 3 di Indonesia mencapai 2.300, termasuk 1.230 unit di Jateng.
Meski begitu, Rikko mengakui bahwa di awal kemunculannya, banyak masyarakat masih ragu menggunakan sepeda listrik sebagai alternatif transportasi. Kekhawatiran mereka biasanya terkait jarak tempuh dan ketersediaan layanan servis jika terjadi kerusakan.
Seiring berjalannya waktu, sepeda listrik mulai menembus keseharian warga urban sebagai moda transportasi praktis dan efisien. Selama tiga tahun terakhir, tren ini semakin terlihat jelas di jalanan perkotaan, dari pelajar, ibu rumah tangga hingga pekerja.
"Untuk tipe dengan harga Rp4-5 juta, biasanya digunakan pelajar SMP dan SMA untuk aktivitas sekolah," ungkap Rikko. "Sementara untuk tipe high-end, pengguna umumnya orang-orang dengan kesibukan harian seperti pekerja atau ibu rumah tangga yang pergi ke pasar."
Perubahan gaya hidup warga urban salah satunya dirasakan Abdul Salam yang memutuskan beralih dari motor bensin ke sepeda listrik. Sejauh ini dia belum menemukan kendala yang berarti sejak memakai sepeda listrik sebagai moda penunjang aktivitas sehari-harinya.
"Dulu saya pakai sepeda motor Vario 160. Karena tertarik dengan model yang praktis, saya jual motor lama dan beralih ke sepeda listrik. Menurut saya lebih irit dibanding motor konvensional," tandasnya.
Sepeda listrik hadir bukan sekadar sebagai alat transportasi, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup warga urban di Semarang. Menurutmu, sudah bisakah motor listrik menggantikan motor konvensional. (Sundara/E10)
