Kenaikan BBM Jadi Pukulan Berat Produsen Telur di Jateng

Kenaikan BBM Jadi Pukulan Berat Produsen Telur di Jateng
Ilustrasi: Para petani telur terancam merugi besar karena kenaikan BBM dan anjloknya harga telur di pasaran. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Harga telur sudah turun, tapi kenaikan BBM membuat harga produksi telur meningkat. Artinya, petani akan rugi besar jika harga telur di pasar nggak segera distabilkan. 

Inibaru.id - Mungkin selama ini kita hanya bisa mengeluh melihat harga-harga bahan pokok terkadang ada pada titik yang nggak masuk akal alias mahal banget. Namun, di balik itu, sejatinya ada peternak unggas yang juga sedang memperjuangkan kestabilan harga.

Nah, di tengah upaya menstabilkan harga itu, kenaikan BBM beberapa hari lalu rupanya langsung berdampak serius bagi para petani unggas penyuplai telur ini, nggak terkecuali di Jawa Tengah. Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Jateng mengaku cemas dengan kondisi tersebut.

“Ini (penaikan harga BBM) sungguh nggak sejalan dengan wacana penurunan harga telur yang sempat dikeluarkan pemerintah,” keluh Ketua Pinsar Jateng Parjuni pada Minggu (4/9).

Menurutnya, para peternak nggak akan cemas dan bisa menerima kalau harga-harga komponen produksi peternakan meningkat lantaran terdampak kenaikan BBM, asalkan diimbangi dengan harga jual yang seimbang.

"Jangan sampai harga jual kembali berada di bawah harga pokok produksinya. Peternak bisa semakin tercekik jika wacana penurunan harga telur tidak berbanding lurus dengan penurunan harga pokok produksi," tegasnya.

Tambahan Biaya Ekspedisi

Untuk pengiriman telur, pihak ekspedisi meminta biaya tambahan sebesar 12 persen imbas dari kenaikan BBM. (MI/Antara/Asep Fathulrahman)
Untuk pengiriman telur, pihak ekspedisi meminta biaya tambahan sebesar 12 persen imbas dari kenaikan BBM. (MI/Antara/Asep Fathulrahman)

Perlu kamu tahu, di tengah upaya pemerintah menekan harga telur, para peternak unggas saat ini mulai terhimpit oleh kebijakan pihak ekspedisi atau pengiriman yang meminta tambahan biaya sebesar 12 persen imbas dari kenaikan BBM.

Tambahan biaya 12 persen itu pun menjadi beban. Sementara, penambahan biaya pengiriman telur nggak mungkin dibebankan kepada konsumen. Terkait hal ini, Asosiasi Peternak Petelur Boyolali Bersatu mengaku belum menyepakati penambahan biaya ekspedisi tersebut, sehingga banyak telur nggak bisa dikirim.

"Masa ketahanan telur terbatas, sehingga stok komoditas melimpah di daerah. Harga pun anjlok. Kalau petani terus merugi, bisa jadi gelombang pengosongan kandang petelur berpotensi terulang kembali," tegas Ketua Asosiasi Peternak Petelur Boyolali Bersatu Krishandrika Immanuel Raharjo.

Sehari usai kenaikan BBM, peternak berskala besar yang biasanya menyasar pasar luar kota nggak bisa mengirimkan telurnya, padahal produksi telur nggak akan berhenti. Menurut Krishandrika, kalau nggak ada kesepakatan peternak-pembeli, pilihan peternak adalah mencari ekspedisi lain atau ke pasar lokal.

"Pasar lokal ini jumlahnya terbatas. Jadi, kemungkinan akan ada perang harga ke pasar lokal, meski asosiasi sudah melarang," tegasnya

Berpotensi Merugi Lagi

Ilustrasi: Peternak telur mulai mulai merugi kembali. Dalam jangka waktu panjang, akan terjadi penurunan populasi ternak lagi. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)
Ilustrasi: Peternak telur mulai mulai merugi kembali. Dalam jangka waktu panjang, akan terjadi penurunan populasi ternak lagi. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Hingga Minggu siang harga jual telur adalah Rp 22.000-Rp 23.800 per kilogram. Hal ini jauh berbeda dengan pertengahan Agustus lalu yang mencapai Rp 27.500 per kilogram. Ini bikin khawatir, mengingat harga pokok produksi telur diperkirakan mencapai Rp 24.000-Rp 25.000 ribu per kilogram.

Dilihat dari angkanya, Krishandrika menegaskan bahwa peternak mulai merugi kembali. Dampak lanjutannya adalah terjadinya penurunan populasi ternak, apalagi jika berlangsung dalam waktu yang panjang.

"Kalau dibiarkan, gelombang penutupan kandang bisa terjadi lagi karena pendapatan mereka mulai minus. Padahal, beberapa waktu terakhir sempat timbul semangat bisa meningkatkan populasi dengan harga yang membaik, lo," ungkap Kris.

Oya, melonjaknya harga telur beberapa waktu lalu memang terjadi karena berkurangnya populasi ternak. Saat itu, tata-rata peternak mengalami penurunan populasi 10-30 persen imbas dari hancurnya harga telur setahun terakhir karena daya beli masyarakat yang rendah di tengah pandemi Covid-19.

Peternak terpaksa mengurangi populasi agar kandang-kandang mereka bisa dipertahankan. Menurut Kris, seharusnya dia dan kawan-kawan bisa menambah nilai jual sekarang. Namun, dampak kenaikan BBM membuat harga pokok produksi ikut naik.

"Butuh campur tangan pemerintah untuk menjaga agar kami bisa tetap eksis di dunia yang kami geluti ini, khususnya para peternak kecil," tandasnya.

Kebijakan apa pun, terutama yang berimbas langsung ke pasar mikro, memang harus segera diantisipasi pemerintah karena yang terdampak adalah mereka yang ada di akar rumput. Semoga masalah ini bisa segera teratasi tanpa mencederai siapa pun ya, Millens! (Siti Khatijah/E03)

Artikel ini telah terbit di Media Indonesia dengan judul Peternak Unggas Jawa Tengah Khawatir Penaikan BBM Berdampak pada Pengosongan Kandang