Jalan Terjal Profesi Tukang Pijat Tradisional di Kota Semarang

Jalan Terjal Profesi Tukang Pijat Tradisional di Kota Semarang
Urip Muchjajad sedang memijat seorang pasiennya. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Saat pasien datang, hanya butuh waktu satu jam bagi seorang tukang pijat tradisional di Kota Semarang untuk memperoleh bayaran Rp 60 ribu. Bayaran ini cukup, tapi kedatangan pasien nggak pernah pasti. 

Inibaru.id – Begitu lulus SMA pada 2010, Urip Muchjajad langsung mengikuti pelatihan memijat di Pemalang. Ijazahnya bahkan belum keluar kala itu. Selanjutnya, selama 1,5 tahun lelaki asal Purbalingga, kabupaten di sebelah selatan Pemalang, tersebut menjalani pelatihan itu.

Entah apa yang akan terjadi sekarang ini andai dia melewatkan pelatihan yang diadakan Dinas Sosial Pemalang tersebut kala itu. Urip mengaku nggak pernah membayangkannya. Yang pasti, sekarang dia bisa menjalani profesi sebagai tukang pijat di bawah bendera Klinik Pijat Tunanetra Sehat Utama. 

Sejak lulus sebagai pemijat berijazah, dia memang langsung melakoni pekerjaan sebagai tukang pijat, hingga akhirnya berhasil mendirikan klinik yang beralamat di Jalan Kawung No 65 Tlogosari Kulon, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, itu.

Hampir tiap hari dia berhadapan dengan pasien yang mengeluhkan rasa capai hingga pegal-pegal. Namun, alih-alih gusar, dia justru merasa senang karena berarti dapur di rumahnya bisa tetap mengebul. 

"Sejak lulus SMA, inilah pekerjaan saya. Jadi, hidup saya terbantu (selama ada pasien)," kata Urip yang saya temui di tempat praktiknya, belum lama ini.

Bahagia saat Pasien Sembuh

Sertifikat kompetensi Urip Muchjajad. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)
Sertifikat kompetensi Urip Muchjajad. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Selama mengikuti pelatihan, selain teknik pemijatan, Urip mengaku juga dibekali pelbagai materi mendetail terkait struktur tulang, karakter otot, anatomi tubuh, dan lain-lain. Inilah yang diakuinya kian membuat dirinya semakin berkembang dari waktu ke waktu.

Pengetahuan itulah yang kini dia praktikkan di kliniknya. Menurut Urip, nggak sedikit orang yang datang lagi setelah dipijatnya lantaran mengaku kondisi badannya membaik. Merekalah yang kemudian menjadi pelanggan tetap Urip.

Alhamdulillah. Ikut senang kalau ada pasien yang sembuh," tutur pemuda murah senyum tersebut.

Terkait hal tersebut, dia pun bercerita tentang pengalamannya menangani pasien yang mengalami strok ringan belum lama ini. Pasien tersebut, paparnya, mengaku mengalami perubahan positif, sehingga rutin datang untuk dipijat.

"Terakhir ke sini beliau sudah bisa nyetir mobil sendiri. Rasanya bahagia saat pasien sembuh,” ungkapnya.

Didera Rasa Bosan

Urip Muchjajad, lelaki asal Purbalingga yang mengadu nasib ke Semarang dengan menjadi tukang pijat tradisional. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)
Urip Muchjajad, lelaki asal Purbalingga yang mengadu nasib ke Semarang dengan menjadi tukang pijat tradisional. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Urip mengaku senang menjalani rutinitas sebagai pemijat. Namun begitu, nggak jarang dirinya juga mengalami kejenuhan karena harus terus menghadapi pasien saban hari. Saat perasaan bosan itu datang, biasanya dia bakal memilih keluar sejenak untuk sekadar menyegarkan pikiran.  

"Kalau keluar paling sebentar, karena saya sering khawatir kalau-kalau ada pasien yang sakitnya parah dan butuh segera dapat penanganan," ujar Urip.

Selain keluar rumah, dia juga berusaha membunuh rasa bosannya dengan bermain gim di gawainya. Permainan yang paling digemarinya adalah catur daring. Selain itu, Urip juga memelihara beberapa burung di teras rumahnya untuk menyalurkan hobi.

"Sebelum pandemi, saya juga sering ke luar kota. Manggung. Ngeband dan main orkes sama teman-teman," aku Urip, lalu tertawa.

Dihantui Pandemi

Layanan pijat klinik 'Sehat Utama' plus tarif yang dipatok. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)
Layanan pijat klinik 'Sehat Utama' plus tarif yang dipatok. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Selama menjalani profesi sebagai tukang pijat, Urip mengaku nggak banyak melewati jalan yang terjal. Jumlah pasien yang terbilang fluktuatif setiap hari nggak dianggapnya sebagai kendala. Rasa bosan juga bisa diatasi. Rintangan terbesar baginya justru berasal dari situasi pandemi Covid-19 ini.

"Awal pandemi saya sempat tutup tiga bulan karena menaati aturan pemerintah. Takut juga. Saya pikir bakal selesai dalam waktu dekat, ternyata lanjut sampai lebih dari setahun; akhirnya buka lagi, deh!" kenang Urip.

Kendati sudah buka lagi, situasi rupanya nggak lantas membaik. Laiknya kebanyakan bisnis jasa yang ada di Indonesia, klinik pijat Urip juga mengalami penurunan pendapatan yang lumayan signifikan selama pandemi.

"Saya yang biasanya menangani sekitar 10 pasien, selama pandemi maksimal cuma dapat 4-5 pasien sehari," lanjutnya.

Namun demikian, dia tetap berusaha menjalani usahanya tersebut dengan sebaik-baiknya. Urip juga nggak berusaha untuk menaikkan harga atau hal lain yang merugikan para pelanggannya. Untuk sekali pijat berdurasi sekitar satu jam, dia membanderol Rp 60 ribu saja per pasien.

Tertarik untuk memakai jasa pijatnya? Silakan datang langsung ke kliniknya ya, Millens. Oya, kamu juga bisa mengundang Urip untuk memijat langsung di rumahmu dengan biaya Rp 80 ribu saja, kok. Murah, bukan? (Kharisma Ghana Tawakal/E03)